Socceroos Rayakan Keberagaman Lewat Dokumenter Wogball Jelang Piala Dunia

Smallest Font
Largest Font

Stasiun televisi SBS resmi menayangkan perdana dokumenter Wogball: Australia's Beautiful Game pada Selasa (23/6/2026) malam waktu setempat, yang menyoroti perjalanan sejarah dan perkembangan multikulturalisme dalam sepak bola Australia menjelang turnamen akbar Piala Dunia FIFA 2026.

Dilansir dari akses.co.id, dokumenter yang dipandu oleh aktor Anthony LaPaglia ini mengulas bagaimana sepak bola berevolusi dari olahraga kaum imigran menjadi olahraga nasional. Tayangan ini turut mengangkat perjuangan mengatasi rasisme institusional di era Kebijakan Australia Putih serta melibatkan berbagai tokoh seperti Vince Colosimo hingga Craig Foster.

Momentum peluncuran ini bertepatan dengan Pekan Pengungsi Dunia, di mana skuad tim nasional Australia saat ini menjadi representasi nyata dari pesan keberagaman tersebut. Penyerang Socceroos, Awer Mabil, menjadi salah satu figur penting yang menyuarakan pesan multikulturalisme lewat video kampanye tim yang viral di media sosial.

Saat sesi konferensi pers di Oakland, Mabil sempat kehilangan konsentrasi ketika melihat komentator SBS, David Basheer. Pemain berusia 30 tahun kelahiran kamp pengungsian Kakuma di Kenya tersebut langsung menyampaikan rasa terima kasihnya karena tumbuh besar dengan menonton tayangan sepak bola di saluran itu.

"Maaf, David dari SBS, kan?" sela Mabil sebagaimana dikutip dari zonautara.com.

"Saya tumbuh besar menonton kamu." lanjut Mabil.

Mabil menjelaskan bahwa saluran televisi gratis tersebut memberikan kenangan indah masa kecil karena menayangkan cuplikan dari seluruh dunia sepak bola. Ia kemudian merefleksikan perannya sebagai figur senior yang mengayomi para pemain muda keturunan pengungsi Afrika di timnas Australia, seperti Mo Touré dan Nestory Irankunda.

"Saya tumbuh menonton SBS sebagai anak, karena itu adalah TV gratis. Jadi, kamu melakukan World Game, di situlah saya melihat semua sorotan dari seluruh dunia sepak bola," kata Mabil.

"Jadi, pertama-tama, terima kasih, kamu memberikan saya kenangan indah sebagai anak." tambah Mabil.

Keberhasilan Irankunda mencetak gol melawan Turki memicu perhatian publik terhadap video kampanye keberagaman tim yang dirilis seminggu sebelum turnamen. Mabil menegaskan bahwa video berdurasi dua menit tersebut disukai banyak orang karena menyampaikan pesan yang jujur dan apa adanya dari para pemain.

"Itu adalah momen untuk menggambarkan apa itu Australia, dan Australia adalah negara yang sangat multikultural, dan itulah yang menjadikannya negara terbaik di dunia, menurut saya," kata Mabil.

"Kamu memiliki seluruh dunia di satu tempat dan Socceroos sekarang adalah representasi dari itu. Kamu memiliki banyak latar belakang yang berbeda mewakili satu jersey." lanjut Mabil.

Mabil menilai sifat video yang tidak melalui proses penyuntingan ketat membuatnya terasa murni dan berdampak langsung bagi masyarakat Australia yang memiliki keterikatan emosional serupa.

"Alasan mengapa video itu menjadi viral adalah karena itu mentah. Itu tidak diedit. Itu murni apa yang ingin dikatakan pemain dan semua disusun bersama," kata Mabil.

"Itu berdampak karena secara individu, orang Australia bisa merasakan dan berhubungan dengan hal itu." jelas Mabil.

Melalui momentum Pekan Pengungsi Dunia ini, Mabil yang pernah menetap di Adelaide setelah bermigrasi pada usia 10 tahun, mengirimkan pesan dukungan moral yang kuat kepada seluruh pengungsi di dunia yang sedang berjuang keras.

"Ini Pekan Pengungsi, dan saya ingin mengatakan kepada siapa pun yang terpaksa meninggalkan rumahnya di seluruh dunia bahwa kami bersama kalian," ujar Mabil seperti dilansir beritasatu.com.

"Kami berada di panggung besar sekarang, di turnamen besar, dan saya ingin menunjukkan semuanya mungkin, jadi teruslah berjuang," tambah Mabil.

Meskipun belum mendapatkan menit bermain pada laga pembuka tahun ini, mantan pemain Adelaide United itu tetap menikmati perannya dalam menjaga kebersamaan tim di pusat latihan Claremont Resort and Club.

"Saya bangga dengan para pemain," ujarnya.

"Banyak dari mereka datang dari Adelaide, dan itu menunjukkan kekuatan komunitas sepak bola kami," lanjut Mabil.

Mabil mengakui bahwa membimbing para pemain muda memiliki tantangan tersendiri, namun ia berkomitmen penuh untuk selalu hadir memberikan perlindungan dan dukungan emosional di dalam ruang ganti.

"Kadang ingin menegur mereka," ujarnya sambil tertawa.

"Namun, saya harus hadir untuk mereka. Tidak ada yang punya semua jawaban. Yang penting kami tetap saling mendukung dan menjaga kebersamaan di turnamen seperti ini," tambahnya.

Sementara itu, bek Socceroos kelahiran Italia, Alessandro Circati, menyatakan tekad timnya untuk membuktikan kemampuan mereka di atas lapangan agar tidak lagi dipandang sebelah mata oleh dunia.

"Saya berharap kami mulai mendapatkan lebih banyak respek. Saya tidak ingin selamanya menjadi tim underdog," kata Circati.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed