Rupiah Menguat ke Rp 17.863 per Dolar AS Jelang Pidato Presiden
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak menguat hingga menyentuh posisi Rp 17.863 per dolar AS pada perdagangan Jumat (14/8/2026) siang. Apresiasi mata uang Garuda ini didorong oleh penurunan data inflasi Amerika Serikat serta penantian pasar terhadap pidato RAPBN oleh Presiden Prabowo Subianto.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 12.10 WIB, rupiah terapresiasi 0,08 persen atau naik 14,00 poin dibandingkan posisi pembukaan. Pasar uang bergerak positif seiring dengan pelemahan indeks dolar AS ke level 99,905 akibat stagnasi data Producer Price Index (PPI) AS pada Juli.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan mata uang domestik akan bergerak dalam rentang Rp 17.800 hingga Rp 17.900 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.
"Dari domestik, investor mengantisipasi pidato RAPBN oleh Prabowo sore ini, (perkiraan) Rp 17.800-Rp 17.900 per USD," kata Lukman kepada Kompas.com, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Selain sentimen domestik, pergerakan mata uang juga sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar global, khususnya indikator ekonomi dari Negeri Paman Sam yang menunjukkan perlambatan.
"Investor masih cenderung wait and see mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang memberikan gambaran beragam," tutur Lukman.
Pernyataan senada disampaikan Lukman saat diwawancarai CNNIndonesia.com terkait potensi penguatan mata uang Garuda di tengah volatilitas global.
"Rupiah diperkirakan berkonsolidasi dengan potensi menguat terbatas terhadap dolar AS yang terkoreksi setelah data inflasi dan pekerjaan AS lebih lemah. Investor masih cenderung wait and see mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang memberikan gambaran beragam," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Ia menuturkan bahwa perhatian para pelaku pasar saat ini terbagi antara laporan indikator perekonomian internasional dan agenda strategis pemerintah dalam negeri.
"Selain itu, dari domestik investor mengantisipasi pidato RAPBN oleh Prabowo sore ini," imbuhnya.
Sementara itu, analisis dari sisi eksternal turut diberikan oleh kalangan pengamat ekonomi global terkait arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.
"Kesimpulan saya dari angka hari ini dan kemarin adalah data tersebut membantu memperkuat alasan bagi The Fed untuk tetap menahan suku bunga pada September," ujar Dixon, dikutip dari Reuters.
Penguatan rupiah juga terjadi secara paralel dengan sebagian besar mata uang di kawasan Asia, seperti dolar Taiwan yang menguat 0,47 persen, won Korea Selatan 0,26 persen, dan yen Jepang 0,06 persen.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow