Gudang Garam Catat Laba Rp2,97 Triliun Meski Pendapatan Turun

Smallest Font
Largest Font

PT Gudang Garam Tbk membukukan laba bersih sebesar Rp2,976 triliun pada semester I 2026, meningkat Rp120 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu, meskipun pendapatan perseroan turun 7,2 persen menjadi Rp41,177 triliun, dilansir pada Kamis (10/9/2026).

Volume penjualan Gudang Garam turun 13,6 persen menjadi 20,5 miliar batang dari 23,7 miliar batang pada semester I 2025. Penurunan pendapatan ini terjadi bersamaan dengan penurunan beban pokok pendapatan sebesar 13,3 persen menjadi Rp35,192 triliun.

Direktur Gudang Garam, Heru Budiman, menjelaskan bahwa kenaikan laba bruto sebesar 58 persen menjadi Rp5,986 triliun dipengaruhi oleh penyesuaian harga jual dan efisiensi biaya usaha.

"Di profitnya, ini menunjukkan perbaikan yang sebetulnya terjadi karena timing kenaikan harga," ujar Heru Budiman.

Heru menerangkan sebagian besar kenaikan harga rokok terjadi pada paruh kedua tahun 2025 sehingga harga jual pada paruh pertama 2026 sudah lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.

"Kenaikan harga di 2025 lebih banyak terjadi di paruh kedua tahun 2025. Sehingga tahun 2026 harga awal paruh pertama 2026 sudah lebih tinggi, ditambah dengan kenaikan harga yang terjadi di tahun 2026 ini," tambahnya.

Selain itu, beban usaha turun 33,8 persen menjadi Rp2,262 triliun, terutama karena pengurangan biaya pemasaran dan kompensasi karyawan. Beban bunga juga menyusut drastis menjadi Rp5 miliar dibanding Rp219 miliar tahun sebelumnya, sejalan dengan pengurangan pinjaman.

Posisi kas perseroan meningkat signifikan menjadi Rp8,720 triliun per 30 Juni 2026, naik 119,7 persen dari Rp3,970 triliun tahun lalu, sementara persediaan menurun 14,2 persen menjadi Rp31,763 triliun.

Direktur Gudang Garam, Istata Tasin Siddharta, menyatakan bahwa operasional Bandara Dhoho di Kediri belum memberikan kontribusi positif terhadap pendapatan perseroan dan diperkirakan akan tetap demikian dalam beberapa tahun ke depan.

"Karena bandara ini merupakan proyek jangka panjang, sampai saat ini belum memberikan kontribusi positif buat perusahaan, dan itu akan kami perkirakan tetap seperti itu buat beberapa tahun ke depan," ujar Istata.

Ia juga menegaskan bahwa di luar pengembangan bandara dan jalan tol, perseroan belum memiliki rencana investasi lain.

Heru Budiman mengungkapkan tantangan utama bagi produsen rokok legal adalah persaingan dengan produk ilegal yang tidak membayar cukai dan dapat menjual dengan harga jauh lebih murah.

"Rokok SKM 12 batang, cukai yang kita bayarkan adalah Rp19.000. Jadi sekarang GGRM ini, hari ini kita menjual rokok kita di Rp26.000. Jadi bisa diistilahkan mengambil duitnya konsumen Rp26.000, saya setor cukai Rp19.000," ujar Heru.

Heru menambahkan, produsen rokok ilegal dapat menjual produk seharga Rp12.000 hingga Rp15.000 karena tidak menanggung beban cukai, sehingga memberi tekanan pada produsen legal.

"Kalau misalnya kita ambil produsen yang tidak membayar cukai, apakah dia harus juga menjual di Rp26.000? Enggak, dia cukup misalnya menjual di Rp15.000," kata Heru.

Istata menyebutkan arah bisnis segmen sigaret kretek mesin (SKM) akan bergantung pada strategi menjaga volume penjualan atau profitabilitas, dengan kebijakan pemerintah yang belum menaikkan tarif cukai rokok selama beberapa tahun membantu mempertahankan volume.

"Kalau kita melihat tekanan terhadap SKM GGRM, itu juga sebetulnya kembali lagi tergantung dari nanti policy kita mau seberapa jauh kita fokus ke volume atau seberapa jauh kita fokus ke profitability," ujar Istata.

"Jadi tetap kalau kita melihat kondisi market yang ada dengan boleh dibilang status quo dari pemerintah juga yang memberikan kelonggaran buat rokok-rokok ini dengan tidak menaikkan cukai selama beberapa tahun, ya insya Allah itu merupakan status quo yang bisa kita pertahankan buat volume SKM," tambahnya.

Istata menegaskan perseroan belum dapat memastikan apakah tekanan pada volume SKM sudah mencapai titik terendah atau masih berlanjut, dan akan menyesuaikan strategi berdasarkan perkembangan struktur biaya dan kondisi pasar ke depan.

"Namun sesuai dengan perkembangan cost structure kita nanti dan market ke depannya, kita tidak bisa memberikan suatu kepastian bahwa kita tidak akan mengorbankan volume lagi buat mempertahankan profit atau apakah kita akan mengorbankan profit buat menaikkan volume, itu kita akan tetap lihat ke depannya," tutur Istata.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed