PT Bukit Asam Perkuat Infrastruktur dan Targetkan Harga Saham Baru 2026

Smallest Font
Largest Font

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) memperkuat infrastruktur logistik dan produksi sambil menetapkan target harga saham baru pada tahun 2026, sebagai strategi untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing bisnis batu bara. Perusahaan berfokus pada pengembangan kapasitas serta diversifikasi bisnis demi pertumbuhan jangka panjang.

Pada semester I 2026, PTBA mencatat pendapatan sebesar Rp22,03 triliun, naik 7,7% secara tahunan, dengan laba bersih melonjak 218% menjadi Rp2,65 triliun. Harga jual rata-rata batu bara naik 11% menjadi Rp1,03 juta per ton meskipun produksi turun 10% menjadi 19,45 juta ton, sementara penjualan turun 2% menjadi 21,1 juta ton, menurut investor.id.

Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menyatakan, "Kami melihat prospek jangka pendek PTBA akan ditopang oleh pemulihan produksi batu bara dan peningkatan kapasitas logistik." Sukarno juga menambahkan bahwa ekspansi proyek Tanjung Enim-Kramasan dan perluasan kapasitas Kertapati diperkirakan dapat meningkatkan volume penjualan serta efisiensi biaya.

Proyek Tanjung Enim-Kramasan yang memiliki kapasitas 20 juta ton per tahun ditargetkan beroperasi secara komersial pada semester II 2026, sementara kapasitas Kertapati ditingkatkan dari 8 juta ton menjadi 15,3 juta ton per tahun. Progres proyek Tanjung Enim-Kramasan telah mencapai sekitar 93%, kata Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PTBA, Una Lindasari.

"Proyek Tanjung Enim-Kramasan menjadi salah satu proyek strategis untuk meningkatkan kapasitas angkutan dan memperkuat sistem logistik serta distribusi batubara perseroan," ujar Una. Ia juga menyebut pengembangan fasilitas Coal Handling Facility dan Train Loading Station 6-7 sebagai bagian dari percepatan proyek untuk efisiensi rantai pasok.

Kiwoom Sekuritas menaikkan target harga saham PTBA menjadi Rp3.320 untuk 12 bulan ke depan dari sebelumnya Rp3.260, dengan valuasi mencerminkan price to earnings ratio sebesar 8,2 kali dan price to book value 1,6 kali. Potensi dividen diperkirakan mencapai 9,1% pada 2026 dan 9,6% pada 2027.

Direktur Utama PTBA, Bambang Ismawan, menjelaskan bahwa penguatan harga batu bara global dan pemulihan kinerja produksi menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan perusahaan. "Momentum penguatan harga batubara global kami manfaatkan melalui strategi penjualan yang adaptif, disertai program efisiensi untuk menjaga disiplin biaya," ujar Bambang.

Bambang menambahkan bahwa PTBA juga mendorong hilirisasi dan diversifikasi bisnis, termasuk pengembangan Dimethyl Ether, Metanol, dan produk Kalium Humat untuk sektor pertanian. Perusahaan pun mulai memasuki bisnis energi terbarukan dengan portofolio Pembangkit Listrik Tenaga Surya mencapai 1,2 MWp.

"Prinsip kami adalah membangun bisnis yang sehat, memiliki prospek jangka panjang, dan memberikan nilai tambah bagi pemegang saham maupun pemangku kepentingan," kata Bambang. Ia menegaskan bahwa meskipun bisnis batubara tetap menjadi kekuatan utama, PTBA siap menghadapi perubahan lanskap energi dengan portofolio bisnis yang lebih beragam.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed