Donald Trump Buka Opsi Kuasai Cadangan Minyak Iran

Smallest Font
Largest Font

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencetuskan peluang bagi negaranya untuk tetap bertahan di wilayah Iran dan menguasai cadangan minyaknya pada Minggu (13/9/2026). Pernyataan tersebut disampaikan Trump di sela-sela kunjungannya ke Irlandia saat pasar minyak global kembali berguncang hingga menembus angka US$ 100 per barel akibat ketegangan di Timur Tengah.

Trump membandingkan wacana keterlibatan AS di Iran dengan kesepakatan pengambilalihan kendali atas seperlima cadangan minyak Venezuela yang dicapai pada Agustus lalu. Dalam skenario tersebut, pemerintahan AS mencapai kesepakatan dengan Caracas untuk membeli 20 persen minyak dari North American Blue Energy Partners seharga biaya produksinya guna mengisi Cadangan Minyak Strategis AS.

Dalam kesempatan tersebut, Trump menegaskan bahwa Washington hanya akan menyetujui kesepakatan damai yang dinilai tepat bagi pihak Amerika Serikat.

"Pada akhirnya kita akan keluar (dari Iran), kecuali jika kita memutuskan untuk tetap bertahan dan menguasai minyaknya seperti di Venezuela," ucap Trump, dilaporkan Reuters.

Pendapatan minyak dari Venezuela diklaim telah membiayai pengeluaran perang AS berkali-kali lipat. Trump juga mengklaim bahwa pihak Teheran terus menghubungi Washington untuk negosiasi damai, meski Teheran telah membantah klaim tersebut secara tegas.

"He is a special player," kata Trump.

Mengenai durasi konflik militer, Presiden AS menyatakan harapannya agar peperangan melawan Iran dapat berakhir pada tahun ini. Penurunan harga bahan bakar minyak juga diproyeksikan terjadi setelah konflik bersenjata tersebut usai.

Guncangan pasar energi ini dipicu oleh serangan terhadap jaringan pipa minyak Arab Saudi serta penutupan Selat Hormuz oleh militer Iran sejak Februari lalu. Namun, laporan AP mencatat pasukan AS berhasil melonggarkan blokade Iran di jalur perairan vital tersebut melalui operasi pengawalan Angkatan Laut AS dan pembersihan ranjau oleh tim Navy SEAL.

Analis minyak dari Kpler, Homayoun Falakshahi, memperkirakan ekspor minyak Iran merosot tajam dari 1,85 juta barel per hari pada musim semi lalu menjadi sekitar 255.000 barel pada Agustus 2026. Di sisi lain, Menteri Energi AS Chris Wright mengonfirmasi pada 6 September bahwa lalu lintas ekspor minyak kawasan Selat Hormuz telah pulih hingga dua pertiga dari tingkat sebelum konflik.

Meskipun tekanan ekonomi dan sanksi AS makin memperberat kondisi dalam negeri Iran, pengamat politik menilai konflik belum mencapai titik penyelesaian diplomatik. Teheran masih melanjutkan serangan balasan terhadap kapal-kapal komersial serta pangkalan militer AS di kawasan Arab.

"Masalah utama Washington adalah mereka masih kekurangan teori kemenangan: Semakin banyak kapal yang melewati (Selat Hormuz) dan Iran menderita kerugian, tetapi semua itu masih belum menghasilkan hasil politik apa pun," komentar Ali Vaez, seorang ahli Iran di International Crisis Group.

Pensiunan Kapten Angkatan Laut AS Bill Hamblet memaparkan risiko tinggi yang dihadapi tim penyelam Navy SEAL dalam operasi pembersihan ranjau laut Iran di Selat Hormuz.

"Biasanya, benda tersebut kemudian diperiksa oleh penyelam Angkatan Laut yang harus masuk ke air dan mendekati ranjau, lalu memasang bahan peledak untuk menghancurkannya," kata Bill Hamblet, seperti dilaporkan Financial Times.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed