Rismon Sianipar Serahkan Buku Otentikasi Ijazah kepada Jokowi
Ahli forensik digital Rismon Hasiholan Sianipar mendatangi kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Solo pada Rabu (17/6/2026) untuk menyerahkan buku baru karyanya yang berjudul "Otentikasi Ijazah Joko Widodo". Dilansir dari detikJateng, mantan dosen Universitas Mataram tersebut tiba sekitar pukul 09.44 WIB dengan didampingi oleh kuasa hukumnya, Jahmada Girsang, serta Ketua Relawan Militan Gibran Nusantara, Andi Azwan.
Kedatangan Rismon ini bertujuan memberikan buku setebal 800 halaman itu secara langsung kepada Jokowi sebagai bentuk permohonan maaf dan pertanggungjawaban moral atas polemik ijazah Universitas Gadjah Mada (UGM) yang sempat ia pertanyakan sebelumnya.
"Sebagai rasa berterima kasih saya pada kebesaran hati Pak Jokowi, bahwa saya selama ini big mistake. Dan saya memperbaikinya sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah," ujar Rismon kepada awak media di kediaman Jokowi, Rabu (17/6/2026).
Langkah ini diambil setelah Rismon melalui proses hukum, di mana ia sempat ditetapkan sebagai tersangka sebelum akhirnya berdamai dengan Jokowi pada 12 Maret 2026 melalui mekanisme restorative justice hingga terbitnya Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3).
"Di bab 10 sudah ada pencocokan citra wajah, bagaimana analisa saya foto Pak Jokowi muda pada saat ijazah tersebut dengan Pak Jokowi setelah jadi Presiden, 30 atau 40 tahun ke depan. Pencocokannya bagaimana, pakai Acface," jelas Rismon.
Dalam penelitian ilmiah terbarunya ini, Rismon membedah keaslian dokumen menggunakan teknologi pencocokan citra digital berbasis neural networks dan machine learning untuk mengukur tingkat kemiripan wajah.
"Dan saya bandingkan juga foto Pak Prabowo waktu muda dengan ketika jadi Presiden 40 tahun kemudian. Ada juga kajian meskipun sudah tidak saya tulis karena lebih dari 800 nanti, di situ juga saya coba juga uji coba juga untuk foto-foto yang orang-orang yang renowned ya, orang-orang yang public figure yang sudah dikenal di Indonesia seperti foto muda dan foto bandingkan dengan foto versi 30 tahun kemudiannya Pak SBY, Pak Luhut Binsar, Pak Anies Baswedan, Bu Megawati," sambung Rismon.
Menurut laporan kumparan, naskah buku ini nantinya akan didaftarkan International Standard Book Number (ISBN) untuk kemudian didistribusikan ke perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia.
"Buku ini saya susun sebagai bentuk pertanggungjawaban ilmiah kepada publik dan komunitas akademik. Naskah itu nantinya akan didaftarkan ISBN dan didistribusikan ke berbagai perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia agar menjadi bahan kajian ilmiah," kata Rismon, Rabu (17/6).
Rismon menegaskan bahwa hasil analisis matematis berupa tingkat kemiripan atau cosine similarity dari foto-foto tokoh nasional yang ia uji berada pada rentang realistis secara sains.
"Kajian ini semata-mata karya yang tunduk pada kaidah ilmiah, bukan pada afiliasi politik, kebencian, ketidaksukaan, maupun kesukaan terhadap seseorang," ujar Rismon.
Langkah ini menandai perubahan haluan total bagi Rismon yang kini telah pecah kongsi dari rekan-rekan lamanya saat menyusun buku oposisi sebelumnya.
"Saya ingin buku ini menjadi objek kajian di lingkungan akademik, bukan menjadi bahan perdebatan tanpa dasar di media sosial. Kita tidak membutuhkan itu," kata Rismon.
Melalui pendekatan teknologi digital ini, ia berharap perdebatan mengenai keaslian ijazah di ruang publik yang selama ini didasarkan pada penilaian subjektif visual dapat diselesaikan.
"Perdebatan yang selama ini berkembang di ruang publik sering kali didasarkan pada penilaian subjektif, seperti perubahan penggunaan kacamata, kumis, atau gaya rambut. Itu bukan pendekatan ilmiah. Yang objektif adalah pencocokan citra digital berbasis neural networks atau machine learning Karena itu, saya berharap diskusi ini diselesaikan melalui kajian akademik," ucap Rismon.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan situasi pada Senin (18/8/2025), saat Rismon bersama Roy Suryo dan dr. Tifauzia meluncurkan buku "JOKOWI's WHITE PAPER" di UC Hotel UGM yang menyimpulkan kejanggalan dokumen kelulusan Jokowi.
"Analisis yang detail, kemudian perbandingan lintasan, ya. Kemudian doktor Rismon banyak sekali menulis dengan kajian, ilmu digital forensic-nya. Sangat panjang tentang kajian-kajian itu, termasuk penggunaan perbandingan dengan RGB, Red Green Blue, atau dengan perbandingan dengan apa namanya CMYK Cyan Magenta Yellow and Black, ya. Dari situ detail banget," ucap Roy Suryo saat menjelaskan isi buku setebal 700 halaman tersebut kala itu.
Roy Suryo saat itu menegaskan hasil analisis digital forensic kelompok mereka mengenai keabsahan dokumen akademis mantan wali kota Solo tersebut.
"Ya, kesimpulannya adalah skripsinya 99,94 persen palsu, tidak mungkin menghasilkan ijazah asli. Itu aja, udah, yang paling penting, gitu," kata Roy Suryo.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow