Studi CSIRO Ungkap Rata-Rata Frekuensi Kentut Manusia per Hari

Smallest Font
Largest Font

Sebuah riset dari badan penelitian Australia, Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO), mengungkapkan frekuensi buang gas harian manusia. Penelitian ini menggunakan aplikasi ponsel bernama 'Chart Your Fart' untuk mengumpulkan data riil dari masyarakat. Aplikasi tersebut dirancang khusus agar peserta dapat mencatat aktivitas buang gas secara terselubung tanpa diketahui orang sekitar.

Seperti dilansir dari Detik Health, sebanyak 6.400 peserta berpartisipasi dan berhasil mengumpulkan total 360.192 data kentut. Hasil analisis menunjukkan bahwa seseorang rata-rata buang gas sebanyak lima kali dalam sehari. Sementara itu, nilai median atau titik tengah dari seluruh data berada di angka 3,8 kali per hari.

Perbedaan antara nilai rata-rata dan median terjadi akibat lonjakan frekuensi tinggi pada sebagian kecil peserta. Pola frekuensi ini terpantau konsisten di seluruh kelompok demografi, tanpa membedakan faktor usia maupun jenis kelamin.

Mayoritas responden, yakni sekitar 79,3 persen, mencatat rentang frekuensi buang gas antara dua hingga tujuh kali sehari. Temuan ini tergolong lebih rendah dibandingkan estimasi riset terdahulu yang menyebut frekuensi harian mencapai 14 hingga 23 kali. Para peneliti menjelaskan bahwa metodologi pengumpulan data menjadi penyebab timbulnya perbedaan angka tersebut. Mengingat peserta wajib mencatat secara sadar melalui ponsel, aktivitas buang gas yang terjadi saat tidur malam tidak masuk ke dalam perhitungan.

Meskipun buang gas merupakan mekanisme alami tubuh, lonjakan frekuensi yang drastis dapat mengindikasikan gangguan kesehatan tertentu. Oleh karena itu, ketersediaan data dasar mengenai batas normal menjadi aspek penting dalam penanganan medis. Produksi gas berlebih berpotensi menjadi indikator sensitivitas pencernaan terhadap kandungan pangan tertentu, seperti laktosa pada susu atau gluten. Selain faktor makanan, kondisi medis sistemik seperti diabetes dan hipotiroidisme turut memicu penumpukan gas dalam tubuh.

Masalah pencernaan spesifik seperti irritable bowel disease (IBS) maupun kondisi small intestinal bacterial overgrowth (SIBO) juga berkolerasi dengan peningkatan produksi gas. Kendati demikian, buang gas pada dasarnya tetap menandakan fungsi pencernaan yang berjalan. Faktor gaya hidup harian dapat merangsang masuknya udara ekstra ke saluran cerna.

Kebiasaan merokok, mengunyah permen karet, serta meminum minuman berkarbonasi terbukti meningkatkan volume gas di dalam perut. Konsumsi asupan tinggi serat seperti kacang-kacangan, lentil, brokoli, dan kubis Brussel juga memicu pembentukan gas. Proses tersebut terjadi secara alami saat bakteri usus besar melakukan fermentasi terhadap serat makanan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed