Sineas Imam Tantowi Meninggal Dunia Akibat Komplikasi Jantung
Sineas senior tanah air Imam Tantowi mengembuskan napas terakhir pada usia 80 tahun di Karawaci, Tangerang, Banten, pada Jumat, 21 Agustus 2026 petang. Sutradara dan penulis skenario kawakan tersebut meninggal dunia akibat komplikasi penyakit jantung.
Kabar duka tersebut dikonfirmasi oleh Humas Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI), Evry Joe, melalui rekaman suara yang diterima di Jakarta.
"Telah berpulang, meninggal dunia, Bapak Imam Tantowi. Beliau adalah sutradara besar kita, berpulang pada sore ini di usia 80 tahun," kata Evry Joe, Humas PARFI.
Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka yang berlokasi di Jalan Mawaddah X Blok J-8 No. 13, Perumahan Islamic, Karawaci, Tangerang. Evry Joe turut memberikan penghormatan terakhirnya bagi mendiang.
"Saya pribadi mengucapkan selamat jalan, Mas Imam. Semoga karya-karyamu menjadi pembelajaran untuk sineas-sineas muda dan menjadi amal di dunia dan akhirat," ujar Evry Joe, Humas PARFI.
Mengenai kondisi medis almarhum, pihak keluarga menyampaikan bahwa kesehatan sutradara spesialis film laga tersebut sempat menurun sebelum wafat karena penyakitnya telah menyebar ke organ vital lain.
"Jadi sebelum mengembuskan napas terakhir, Bapak itu ada komplikasi penyakit jantung. Selain jantung, paru-parunya juga terkena. Tapi tidak dirawat di rumah sakit, di rumah abang saya di Karawaci," terang Pinandita, Putra Almarhum Imam Tantowi.
Pinandita yang juga menjabat sebagai CEO VOI Media Group menjelaskan bahwa sang ayah masih sempat menjalankan ibadah salat sebelum dinyatakan meninggal dunia selepas waktu Magrib.
"Almarhum tadi waktu Asar untuk wudu dibantu sama abang saya, tapi untuk salat beliau masih bisa sendiri. Nah habis Magrib abang saya menghubungi saya kalau Bapak sudah pergi," ujar Pinandita, Putra Almarhum Imam Tantowi.
Pihak keluarga lantas mendatangkan tenaga medis ke rumah duka untuk memastikan kondisi almarhum secara medis serta mengurus administrasi pemakaman.
"Kami ingin memastikan bahwa Bapak memang sudah meninggal dunia dan untuk administrasi serta surat kematian," katanya Pinandita, Putra Almarhum Imam Tantowi.
Pihak keluarga masih melakukan koordinasi terkait penetapan lokasi serta jadwal pemakaman almarhum.
"Kami akan kabarkan lagi untuk pemakaman di mana dan kapan waktnya," katanya Pinandita, Putra Almarhum Imam Tantowi.
Ungkapan belasungkawa juga disampaikan secara resmi oleh Festival Film Indonesia (FFI) dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) melalui media sosial.
"Festival Film Indonesia turut berduka sedalam-dalamnya atas kepergian H. Imam Tantowi13 Agustus 1946 - 21 Agustus 2026. Terima kasih atas segala dedikasi dan pengabdian yang telah diberikan. Semoga setiap kebaikan dan karya yang ditinggalkan menjadi amal yang terus mengalir," begitu unggahan di media sosial FFI.
Penghormatan atas dedikasi almarhum yang pernah memenangkan penghargaan Lifetime Achievement pada FFI 2024 turut disuarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta.
"Sosok penulis dan sutradara ini telah memberikan kontribusi penting dalam perkembangan perfilman Indonesia. Atas kiprahnya, ia meraih Lifetime Achievement pada Festival Film Indonesia (FFI) 2024. Selamat jalan H. Imam Tantowi.Karya dan jejakmu akan selalu mengenang," begitu unggahan di media sosial Dewan Kesenian Jakarta.
Lahir di Tegal pada 13 Agustus 1946, Imam Tantowi mengawali kariernya dari panggung teater pada 1960-an sebelum terjun ke industri film sebagai pemeran, penata artistik, penulis skenario, hingga sutradara sejak 1970-an dan menyutradarai film pertamanya pada 1982.
Sepanjang kariernya, ia melahirkan karya-karya populer seperti Lebak Membara, Carok, Si Badung, Saur Sepuh IV, dan Soerabaia 45. Ia berhasil meraih Piala Citra Penulis Cerita Asli Terbaik FFI 1989 lewat film Si Badung serta Piala Citra Sutradara Terbaik FFI 1991 lewat film Soerabaia 45.
Di layar kaca, Imam Tantowi sukses mengarahkan sinetron Angling Darma serta memenangkan Piala Vidia lewat sinetron Madu Racun dan Anak Singkong (1994), Jejak Sang Guru (1995), dan Suami-suami Takut Istri (1996). Karakter dan ide ceritanya dalam sinetron Bang Jagur dan Maha Kasih episode "Tukang Bubur Naik Haji" juga menjadi cikal bakal lahirnya sinetron Tukang Bubur Naik Haji The Series pada 2012.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow