Saham BYAN Melonjak 20 Persen di Tengah Rumor Akuisisi Haji Isam

Smallest Font
Largest Font

Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) melonjak 20 persen hingga menyentuh batas auto rejection atas (ARA) di level Rp14.400 per unit pada perdagangan Jumat (14/8/2026). Kenaikan ini terjadi di tengah beredarnya rumor rencana akuisisi saham perseroan oleh pengusaha asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam.

Lonjakan harga saham emiten pertambangan batu bara tersebut mendorong kapitalisasi pasar BYAN melambung hingga sekitar Rp480 triliun. Kondisi ini sekaligus mengantarkan pemegang saham pengendali Bayan Resources, Low Tuck Kwong, kembali ke posisi puncak orang terkaya di Indonesia menyalip Prajogo Pangestu.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia yang dilansir dari Investor Daily, sebanyak 1,27 juta saham BYAN ditransaksikan dengan frekuensi 984 kali dan total nilai mencapai Rp17,20 miliar. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan hari sebelumnya, Kamis (13/8/2026), yang hanya mencatatkan volume 10,1 ribu saham senilai Rp121,28 juta.

Aksi beli bersih oleh investor asing turut menopang kenaikan harga saham dengan catatan net buy sebesar Rp2,01 miliar. Per 31 Juli 2026, Low Tuck Kwong tercatat masih memegang kepemilikan mayoritas sebesar 40,25 persen saham di perseroan.

Penguatan tajam juga menjalar ke sejumlah saham yang terafiliasi dengan lini bisnis Jhonlin Group milik Haji Isam. Saham PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) ditutup ARA naik 25,00 persen ke Rp1.375, sementara PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) menguat 6,63 persen ke level Rp2.010 per unit.

Rumor akuisisi merebak setelah sebuah media daring melaporkan kehadiran Haji Isam bersama Low Tuck Kwong dan pemilik Republik Korpora Indonesia Norman Joesoef saat meninjau area tambang BYAN di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada Sabtu (15/8/2026). Haji Isam dikabarkan bersiap mengambil alih sekitar 62 persen saham emiten tersebut.

Kendati demikian, pihak internal Jhonlin Group enggan memberikan konfirmasi resmi mengenai isu tersebut saat dihubungi IDXChannel. Lini bisnis Jhonlin Group sendiri mencakup sektor pertambangan melalui Jhonlin Baratama hingga bisnis nikel lewat kepemilikan saham di PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK).

Dari sisi kinerja keuangan, Bayan Resources membukukan kenaikan pendapatan menjadi US$ 1,74 miliar pada semester I-2026 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya senilai US$ 1,62 miliar. Pertumbuhan tersebut mendorong laba bersih perusahaan naik dari US$ 349,24 juta menjadi US$ 410,25 juta.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed