Harga BBM Non-Subsidi Naik Pertamax Berpotensi Tembus Rp20 Ribu
PT Pertamina (Persero) bersama penyedia BBM swasta seperti Shell Indonesia, BP-AKR, dan Vivo resmi menyesuaikan harga sejumlah produk BBM non-subsidi per 12 September 2026. Penyesuaian bertahap ini dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dunia akibat ketegangan геоpolitik di Selat Hormuz.
Kenaikan harga minyak mentah global menembus angka US$108 per barel pada perdagangan Kamis (10/9/2026), yang menjadi level tertinggi sejak Mei 2026. Lonjakan tersebut berdampak langsung pada penyesuaian harga jual BBM nonsubsidi di tanah air.
Di SPBU Pertamina, BBM jenis Pertamax Turbo naik menjadi Rp19.600 per liter dari sebelumnya Rp18.300. Pertamax Green 95 disesuaikan menjadi Rp19.150 per liter, Dexlite menjadi Rp23.700 per liter, serta Pertamina Dex naik ke angka Rp25.200 per liter. Adapun Pertamax bertahan di Rp15.950 per liter, serta BBM subsidi seperti Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.
SPBU swasta juga mencatatkan lonjakan harga yang sejalan. BP Ultimate kini dijual Rp19.330 per liter, sementara produk diesel dari BP dan Shell V-Power Diesel kompak dipatok pada harga Rp25.420 per liter. Untuk bensin jenis RON 92 dari penyedia swasta seperti BP 92 dan Vivo Revvo 92 masing-masing dibanderol Rp16.130 per liter.
Meningkatnya tensi konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama fluktuasi pasar energi tersebut. Pertamina Patra Niaga memperkirakan harga Pertamax bisa merangkak naik lebih tinggi apabila situasi geopolitik di Timur Tengah tak kunjung mereda.
"Harga Pertamax, Dex, dan lain-lain itu akan berkisaran antara di angka Rp18 ribu sampai Rp20 ribuan karena tidak ada, belum ada, indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia," ujar Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto.
Eko menilai gangguan pada jalur perdagangan Selat Hormuz memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap ketersediaan dan stabilitas harga bahan bakar secara global.
"Perang di Timur Tengah, di Selat Hormuz ini, ternyata dampaknya secara global selain ketersediaan energi di dunia, itu juga harga yang saat ini belum stabil ya," ujar Eko.
Dampak penyesuaian ini memicu pembengkakan biaya transportasi harian publik serta mendorong perusahaan logistik menyesuaikan tarif pengiriman. Tim Kastrad BEM KMF Kedokteran UNJANI merespons kondisi ini dengan mendesak pemerintah agar mengevaluasi kebijakan subsidi BBM dan mempercepat transisi energi bersih guna menjaga daya beli masyarakat.
"Kalau berharap turun 70 dolar per barel atau 60 dolar per barel sebelum terjadinya krisis geopolitik, ya kita doakan mungkin semoga itu bisa terjadi dalam waktu segera karena kalau tidak kondisi ini akan berdampak seperti sekarang," ujar Eko.
Pergerakan acuan minyak Brent tercatat menanjak 1 persen menjadi US$108,68 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di posisi US$103,45 per barel pada penutupan pekan ini.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow