Amerika Serikat Meluncurkan Serangan Udara Baru ke Wilayah Iran
Militer Amerika Serikat meluncurkan serangan udara baru ke pangkalan militer Iran di Bandar Abbas dekat Selat Hormuz pada Kamis, 28 Mei 2026, waktu setempat. Tindakan ini memicu ketegangan baru dan mengancam gencatan senjata yang baru berlangsung beberapa pekan di antara kedua negara.
Komando Pusat AS mengonfirmasi pasukannya menembak jatuh empat drone Iran serta menyerang lokasi peluncuran drone kelima untuk melindungi pasukan mereka. Sementara itu, Iran membalas dengan menembak jatuh drone MQ-9 Reaper milik AS menggunakan sistem pertahanan udara baru bernama Arash e-Kamangir di dekat Pulau Qeshm.
Garda Revolusi Islam Iran mengklaim telah melancarkan serangan balasan ke pangkalan udara AS setelah insiden tersebut. Di sisi lain, media Iran melaporkan bahwa militer mereka melepaskan tembakan peringatan ke arah empat kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz tanpa koordinasi keamanan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui juru bicara Stephane Dujarric menyatakan keprihatinan mendalam atas baku tembak ini dan mendesak kedua pihak mematuhi kesepakatan gencatan senjata demi memulihkan kebebasan navigasi. Pengamat hubungan internasional Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, memprediksi konflik konvensional ini berpotensi meluas ke wilayah Indo-Pasifik dan berlangsung hingga Juli 2026.
Meskipun terjadi eskalasi militer, negosiator kedua negara dilaporkan telah mencapai kesepakatan awal untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari dan memulai pembahasan program nuklir. Namun, dokumen rancangan kesepakatan tersebut belum ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump maupun dikonfirmasi secara resmi oleh pihak Teheran.
"Pelanggaran serius atas gencatan senjata" cetus laporan media Iran mengenai respons pemerintah terhadap serangan berkali-kali dari pihak militer Amerika Serikat.
Di Washington, pemerintah Amerika Serikat menegaskan posisi mereka mengenai kesiapan pasukan di Timur Tengah jika kesepakatan damai gagal tercapai.
"Mungkin kita harus kembali dan menyelesaikannya, mungkin juga tidak," ujar Donald Trump, Presiden AS.
Pihak Gedung Putih juga membantah beberapa poin klaim sepihak mengenai draf perjanjian damai yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran.
"Pasukannya juga menembak jatuh empat drone milik Iran yang "menimbulkan ancaman di sekitar Selat Hormuz"" sebut Centcom.
Ketegangan di Selat Hormuz ini terus dipantau oleh dewan keamanan internasional karena berdampak langsung pada stabilitas jalur pasokan energi global.
"terukur, murni defensif, dan dimaksudkan untuk mempertahankan gencatan senjata" terang Centcom.
Serangan pada awal pekan ini juga menyasar beberapa kapal yang dicurigai oleh pihak intelijen barat sedang mengangkut logistik militer.
"untuk melindungi pasukan kami dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran" tambah Centcom.
Pihak luar negeri Iran menyatakan tidak akan tinggal diam terhadap aktivitas militer asing di wilayah kedaulatan mereka.
"tidak akan membiarkan satu pun tindakan permusuhan tanpa balasan." janji pemerintah Iran.
Garda Revolusi Iran mengklaim pencegatan jet tempur asing merupakan bukti kesiapan sistem pertahanan udara domestik mereka.
"sebagian besar telah negosiasikan" kata Donald Trump, Presiden AS.
Pemerintah Amerika Serikat menginstruksikan tim delegasi mereka untuk tetap mengutamakan kepentingan nasional dalam setiap klausul perjanjian.
"belum puas" cetus Donald Trump, Presiden AS.
Kondisi ekonomi domestik Iran yang tertekan akibat sanksi internasional dinilai menjadi salah satu faktor pendorong negosiasi ini.
"sangat berniat" kata Donald Trump, Presiden AS.
Gedung Putih menyatakan negosiasi masih berjalan dinamis dan belum ada keputusan final yang diambil oleh presiden.
"sejauh ini mereka belum sampai ke tahap itu" tambah Donald Trump, Presiden AS.
Rancangan awal kesepakatan damai yang beredar di media lokal Teheran langsung mendapat respons negatif dari perwakilan Washington.
"rekayasa sepenuhnya" tuduh Gedung Putih.
Pihak Amerika Serikat menegaskan proses diplomasi tidak boleh dilakukan secara tergesa-gesa demi mencapai perdamaian jangka panjang.
"agar tidak terburu-buru" perintah Donald Trump, Presiden AS.
Washington menilai posisi tawar Teheran melemah akibat blokade ekonomi dan rangkaian serangan militer dalam beberapa bulan terakhir.
"Mereka hanya ingin membuat kesepakatan—saya rasa mereka tidak punya pilihan." kata Donald Trump, Presiden AS.
Trump menyatakan kesepakatan akhir harus memenuhi standar keamanan yang diajukan oleh Amerika Serikat dan sekutunya.
"Iran sangat berniat, mereka benar-benar ingin mencapai kesepakatan. Sejauh ini mereka belum sampai ke tahap itu dan kami belum puas, tetapi kami akan mencapainya. Jika tidak, kami mungkin harus menuntaskannya." tegas Donald Trump, Presiden AS.
Kementerian Luar Negeri Iran memprotes keras serangan udara yang merusak beberapa fasilitas publik di wilayah pantai selatan.
"pelanggaran serius" tuding Iran.
Centcom menyatakan serangan tersebut menyasar infrastruktur militer yang digunakan untuk mengganggu jalur pelayaran internasional.
"serangan untuk membela diri" sebut Centcom.
Dampak ekonomi akibat penutupan jalur laut di Selat Hormuz menjadi perhatian utama negara-negara importir minyak mentah.
"Tindakan agresif dan tidak dapat dibenarkan" nilai Kementerian luar negeri Iran.
Teheran memastikan akan mengambil langkah diplomasi dan militer yang diperlukan untuk menjaga keamanan wilayah kedaulatan mereka.
"Tanpa ragu, Republik Islam Iran tidak akan membiarkan tindakan jahat apa pun tanpa balasan dan tidak akan ragu untuk membela bangsa Iran," tegas pernyataan resmi Iran.
Pasukan koalisi menyatakan operasi militer harian di kawasan tersebut murni ditujukan untuk menjaga stabilitas keamanan regional.
"melaksanakan serangan untuk membela diri di Iran selatan hari ini guna melindungi pasukan kami dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran." kata Centcom.
Diplomat Amerika Serikat menyatakan proses negosiasi draf perdamaian komprehensif memerlukan ketelitian tinggi dari kedua pihak.
"memakan waktu beberapa hari" kata Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS.
Pakar internasional menilai eskalasi terbaru ini akan mengubah peta aliansi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
"Amerika Serikat akan terus menyerang Iran tanpa batas waktu berhenti. Iran akan membalas dengan menggunakan perangkat Plasma, yang daya rusak dan daya hancurnya luar biasa," kata Teuku Rezasyah, Pakar Hubungan Internasional Universitas Padjajaran.
PBB memperingatkan bahwa keterlibatan pihak ketiga secara tidak langsung dapat memperumit penyelesaian konflik diplomasi ini.
"Terdapat potensi perang ini meluas, dengan melibatkan dukungan diam-diam dari sekutu-sekutu AS di Indo-Pasifik," ucap Teuku Rezasyah, Pakar Hubungan Internasional Universitas Padjajaran.
Analisis militer menunjukkan dominasi logistik Amerika Serikat menjadi faktor penentu jangka waktu operasi militer ini.
"Diperkirakan perang konvensional akan berlangsung lebih lama. AS akan menyatakan dirinya sebagai pemenang perang menjelang 4 Juli 2026. Yakni 250 tahun pendirian AS," tutur Teuku Rezasyah, Pakar Hubungan Internasional Universitas Padjajaran.
Beberapa media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran melaporkan adanya aktivitas kapal asing ilegal di wilayah perairan mereka.
"Empat kapal mencoba melewati Selat Hormuz dan memasuki Teluk Persia tanpa berkoordinasi dengan pasukan keamanan yang bertanggung jawab atas selat tersebut," lapor media afiliasi pemerintah Iran.
Otoritas pelabuhan Iran menegaskan prosedur keamanan ketat diterapkan bagi seluruh kapal komersial yang melintas.
"Mereka telah diperingatkan, dan setelah mengabaikan peringatan tersebut, tembakan peringatan dilepaskan ke arah mereka, memaksa mereka untuk berbalik arah," tulis laporan media afiliasi pemerintah Iran.
Penggunaan taktik asimetris oleh militer Iran dinilai cukup efektif meredam dominasi teknologi militer barat di kawasan selat.
"musuh" sebut koran Fars.
Pejabat militer Iran menyatakan penggunaan teknologi deteksi siluman lokal merupakan bentuk kemandirian industri pertahanan mereka.
"Operasi ini, yang dilakukan menggunakan sistem dengan kemampuan tersembunyi, adalah pesan yang jelas dan tegas dari Iran," kata pejabat Iran.
Pengamat militer independen melihat adanya kemiripan strategi pertahanan Iran dengan konflik modern di wilayah Eropa Timur.
"Iran menjadi cukup mandiri dalam berbagai bentuk desain rudal dan, seperti Ukraina, telah cerdik mengubah ekonomi peperangan. Sistem yang murah dan sederhana dapat mengancam sistem yang jauh lebih kompleks," kata Mark Hilborne, Dosen senior di King's College London.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow