Rudal dan Drone Serang Kyiv dan Moskow
Eskalasi serangan udara kembali mengguncang wilayah Ukraina dan Rusia pada Minggu (16/8/2026), ketika dentuman rudal Rusia menghantam area pasar buku di Kyiv dan serangan drone Ukraina membakar pusat distribusi Wildberries di dekat Moskow.
Di ibu kota Ukraina, intensitas serangan rudal balistik malam hari yang melaju hingga ribuan kilometer per jam membuat warga bergantung pada saluran Telegram sipil seperti Aeris Rimor untuk memantau pergerakan ancaman secara langsung.
Pengelola saluran Aeris Rimor, seorang pemuda berusia 19 tahun bernama samaran Esko, memantau peta pertahanan udara dari rumahnya sebelum membagikan peringatan darurat kepada 150 ribu pengikutnya.
"Oh, ada rudal menuju Kyiv," ujarnya dikutip dari AFP.
Ia segera mempublikasikan informasi mengenai arah serangan serta memperkirakan wilayah distrik yang berpotensi menjadi target penghantaman.
"Benar-benar harus terus berjaga dan menatap layar sepanjang waktu karena Anda bisa dengan mudah melewatkannya," ujar Esko yang tampak tidak kesulitan melakukannya walau harus bersiaga hingga larut malam.
Esko menjelaskan bahwa situasi peringatan dini sering kali memicu dilema bagi masyarakat yang harus mengambil keputusan cepat di tengah ancaman serangan.
"Anda hanya bisa mengatakan: sesuatu mungkin terjadi... tetapi putuskan sendiri," ujar Esko.
Esko menambahkan bahwa ia lebih memilih situasi kerja yang sibuk saat terjadi serangan ketimbang masa-masa tenang yang justru menimbulkan ketidakpastian.
"Anda terus menunggu, menunggu, menunggu, kemudian mulai mengunggah peringatan karena ketegangan meningkat. Namun, tidak terjadi apa-apa. Anda mengunggah lagi, dan tidak terjadi apa-apa... Lalu mereka menyerang," ujar Esko.
Warga Kyiv, Kateryna Reshetnyk, memilih berlindung di stasiun kereta bawah tanah bersama keluarga setelah mengumpulkan analisis data dari berbagai saluran informasi pemantau.
"Tetapi tidak ada yang tahu pasti apa yang akan atau tidak akan terjadi. Anda hanya mengandalkan intuisi dan naluri untuk bertahan hidup," ujar Reshetnyk.
Perempuan berusia 34 tahun itu bersama ratusan warga lainnya memanfaatkan area stasiun metro sebagai tempat perlindungan sementara saat ancaman udara berlangsung.
"Kami memantau apa yang sedang terjadi dan di mana lokasinya karena kerabat, teman, dan kolega kami tersebar di seluruh Kyiv dan wilayah sekitarnya. Jadi setidaknya kami memahami apa yang terjadi dan di mana," ujar Reshetnyk.
Merespons maraknya penggunaan saluran sipil tersebut, pihak militer memberikan pandangan resmi terkait penyebaran informasi pertahanan di ruang publik.
"Kami tidak bisa melarang mereka. Mereka ada, mereka memberikan informasi kepada masyarakat, dan bagi sebagian orang hal itu memang memudahkan," ujar juru bicara Yuri Ignat kepada AFP.
Namun, Yuri Ignat mengingatkan agar seluruh pengelola saluran tetap membatasi detail data intelijen agar tidak dimanfaatkan oleh pihak lawan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow