Banjir Bandang Nepal Tewaskan 1.367 Orang dan Rusak Pemukiman
Jumlah korban tewas akibat banjir bandang di Nepal utara melonjak menjadi 1.367 orang hingga Rabu (9/9/2026). Bencana yang melanda sejak Rabu pagi (26/8/2026) tersebut dipicu oleh penyusutan gletser yang menimbulkan tanah longsor dan luapan deras ke Sungai Bhotekoshi.
Otoritas lokal yang dilansir China Central Television (CCTV) mencatat sebanyak 5.132 warga masih dinyatakan hilang. Angka ini meningkat dari laporan sebelumnya yang mencatat 1.355 korban jiwa dan 4.996 orang hilang.
Dahsyatnya luapan air menghancurkan berbagai infrastruktur dan pemukiman warga di sekitar aliran sungai. Di tengah kepungan banjir, muncul kisah evakuasi cepat yang menyelamatkan ratusan nyawa. Rajendra Dawadi berhasil mengambil keputusan krusial dalam tempo 10 menit untuk mengevakuasi 900 siswa Sekolah Menengah Tribhuvan Trishuli tepat sebelum air menghempas bangunan sekolah.
Di kawasan pemukiman lain, sebuah rumah bercat hijau milik pasangan Prakash dan Laxmi Pandey viral karena tetap berdiri kokoh meski telah berusia 40 tahun dan dikelilingi bangunan lain yang hancur tersapu arus.
Prakash menceritakan momen mencekam saat debit air terus naik dan mengharuskan keluarganya berpindah ke lantai yang lebih tinggi.
Jumlah korban jiwa akibat bencana banjir bandang yang menerjang wilayah utara Nepal pada Rabu (26/8/2026) pagi meningkat menjadi 1.367 orang. Selain itu, sebanyak 5.132 warga dilaporkan masih hilang dalam musibah tersebut.
Laporan China Central Television (CCTV) mengutip otoritas Nepal pada Rabu (9/9/2026) mencatat kenaikan jumlah korban tewas dari data sebelumnya yang berada di angka 1.355 orang. Angka warga yang hilang juga membengkak dari laporan awal sebanyak 4.996 orang.
Bencana ini dipicu oleh penyusutan gletser yang memicu tanah longsor. Material longsor tersebut mendorong luapan air deras masuk ke aliran Sungai Bhotekoshi hingga memicu banjir bandang meluas di kawasan tersebut.
Di tengah terjangan banjir dahsyat, aksi penyelamatan kilat terjadi di Sekolah Menengah Tribhuvan Trishuli. Keputusan yang diambil Rajendra Dawadi dalam kurun waktu 10 menit berhasil menyelamatkan 900 siswa dari terjangan air bah sebelum menerjang bangunan sekolah.
Banjir juga menyapu area pemukiman dan menghancurkan berbagai infrastruktur. Namun, sebuah rumah bercat hijau milik pasangan Prakash dan Laxmi Pandey yang berusia 40 tahun viral di media sosial karena tetap berdiri kokoh meski berada dekat sungai.
Prakash menceritakan kepasrahannya saat air sungai mulai meluap drastis hingga menjungkirbalikkan kendaraan di sekitar kediamannya.
"Saat Anda merasa bahwa ini mungkin saat terakhir hidup Anda, apa yang bisa dipikirkan? Saya merasa mungkin hidup kami akan berakhir," kata Prakash dikutip dari Times of India.
Saat menyadari bahaya mendesak, Prakash bergegas dari tokonya dan menginstruksikan seluruh anggota keluarga untuk menyelamatkan diri ke lantai yang lebih tinggi. Kendati bangunan utama rumahnya bertahan berkat struktur fondasi yang kuat, bagian bawah rumah tetap mengalami kerusakan serta kehilangan dua mobil dan sepeda motor yang tersapu arus.
Prakash menjelaskan bahwa daya tahan rumahnya berasal dari pemilihan material semen berkualitas tinggi serta investasi ekstra pada lapisan fondasi saat dibangun 40 tahun lalu.
"Kami juga menghabiskan banyak uang memperkuat rumah, karena letaknya dekat dengan sungai. Dari segi keamanan, kami memasang dua atau tiga lapis material jalan di bawahnya," dia menjelaskan.
Dia menambahkan bahwa konstruksi kuat tersebut membutuhkan biaya besar demi menjamin keamanan bangunan dari ancaman luapan air sungai.
"Jadi fondasinya dibuat cukup kuat. Kami mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk rumah ini," imbuhnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow