Running Tourism Makin Populer dari Medan Lari Hingga Liburan
Tren liburan masa kini tidak lagi sebatas menginap di hotel atau mengunjungi objek wisata komersial. Seperti dilansir dari Detik Travel, fenomena running tourism atau wisata lari semakin diminati masyarakat sebagai cara baru menikmati perjalanan.
Melalui konsep ini, perlombaan lari menjadi alasan utama seseorang mendatangi sebuah kota atau negara. Para peserta biasanya datang beberapa hari lebih awal untuk mengambil paket lomba dan menyesuaikan diri dengan iklim setempat sebelum melintasi garis finis.
Di Indonesia, agenda lomba lari kian padat saban tahun. Sejumlah event populer seperti Jakarta International Marathon (JAKIM), Borobudur Marathon, Maybank Marathon, hingga Jogja Marathon terus memikat antusiasme masyarakat dari berbagai daerah.
Kategori yang diminati pun sangat beragam, dimulai dari jarak 5 kilometer hingga 10 kilometer. Banyak pelari kemudian meningkatkan target menuju half marathon, full marathon sejauh 42,195 kilometer, hingga ajang trail run bernuansa alam.
Sensasi berlari di rute internasional turut memicu minat masyarakat. Lomba bergengsi seperti Tokyo Marathon, Berlin Marathon, London Marathon, Boston Marathon, Chicago Marathon, Sydney Marathon, dan New York City Marathon kini menjadi sasaran para penggemar olahraga lari.
Daya Tarik Gaya Hidup dan Wisata
Olahraga ini juga digandrungi berbagai kalangan figur publik Indonesia. Tokoh politik hingga deretan selebriti aktif meramaikan lintasan lari lokal maupun mancanegara, baik pada kategori road race, ultra marathon, maupun trail run.
Pengalaman memadukan olahraga dan plesiran dirasakan langsung oleh pasangan Hendra dan Hastin. Setelah merampungkan Bangkok Marathon 2025, pasangan suami istri ini melanjutkan aksi berlari mereka di Sydney Marathon 2026 pada akhir Agustus lalu.
"Katanya marathon itu 1% bakat dan 99% disiplin, itu benar banget. Terlepas dari persiapan itu, sekarang kami lebih sering sibuk cari race dulu, baru pilih destinasi wisata, kemudian berburu tiket pesawat," kata Hendra.
Sensasi serupa dirasakan Ilham Zulfikar dan Tia. Berawal dari menemani suami yang memenangkan undian slot Tokyo Marathon, Tia justru tertarik mengikuti ajang Berlin Marathon pada tahun berikutnya karena atmosfer dukungan penonton yang luar biasa.
"Pas lari di Tokyo saya nemenin jalan-jalannya saja, kasih support pas race. Ternyata di sana marathon vibes-nya dapat banget, full cheering dari start sampai finish. Nggak cuma itu, warga lokal juga respek banget, mereka kasih selamat ke Ilham yang pakai medali. Kemudian di Berlin tahun berikutnya saya ikut lari," kata Tia.
"Keseruannya itu yang asyik banget. Race-nya dapat, wisatanya juga dapat," ujar dia.
Pelari asal Jakarta, Krisna Kartika, juga membagikan pengalamannya menjajal Maybank Marathon hingga Chicago Marathon di Amerika Serikat. Menurutnya, tiap rute menyuguhkan pemandangan serta tantangan cuaca yang unik bagi para pelari rekreasi.
"Kalau Maybank itu sekalian wisata. View alamnya bagus, hijau-hijau sepanjang rute. Kalau beruntung cuacanya adem.
Masyarakatnya juga welcome banget. Cocok buat pelari rekreasional yang nggak terlalu fokus ke PB dan ingin menikmati perjalanan," kata dia.
"Milih lari di Chicago karena sekalian mau jalan-jalan ke Amerika, pertama kali sepanjang hidup. View gedung-gedung pencakar langit bikin kagum, cheering-nya juga luar biasa. Cuacanya jelas berbeda dibanding Indonesia, dingin dan berangin, jadi perlu persiapan khusus," ujar Krisna.
Prospek Wisata Lari Berkelanjutan
Founder marathon travel specialist Cerita Lari, Faizin Kadni, mengonfirmasi bahwa tren running tourism di Tanah Air terus menunjukkan kenaikan grafik. Jumlah peserta rombongan ke ajang World Marathon Majors (WMM) melonjak signifikan dibanding masa sebelum pandemi.
"Sekarang jumlahnya naik terus. Lari itu unik, naik turun tapi awet. Fenomenanya nggak hilang, malah cenderung meningkat," kata pria yang akrab disapa Bang Icin itu.
"Dulu menuju World Marathon Majors itu kesannya hanya untuk orang yang sangat mapan secara finansial. Sekarang ada banyak jalur lain, mulai dari sponsor sampai kompetisi konten. Jadi peluangnya lebih terbuka," ujarnya.
"Rangkaian WMM ini memang candu. Biasanya mulai dari Berlin, lanjut New York, lalu ingin yang lain lagi. Sekarang tambah Sydney," kata dia.
"Dulu orang ke luar negeri ingin lihat ini, lihat itu. Sekarang mereka juga ingin dapat medali. Alasannya macam-macam, mulai dari aktualisasi diri, mengejar six stars atau seven stars WMM, sampai mencari reward buat diri sendiri," ujar dia.
"Selain finansial, persiapan fisik juga harus diperhatikan. Kalau mau ikut running tourism seperti ini, latihan tetap wajib. Jangan sampai semangat jalan-jalannya besar, tapi persiapan larinya kurang," kata dia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow