PTBA Catat Laba Meroket 218 Persen Jadi Rp2,65 Triliun di Semester I 2026
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatat lonjakan laba bersih sebesar 218 persen menjadi Rp2,65 triliun pada Semester I 2026, didorong oleh pemulihan operasional dan peningkatan penjualan ekspor.
Menurut laporan yang dirilis pada 1 September 2026, kinerja perusahaan juga tercermin dari kenaikan EBITDA sebesar 94 persen menjadi Rp4,27 triliun dari Rp2,20 triliun pada periode sama tahun sebelumnya. Margin laba bersih dan EBITDA masing-masing mencapai 12 persen dan 19 persen.
PTBA membukukan pendapatan usaha sebesar Rp22,03 triliun, naik 8 persen secara tahunan dari Rp20,45 triliun. Peningkatan pendapatan terjadi meski volume penjualan turun 2 persen menjadi 21,10 juta ton. Kenaikan harga jual rata-rata (ASP) sebesar 10 persen turut mendukung pertumbuhan pendapatan.
Indeks Newcastle meningkat 25 persen dan ICI-3 naik 15 persen secara tahunan, sehingga memperkuat harga jual rata-rata PTBA.
Penjualan terdiri dari 51 persen domestik dan 49 persen ekspor. Lima negara tujuan ekspor terbesar adalah Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand.
Produksi batu bara PTBA tercatat 19,45 juta ton, turun 10 persen dari 21,73 juta ton pada periode sama tahun sebelumnya. Volume angkutan juga turun menjadi 18,15 juta ton dari 19,27 juta ton.
Namun, penjualan ekspor meningkat 5 persen menjadi 10,33 juta ton, sementara penjualan domestik menurun 9 persen menjadi 10,77 juta ton.
Pemulihan operasional lebih terlihat pada kuartal II 2026 dengan produksi naik 94 persen dan penjualan bertambah 8 persen dibanding kuartal sebelumnya. Harga jual rata-rata juga naik 14 persen secara kuartalan.
PTBA menghadapi kenaikan biaya bahan bakar hingga 34 persen yang memengaruhi biaya penambangan dan angkutan kereta api.
Namun, biaya operasional tetap terjaga melalui program efisiensi tepat sasaran dan disiplin operasional berkelanjutan, ujar manajemen PTBA.
Beban pokok pendapatan turun 2 persen menjadi Rp17,78 triliun. Arus kas bersih dari aktivitas operasi meningkat 108 persen menjadi Rp4,63 triliun, didukung penerimaan pelanggan yang meningkat.
Kas dan setara kas naik 52 persen menjadi Rp6,88 triliun, sementara pinjaman bank berkurang 25 persen menjadi Rp2,42 triliun.
Belanja modal mencapai Rp1,09 triliun atau 30 persen dari target tahunan Rp3,64 triliun, terutama untuk pengembangan angkutan batu bara relasi Tanjung Enim-Kramasan.
PTBA menetapkan panduan produksi 49,55 juta ton dan volume penjualan 49,51 juta ton untuk sisa tahun 2026, dengan target volume angkutan 41 juta ton dan stripping ratio 5,63 kali.
Manajemen menegaskan akan terus mengoptimalkan operasional dan peluang pasar dengan disiplin dan efisiensi sebagai upaya menjaga kinerja dan menciptakan nilai berkelanjutan bagi pemangku kepentingan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow