Rupiah Menguat ke Rp17695 Per Dolar AS pada 26 Agustus 2026
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menguat 28 poin atau 0,16 persen ke posisi Rp17.695 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu (26/8/2026) pagi. Penguatan mata uang Garuda ini terdorong oleh tren penurunan harga minyak mentah dunia serta meredanya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Pergerakan menguat ini sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia. Peso Filipina tercatat menguat 0,24 persen, ringgit Malaysia naik 0,34 persen, yen Jepang melesat 0,17 persen, dolar Singapura terangkat 0,02 persen, won Korea Selatan naik 0,01 persen, dan yuan China terangkat 0,01 persen, sementara dolar Hong Kong melemah 0,03 persen.
Penurunan harga minyak mentah terjadi setelah muncul laporan diskusi diplomatik antara Iran dan Oman mengenai Selat Hormuz. Berdasarkan laporan Xinhua dan Anadolu, harga minyak mentah Brent turun ke kisaran 86,2 dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate turun 5,5 persen menjadi 80,40 dolar AS per barel.
"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS seiring penurunan harga minyak mentah dunia di tengah meningkatnya harapan perdamaian di Timur Tengah, menyusul laporan bahwa Iran dan Oman membahas pembentukan ‘koridor maritim gabungan sementara’ di Selat Hormuz," kata Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong.
Lukman Leong menambahkan bahwa perdagangan harian rupiah diproyeksikan bergerak stabil dalam kisaran angka Rp17.650 hingga Rp17.750 per dolar AS.
"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS menyusul laporan bahwa Iran dan Oman membahas pembentukan 'koridor maritim gabungan sementara' di Selat Hormuz," ujar Lukman Leong.
Sebelum penguatan di hari Rabu, pasar sempat dibayangi sentimen penutupan perdagangan Senin (24/8/2026) dan Selasa (25/8/2026). Menurut data Bloomberg dan Doo Financial Futures, rupiah sebelumnya sempat melemah ke level Rp17.721 hingga Rp17.723 per dolar AS akibat penguatan indeks dolar AS yang didorong rencana sanksi AS terhadap Iran serta rilis data indeks PMI Jasa S&P Global AS Agustus yang solid di level 56,8.
"Para analis memperingatkan bahwa kesenjangan transaksi berjalan Indonesia ini mungkin akan terus berlanjut seiring dengan tetap tingginya harga minyak mentah, volume impor minyak yang tetap kuat, serta melemahnya ekspor akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan terus meningkatnya ketegangan politik di Timur Tengah antara AS, Israel, dan Iran, serta Rusia dan Ukraina di Eropa Timur," kata Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi.
Dari faktor domestik, Bank Indonesia mencatat pelebaran defisit transaksi berjalan pada triwulan II/2026 menjadi US$12,5 miliar atau 3,3 persen dari PDB. Di sisi lain, Neraca Pembayaran Indonesia triwulan II/2026 menunjukkan perbaikan dengan defisit yang menyusut ke US$900 juta, disokong surplus transaksi modal dan finansial sebesar US$12 miliar.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow