Rupiah Menguat ke Rp17.972 per Dolar AS pada 5 Agustus 2026

Smallest Font
Largest Font

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat ke level Rp17.972 per dolar AS pada perdagangan Rabu, 5 Agustus 2026 pagi. Apresiasi mata uang Garuda ini terjadi di tengah penantian pasar terhadap rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal II-2026.

Penguatan rupiah pagi ini membalikkan posisi hari sebelumnya, di mana mata uang lokal sempat tertekan hingga level Rp18.027 per dolar AS pada Selasa, 4 Agustus. Tren pergerakan positif ini juga sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang merambah zona hijau terhadap dolar AS.

Kebutuhan valuta asing korporasi domestik untuk pembayaran utang luar negeri, dividen, dan impor energi sebelumnya menjadi penahan utama penguatan kurs, sebagaimana dinilai Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi. Namun, sentimen global terkini memberikan dorongan positif bagi mata uang berkembang.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

"Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS yang tertekan oleh data JOLTS AS yang lebih lemah dari perkiraan, serta optimisme pembukaan kembali Selat Hormuz setelah muncul laporan bahwa AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan. Meski, penguatan diperkirakan terbatas menjelang rilis data PDB Indonesia kuartal II siang ini," ujar Lukman Leong, Analis Mata Uang Doo Financial Futures.

Di sisi lain, Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa memperkirakan pergerakan rupiah jangka pendek berada pada kisaran Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS.

“Pelemahan rupiah saat ini masih lebih dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Pelaku pasar menunggu rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve,” ujar Muhammad Amru Syifa, Research and Development ICDX.

Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah juga dinilainya masih mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman. Meski demikian, Amru menyebutkan bahwa rilis Neraca Perdagangan Indonesia Juni 2026 yang mencatatkan defisit lebih kecil dari perkiraan serta inflasi Juli yang terkendali memberikan penopang dari dalam negeri.

“Apabila pertumbuhan ekonomi berada di atas ekspektasi pasar, rupiah berpotensi memperoleh sentimen positif karena mencerminkan fundamental ekonomi domestik yang tetap solid,” ujar Muhammad Amru Syifa.

Amru menambahkan bahwa kejelasan arah pergerakan mata uang domestik dalam beberapa waktu ke depan akan ditentukan oleh kombinasi data internal dan eksternal.

“Jika PDB Indonesia lebih baik dari perkiraan dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali mereda, rupiah berpeluang menguat. Sebaliknya, apabila data ekonomi AS kembali menunjukkan penguatan sehingga mendorong dolar AS terapresiasi, rupiah masih berpotensi bergerak mendekati batas atas kisaran proyeksi tersebut,” kata Muhammad Amru Syifa.

Pergerakan di pasar perbankan nasional mencatat transaksi jual beli valas yang bervariasi pada Rabu pagi. Bank Mandiri membuka harga beli e-Rate di level Rp17.970 per dolar AS dan jual Rp18.000, sementara Bank BNI menetapkan e-Rate beli pada Rp17.929 dan jual Rp17.959 per dolar AS.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed