Prabowo Paparkan Pencapaian Kinerja Kabinet dalam Sidang Paripurna

Smallest Font
Largest Font

Presiden Prabowo Subianto memaparkan sejumlah capaian signifikan pemerintahannya dalam Sidang Kabinet Paripurna yang digelar di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/7/2026). Dalam kesempatan tersebut, Kepala Negara menyoroti keberhasilan menjaga ketahanan pangan hingga penguatan sistem perlindungan sosial nasional.

Prabowo menyampaikan bahwa Indonesia berhasil memperkuat ketahanan pangan nasional hingga mencapai kembali swasembada beras. Selain itu, cadangan beras nasional saat ini mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia.

Pemerintah juga menyalurkan berbagai program dukungan kesejahteraan seperti Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), bantuan bencana, subsidi LPG, listrik, serta subsidi dan kompensasi solar dan pertalite. Fasilitas lain mencakup diskon tarif kereta api, angkutan laut, bantuan pangan, hingga program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Makan bergizi gratis, MBG 74.560.000 siswa, ibu hamil, menyusui, balita, dan lanjut usia. Cek kesehatan gratis, 130.800.000 orang. Kalau ini pertama kali cek kesehatan gratis. Kita cek, tahu kondisi, tahu masalah, tahu apa yang kita harus kerjakan sekarang," kata Presiden Prabowo Subianto.

Pemerintah turut menginvestasikan anggaran pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui skema beasiswa, sekolah unggul garuda, dan program magang bagi lulusan baru.

"Jangan anggap enteng kita terus. We are strong, we are rich, and we will be richer. Kita akan lebih kaya," ujar Prabowo.

Prabowo menegaskan keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja keras bersama yang berkesinambungan sejak masa awal kemerdekaan.

"Jadi ini saya tegaskan, ternyata kita punya sistem perlindungan sosial, negara kesejahteraan, welfare state, salah satu terkuat di dunia. Kalau kita lihat program satu-satu, dan sebagian program-program ini dilaksanakan oleh Presiden-Presiden sebelum kita, pemerintah sebelum kita," kata Prabowo.

Di sisi lain, pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga soroti posisi duduk Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang tidak berdampingan pada sidang tersebut. Ia menilai perbedaan posisi duduk dan ekspresi wajah Gibran yang tampak tegang saat duduk di samping Airlangga Hartarto memicu spekulasi publik.

"Wajar bila hal itu menimbulkan spekulasi politik. Publik bisa saja menilai hal itu sebagai indikasi hubungan presiden dan wakil presiden sedang tidak baik-baik saja," kata Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga pada Rabu (22/7/2026).

Jamiluddin menyebutkan bahwa sesuai aturan protokoler, presiden umumnya duduk di sebelah kanan dan wakil presiden di sebelah kiri dalam sidang kabinet.

"Perubahan wajah tersebut memberi kesan Gibran dalam rapat tersebut kurang nyaman," ujar Jamiluddin.

Ia menekankan bahwa penilaian tersebut berdasar pada persepsi publik yang muncul dari tangkapan gambar media.

"Hanya saja, dalam komunikasi penilaian acapkali bertolak dari persepsi. Karena itu, setiap orang bisa saja punya persepsi yang berbeda terhadap objek yang sama," ungkap Jamiluddin.

Ia mengembalikan dinamika hubungan kerja sama tersebut kepada kedua pihak terkait.

"Jadi, kalau ada yang menyatakan hubungan presiden dan wakil presiden lagi renggang kiranya wajar saja. Begitu juga bila ada publik yang menilai hubungan presiden dan wakil presiden sebaliknya," kata Jamiluddin.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed