Studi Ungkap Perubahan Iklim Lipat Gandakan Risiko Kebakaran Hutan Ekstrem

Smallest Font
Largest Font
Table of Contents
[ Show ]

Penyebaran kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang kawasan Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Selatan makin memicu keprihatinan global terkait sulitnya penanganan api. Kondisi ini sejalan dengan temuan riset yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications, dilansir dari Detik iNET. Penelitian berjudul 'Climate change has increased the odds of extreme regional forest fire years globally' karya John T. Abatzoglou dan tim mengungkapkan aktivitas manusia memicu lonjakan ekstrem cuaca kebakaran.

Peluang hadirnya kondisi cuaca yang sangat mendukung terjadinya api (extreme fire weather) kini mencapai 88 hingga 152 persen lebih tinggi dibandingkan era praindustri.

Pengukuran penelitian ini mengacu pada Fire Weather Index (FWI) yang mengalkulasi berbagai indikator meteorologi terkait potensi dan perilaku penyebaran api. Ancaman utama bukan hanya bersumber dari lonjakan suhu udara semata. Ketika atmosfer menyebabkan peningkatan penguapan pada vegetasi, bahan bakar alami menjadi sangat kering dan siap terbakar.

Data analisis global menunjukkan bahwa pada tahun dengan kebakaran ekstrem, jumlah insiden api berukuran besar melonjak hingga 321 persen. Kondisi ini memicu kenaikan emisi karbon dari kebakaran hutan serta deforestasi yang melambung tinggi hingga sekitar 405 persen dibandingkan tahun non-ekstrem.

Wilayah seperti Amazon menjadi salah satu kawasan dengan peningkatan risiko tertinggi, di mana peluang timbulnya cuaca kebakaran ekstrem melesat lebih dari empat kali lipat.

Kompleksitas Karhutla di Wilayah Tropis

Meski demikian, para peneliti menggarisbawahi bahwa dinamika karhutla merupakan hasil interaksi rumit antara kondisi iklim, karakter vegetasi, tata guna lahan, serta aktivitas manusia.

Khusus di kawasan tropis seperti Asia Tenggara dan Amazon, fenomena tahun kebakaran ekstrem tidak selalu bertepatan dengan titik puncak indikator cuaca kebakaran paling ekstrem. Praktik pembukaan lahan secara konvensional dan aksi deforestasi memegang peran langsung yang amat krusial terhadap munculnya titik api. Pada ekosistem kaya lahan gambut seperti Kalimantan, iklim yang makin kering membuat material organik di permukaan tanah menjadi sangat rentan tersulut.

Kondisi cuaca ekstrem yang terjadi serentak di berbagai wilayah juga mengancam kapasitas operasional, karena lonjakan kebutuhan armada pemadam berpotensi melebihi daya tampung sumber daya yang ada.

Implikasi riset ini menegaskan perlunya penguatan sistem peringatan dini, pengelolaan lahan berisiko, serta kesiapan mitigasi guna menghadapi potensi karhutla yang kian agresif di masa depan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed