Laba Bersih Puradelta Lestari Meroket 175 Persen Menjadi Rp1,19 Triliun
PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) membukukan kenaikan laba bersih sebesar 175,34 persen secara tahunan menjadi Rp1,19 triliun pada semester I-2026. Melonjaknya kinerja keuangan pengembang kawasan Kota Deltamas tersebut didorong oleh realisasi serah terima lahan industri berskala besar kepada para penyedia pusat data atau data center.
Pendapatan usaha emiten milik Grup Sinar Mas dan Sojitz Corporation ini melesat 194,03 persen menjadi Rp1,80 triliun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp613,35 miliar. Segmen lahan industri di Greenland International Industrial Center (GIIC) mendominasi pendapatan perseroan hingga 96,72 persen dengan nilai transaksi mencapai Rp1,74 triliun.
Sektor data center menjadi penopang utama penjualan lahan DMAS, di antaranya dibeli oleh PT Digital Gayana Ekagrata sebesar 41,39 persen, PT Princeton Digital Group 24,90 persen, PT Indoedge Real Estate And Data Center 15,41 persen, serta PT STT GDC Indonesia sebesar 11,89 persen. Lonjakan permintaan ini secara otomatis mendongkrak laba per saham (EPS) perseroan menjadi Rp24,74 per lembar.
Hingga Juni 2026, DMAS berhasil mengantongi prapenjualan atau marketing sales sebesar Rp1,15 triliun dari target tahunan Rp2,08 triliun. Direktur & Sekretaris Perusahaan PT Puradelta Lestari Tbk, Tondy Suwanto menegaskan bahwa kontribusi sektor industri modern ini menjadi motor pendorong utama performa perusahaan.
"Capaian prapenjualan pada periode ini didominasi oleh sektor industri, khususnya data center," kata Tondy Suwanto, Direktur & Sekretaris Perusahaan PT Puradelta Lestari Tbk.
Tondy Suwanto menambahkan bahwa perseroan tengah memproses permintaan lahan industri seluas 85 hektare, dengan porsi 75 persen berasal dari investor data center. Meskipun demikian, maraknya aksi borong lahan oleh operator data center membuat cadangan lahan (land bank) industri DMAS menyusut dari 119 hektare menjadi tersisa 60 hektare dalam setahun terakhir.
Manajemen mengakui upaya penambahan lahan baru bukan hal yang mudah karena membutuhkan kalkulasi modal dan momentum yang tepat. Cadangan lahan berskala besar minimal membutuhkan luas di atas 500 hektare agar pengembangan kawasan industri tetap efisien.
"Setiap tahun kita merencanakan untuk menambah land bank yang cukup signifikan, hanya saja memang tidak mudah—kita mengakui hal itu," kata Tondy Suwanto, Direktur DMAS.
Tondy Suwanto menekankan pentingnya skala kawasan agar biaya pembangunan infrastruktur penunjang seperti utilitas listrik dan air tidak membengkak. Pengembang memilih memprioritaskan akuisisi lahan di sekitar Kota Deltamas untuk menghemat belanja modal.
"Kalau untuk kawasan industri, setidaknya, minimal itu harusnya di atas 500 hektare," jelas Tondy Suwanto, Direktur DMAS.
Pihaknya memastikan belum merencanakan ekspansi ke luar area utama Deltamas dalam waktu dekat. Opsi konversi lahan dari segmen komersial seluas 357 hektare dan segmen residensial seluas 164 hektare juga disiapkannya jika cadangan lahan industri habis.
"Tetapi tetap saja, kita akan berusaha supaya ada tambahan land bank. Fokus utama saat ini adalah memang di sekitar kawasan industri sekarang atau di sekitar Delta Mas," ujarnya Tondy Suwanto, Direktur DMAS.
Ketersediaan saluran utilitas eksisting dinilai memberikan efisiensi biaya yang jauh lebih baik untuk menyambungkan fasilitas operasional pelanggan baru. Integrasi jaringan pipa dan infrastruktur merupakan kunci utama efisiensi biaya kawasan.
"Kalau misalkan kita menambah land bank di sekitar kawasan Delta Mas, itu lebih memudahkan untuk menyambung infrastruktur yang ada … lebih mudah dan lebih murah sebenarnya," imbuh Tondy Suwanto, Direktur DMAS.
Pendapatan berulang atau recurring income perseroan saat ini berada pada kisaran Rp300-400 miliar per tahun. Jumlah tersebut diklaim telah mencukupi untuk membiayai seluruh beban operasional (opex) perusahaan.
"Kabar baiknya adalah, bahwa dengan recurring income yang sudah tercapai saat ini, sebenarnya seluruh opex sudah bisa kita cover," kata Tondy Suwanto, Direktur DMAS.
Manajemen juga mengonfirmasi posisi struktur keuangan perseroan saat ini sangat aman tanpa beban pinjaman bank. Kondisi keuangan tanpa utang ini memberi keleluasaan dalam menopang kebutuhan belanja modal (capex).
"Kalau dari sisi fundamental, kalau kita lihat, kita loan-free [tidak memiliki pinjaman], jadi kami lihat ini cukup untuk capex," tegasnya Tondy Suwanto, Direktur DMAS.
Head of Investor Relations and Corporate Sustainability DMAS, Esther Meilia Nathaniel menyatakan kawasan GIIC saat ini telah menampung 16 tenant data center kelas dunia berstandar Tier 4, seperti Microsoft, Princeton Digital Group, Telkom Indonesia, hingga Indointernet. Tingginya minat investor membuat perseroan optimistis merevisi naik target kinerja tahun 2026.
"Yang keseluruhannya merupakan data center tier 4," imbuh Esther Meilia Nathaniel, Head of Investor Relations and Corporate Sustainability DMAS.
Esther Natanael turut menggarisbawahi komitmen perseroan dalam membagikan dividen kepada para pemegang saham secara konsisten sejak masa penawaran umum perdana (IPO). Dalam prospektus IPO, perseroan menetapkan batas minimal pembagian dividen sebesar 30 persen dari laba bersih.
"Kalau kita lihat dari histori beberapa tahun ke belakang, bahkan semenjak kita IPO, dividen payout rasionya hampir mencapai atau melebihi dari 100%," ujarnya Esther Natanael, Head of Investor Relations & Corporate Sustainability DMAS.
Perusahaan membuka peluang untuk kembali menebar dividen dengan Dividend Payout Ratio (DPR) maksimal dari perolehan laba bersih tahun berjalan. Posisi kas dan setara kas perseroan yang mencapai Rp2,1 triliun memperkuat potensi pembagian dividen tersebut.
"Perseroan juga mempertimbangkan bahwa sesuai dengan keinginan para pemegang saham, pasti dividennya tahun ini kami akan distribusikan yang terbaik secara maksimal," tegasnya Esther Natanael, Head of Investor Relations & Corporate Sustainability DMAS.
Lembaga riset RHB Sekuritas mencatat bahwa kekuatan utama DMAS kini bergeser dari penjualan lahan ke penyediaan infrastruktur utilitas, terutama listrik. GIIC berencana membangun pembangkit listrik berkapasitas 993 MVA untuk melayani kawasan data center seluas 300 hektare, dengan tingkat pemanfaatan kapasitas pembangkit yang telah mencapai 80 persen.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow