Rupiah Melemah ke Rp17869 per Dolar AS pada Rabu Pagi
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka melemah sebesar 8 poin atau 0,04 persen ke level Rp17.869 per dolar AS pada perdagangan Rabu, 12 Agustus 2026 pagi. Pelemahan ini dipicu oleh dinamika geopolitik di Timur Tengah serta sikap investor yang menantikan rilis data inflasi Serikat Serikat.
Berdasarkan data perdagangan, rupiah sempat terdepresiasi hingga Rp17.872 per dolar AS atau turun 0,06 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.861 per dolar AS. Pada siang hari pukul 12.34 WIB, mata uang Indonesia bergerak ke posisi Rp17.863,85 per dolar AS.
Pergerakan mata uang regional Asia cenderung bervariasi terhadap dolar AS. Yuan China terkoreksi 0,01 persen, peso Filipina turun 0,15 persen, yen Jepang melemah 0,05 persen, dan won Korea Selatan terdepresiasi 0,28 persen. Di sisi lain, ringgit Malaysia menguat 0,01 persen, dolar Singapura naik 0,08 persen, sementara dolar Hong Kong stagnan.
Mata uang utama negara maju turut kompak melemah terhadap greenback. Euro Eropa tercatat turun 0,05 persen, poundsterling Inggris terkoreksi 0,03 persen, dolar Australia melemah 0,06 persen, dolar Kanada terdepresiasi 0,04 persen, dan franc Swiss merosot 0,10 persen.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong memproyeksikan pergerakan kurs rupiah akan berada dalam fase konsolidasi sepanjang perdagangan hari ini.
"Rupiah diperkirakan bergerak konsolidatif di tengah perkembangan geopolitik di Timteng yang masih memberikan sinyal beragam," ucap Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures.
Perkembangan diplomasi di kawasan Timur Tengah menunjukkan kemajuan setelah Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menyatakan Iran dan AS hampir mencapai kesepakatan. Selain itu, Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi dijadwalkan mengajukan usulan baru guna mengurai kebuntuan di Selat Hormuz.
"Laporan dari Pakistan mengindikasikan bahwa proses menuju kesepakatan damai kembali menunjukkan perkembangan positif, sementara Iran menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka sebelum sejumlah persyaratan terpenuhi," ungkap Lukman Leong.
Selain faktor geopolitik, fokus pelaku pasar global tertuju pada publikasi data inflasi utama dan inti Amerika Serikat.
"Keduanya baik inflasi utama dan inti diperkirakan akan turun, inflasi YoY (year on year) diperkirakan turun dari 2,6 persen ke 2,5 persen, sedangkan inti YoY turun dari 3,5 persen ke 3,4 persen," kata Lukman Leong.
Situasi tersebut membuat mayoritas penanam modal memilih menahan diri dari transaksi agresif di pasar keuangan.
"Investor cenderung wait and see menjelang rilis data inflasi AS malam ini," katanya.
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada pengumuman tinjauan indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berpotensi memengaruhi arus modal ke aset domestik.
"Pengumuman MSCI tentunya masih tanda tanya, tetapi salah satunya adalah tidak akan ada saham baru yang dimasukkan," ujarnya.
Atas pertimbangan berbagai sentimen tersebut, rupiah diproyeksikan bergerak pada rentang Rp17.750 hingga Rp18.850 per dolar AS sepanjang hari.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow