Rusia dan Ukraina Saling Gempur Target Strategis dalam Serangan Udara Intensif
Rusia dan Ukraina meningkatkan gelombang serangan udara balasan dengan menembakkan ratusan drone serta rudal yang menargetkan fasilitas industri, militer, dan logistik vital di wilayah masing-masing pada Minggu (16/8/2026).
Militer Ukraina meluncurkan 600 drone ke wilayah Moskow sepanjang malam hingga pukul 06.30 waktu setempat, dengan 201 unit di antaranya dihancurkan oleh sistem pertahanan udara Rusia. Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan total 822 drone Ukraina dijatuhkan di berbagai kawasan.
Serangan tersebut menewaskan seorang pria berusia 83 tahun di Podolsk dan merusak gudang milik perusahaan e-commerce Wildberries di Koledino, sekitar 45 km selatan Moskow. Tiga orang lainnya terluka di kawasan jalan lingkar MKAD, sementara kehancuran juga dilaporkan terjadi pada bangunan di Domodedovo serta tiga orang tewas di wilayah Rostov.
Di sisi lain, pasukan Rusia menggempur pabrik baja terbesar Ukraina, ArcelorMittal di Kryvyi Rih pada Minggu pagi, yang menyebabkan sedikitnya dua orang tewas dan 14 orang luka-luka. Serangan ini merusak fasilitas pembangkit listrik serta tanur tinggi hingga menghentikan sebagian proses produksi.
"Akibat serangan tersebut, fasilitas produksi utama di sektor pembangkit listrik dan tanur tinggi mengalami kerusakan, dan proses produksi pabrik terhenti sebagian," tulis Pengelola Pabrik ArcelorMittal Kryvyi Rih melalui Telegram.
Rentetan drone Rusia turut memicu kebakaran di ibu kota Kyiv yang melukai tiga orang, termasuk seorang anak. Sebagai balasan, militer Ukraina mengklaim telah menggempur pabrik pembuat bahan bakar propelan roket padat untuk sistem rudal di wilayah Rostov.
"Perusahaan tersebut memproduksi propelan roket padat untuk sistem peluncur roket multipel, serta untuk berbagai sistem rudal dan persenjataan udara," kata Militer Ukraina melalui saluran Telegram resmi.
Eskalasi pertempuran meluas hingga ke wilayah udara anggota NATO, ketika jet tempur F-18 Spanyol menembak jatuh sebuah drone yang diduga berasal dari Rusia di atas kawasan tidak berpenghuni di Rumania pada pukul 05.01 waktu setempat.
Di tengah ancaman hujan rudal balistik, warga sipil di Kyiv memanfaatkan saluran Telegram independen seperti Aeris Rimor untuk memantau pergerakan serangan secara real-time guna mengambil keputusan berlindung ke stasiun kereta bawah tanah.
Saluran yang dioperasikan oleh pemuda berusia 19 tahun berinisial Esko ini memanfaatkan akses peta pertahanan udara Ukraina untuk membagikan peringatan dini kepada lebih dari 150 ribu pengikutnya.
"Oh, ada rudal menuju Kyiv," ujar Esko.
Ia langsung mengirimkan instruksi bertuliskan "TARGET KYIV!" beserta nama distrik sasaran tepat sebelum ledakan terjadi di ibu kota.
"Benar-benar harus terus berjaga dan menatap layar sepanjang waktu karena Anda bisa dengan mudah melewatkannya," ujar Esko.
Ia menambahkan bahwa masyarakat sering meminta saran langsung kepadanya di tengah ketidakpastian situasi serangan.
"Anda hanya bisa mengatakan: sesuatu mungkin terjadi... tetapi putuskan sendiri," ujar Esko.
Ia mengaku merasakan tekanan besar saat mengelola informasi peringatan dini tersebut.
"Anda terus menunggu, menunggu, menunggu, kemudian mulai mengunggah peringatan karena ketegangan meningkat. Namun, tidak terjadi apa-apa. Anda mengunggah lagi, dan tidak terjadi apa-apa... Lalu mereka menyerang," ujar Esko.
Warga sipil Kyiv, Kateryna Reshetnyk, mengaku harus mengandalkan analisis dari beberapa saluran Telegram sebelum memutuskan memboyong keluarganya bermalam di stasiun Metro.
"Tetapi tidak ada yang tahu pasti apa yang akan atau tidak akan terjadi. Anda hanya mengandalkan intuisi dan naluri untuk bertahan hidup," ujar Reshetnyk.
Ia menyebut pengawasan informasi tersebut penting karena kerabat dan rekannya tersebar di berbagai wilayah ibu kota.
"Kami memantau apa yang sedang terjadi dan di mana lokasinya karena kerabat, teman, dan kolega kami tersebar di seluruh Kyiv dan wilayah sekitarnya. Jadi setidaknya kami memahami apa yang terjadi dan di mana," ujar Reshetnyk.
Pihak Angkatan Udara Ukraina membiarkan operasional saluran pemantau sipil tersebut selama tidak membocorkan data sensitif yang menguntungkan posisi intelijen musuh.
"Kami tidak bisa melarang mereka. Mereka ada, mereka memberikan informasi kepada masyarakat, dan bagi sebagian orang hal itu memang memudahkan," ujar juru bicara Yuri Ignat.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow