Sistem Peringatan Dini Nepal Terbukti Kurang Efektif Tangani Bencana Banjir

Smallest Font
Largest Font

Sistem peringatan dini yang seharusnya melindungi masyarakat dari bencana alam terbukti belum cukup efektif. Di Nepal, meski lebih dari 600.000 pesan darurat berhasil dikirimkan ke perangkat warga, banjir besar akibat runtuhnya gletser raksasa di Taman Nasional Langtang tetap menimbulkan korban jiwa dan kerusakan parah, dilansir dari Detik iNET.

Early Warning Systems (EWS) dirancang tidak hanya untuk mengirimkan notifikasi saat bencana sudah terjadi. Sistem ini seharusnya mampu mendeteksi potensi bahaya sejak awal, memantau perkembangannya, dan memprediksi arah pergerakannya agar masyarakat dan tim penanggulangan bisa bertindak cepat.

Kunci keberhasilan EWS terletak pada kecepatan penyampaian informasi. Dalam kasus banjir, stasiun pemantau sungai di titik strategis dapat mengukur ketinggian dan debit air. Kamera dan sensor lain menyediakan data tentang kecepatan aliran serta material hanyut. Dengan pemodelan real-time, informasi ini bisa memprediksi kapan banjir mencapai permukiman, seberapa parah dampaknya, dan wilayah mana yang terancam.

Data ini sangat vital bagi petugas tanggap darurat. Jika pihak berwenang tahu bahwa suatu permukiman memiliki waktu 20 menit sebelum banjir tiba, sementara wilayah lain memiliki 50 menit, mereka bisa memprioritaskan evakuasi dan mengidentifikasi jalan atau jembatan yang akan terputus.

Keterbatasan Sistem di Nepal

Bencana di Nepal dimulai sekitar pukul 08.40 pagi, saat gletser raksasa runtuh dan memicu banjir besar di Sungai Bhote Koshi. Divisi Prakiraan Banjir Nepal segera menerima laporan, dan dalam hitungan menit, ratusan ribu pesan peringatan dikirimkan. Namun, stasiun pemantau Syabrubesi di utara Nepal sudah berhenti mengirimkan data saat banjir melanda.

Risiko bencana semacam ini sebenarnya sudah lama diketahui. Kajian tahun 2020 oleh International Centre for Integrated Mountain Development dan UNDP mengidentifikasi 47 danau glasial berpotensi bahaya di wilayah aliran sungai utama. Pemantauan dilakukan menggunakan citra satelit, kamera, alat pengukur ketinggian air, stasiun cuaca, dan sensor pergerakan tanah atau es.

Pemerintah Nepal bahkan telah menerapkan teknologi serupa di Danau Imja, danau glasial yang berkembang pesat di Himalaya. Sensor dan sirene otomatis dipasang pada 2016, tetapi peralatan tersebut kini tidak berfungsi optimal akibat kurangnya pemeliharaan.

Solusi untuk Sistem yang Lebih Tangguh

Banjir dahsyat di Nepal mengungkap keterbatasan EWS. Bagi warga yang berada dekat sumber bencana, peringatan seringkali datang terlambat. Oleh karena itu, otomatisasi sistem menjadi kunci. Saat sensor mendeteksi bahaya, informasi harus segera sampai ke pihak berwenang, lalu disebarkan melalui peringatan berbasis lokasi ke warga.

Namun, jaringan seluler dan listrik bisa terputus saat bencana. Oleh karena itu, sirene, radio, dan tim tugas setempat yang terlatih menjadi cadangan penting. Mereka memastikan warga tahu ke mana harus mengungsi dan rute evakuasi mana yang aman.

Infrastruktur pemantauan juga harus tangguh. Di Nepal, beberapa stasiun cuaca berhenti berfungsi atau hanyut terbawa arus saat banjir. Solusinya, menempatkan stasiun cuaca, jalur komunikasi, dan sistem daya cadangan secara strategis agar tetap beroperasi meski sebagian instrumen gagal.

Penelitian selanjutnya perlu difokuskan pada intervensi paling efektif dan wilayah penerapannya. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, seperti jarak ideal antarstasiun pemantau sungai dan waktu peringatan yang dibutuhkan berbagai kelompok masyarakat untuk evakuasi aman.

Setiap menit sangat berharga saat bencana mendekat. Sistem peringatan dini yang efektif bertujuan memastikan setiap detik tersebut dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed