Rupiah Menguat ke Rp18.045 per Dolar AS pada Penutupan Perdagangan
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berhasil ditutup menguat ke posisi Rp18.045 per dolar AS pada akhir perdagangan Jumat, 10 Juli 2026. Apresiasi mata uang Garuda sebesar 0,14 persen ini terjadi di tengah pelemahan indeks dolar AS di pasar global serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah bergerak di rentang Rp18.045 hingga Rp18.075 per dolar AS sepanjang hari setelah sempat dibuka menguat pada pagi harinya. Sementara itu, data Bloomberg mencatat rupiah sempat berada di level Rp18.061 per dolar AS pada pukul 09.28 WIB, menguat 67 poin dari penutupan sebelumnya.
Kondisi global dipengaruhi oleh koreksi indeks dolar AS (DXY) sebesar 0,11 persen ke level 100,788 per pukul 15.00 WIB setelah aksi saling serang antara AS dan Iran kembali terjadi. Meskipun ketegangan meningkat, harga minyak mentah AS justru melemah ke US$71,57 per barel dan Brent turun ke US$75,72 per barel karena kekhawatiran inflasi menekan pertumbuhan global.
Di sisi domestik, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah hari ini bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di rentang Rp18.120 hingga Rp18.180 per dolar AS karena beberapa sentimen negatif. Ibrahim mencatat adanya tekanan dari defisit neraca perdagangan Mei 2026 sebesar US$1,61 miliar akibat tingginya impor minyak mentah, serta penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juni 2026 ke level 117,8.
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.120 per USD hingga Rp18.180 per USD," jelas Ibrahim Assuaibi, Analis Pasar Uang.
Ibrahim menambahkan bahwa kekhawatiran inflasi yang kaku pasca-perang AS-Iran dapat memicu kenaikan suku bunga The Fed di akhir tahun, sementara kondisi psikologis ekonomi domestik secara agregat dinilai Bank Indonesia masih berada di area optimistis di atas ambang batas 100.
"Namun, risalah tersebut menunjukkan meningkatnya kekhawatiran di antara para bankir sentral mengenai inflasi yang kaku, sebuah tren yang dapat memicu kenaikan suku bunga di akhir tahun, terutama jika tekanan harga menunjukkan sedikit tanda-tanda pendinginan," papar Ibrahim Assuaibi.
Ibrahim juga menyoroti berlanjutnya fluktuasi nilai tukar jika faktor pemicu di pasar belum mereda.
"Selama sentimen domestik dan global belum mereda, tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih akan berlanjut," pungkas Ibrahim Assuaibi.
Di sisi lain, kebutuhan arus modal asing menjadi fokus utama untuk menjaga kekuatan makroekonomi nasional jangka panjang.
"Indonesia masih membutuhkan tambahan arus modal asing yang cukup besar agar keseimbangan neraca pembayaran semakin kuat. Oleh karena itu kita tidak boleh cepat berpuas diri," kata Fakhrul Fulvian, Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia.
Menurut Fakhrul, stabilitas nilai tukar paruh kedua tahun ini memerlukan tambahan posisi investor asing sekitar US$8-11 miliar yang bergantung pada konsolidasi fiskal, normalisasi imbal hasil obligasi, dan kepastian kebijakan moneter.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow