Suku Bunga The Fed Tetap Perkeruh Gejolak Pasar Keuangan Global
Kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat yang mempertahankan suku bunga acuan pada level 3,50 persen hingga 3,75 persen memicu kebingungan pelaku pasar keuangan global pada Rabu (29/7/2026). Langkah tersebut mendorong lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan menekan pergerakan indeks saham utama Wall Street serta pergerakan rupiah.
Keputusan mempertahankan tingkat bunga acuan tidak diambil secara mufakat oleh Federal Open Market Committee (FOMC). Tiga dari 12 anggota komite, yakni kepala bank regional Cleveland, Dallas, dan Minneapolis, mengajukan penolakan dan mengusulkan kenaikan sebesar 0,25 persen untuk meredam akselerasi inflasi dasar.
Gubernur The Fed Kevin Warsh menegaskan komitmen lembaga untuk mengendalikan inflasi yang masih bertahan di atas target 2 persen selama lima tahun terakhir, meski tidak memberikan petunjuk panduan konkret mengenai langkah selanjutnya.
"Saya ingin menegaskan bahwa keputusan komite ini sangat penting. Jika diperlukan dan dinilai tepat, kami tidak akan ragu untuk bertindak," kata Warsh, Ketua The Fed.
Gaya komunikasi yang minim arahan makroekonomi memicu kritik tajam dari kalangan analisis perbankan dan ekonomi. Pasar obligasi merespons dengan lonjakan imbal hasil obligasi tenor 10 tahun sebesar 7 basis poin ke level 4,67 persen, sementara tenor 30 tahun melesat melampaui 5,20 persen.
"Kalau benar-benar ingin membawa inflasi kembali ke 2%, saya rasa The Fed harus menaikkan suku bunga," kata Jeffrey Gundlach, pendiri DoubleLine Capital.
Pasar mencatat tekanan harga bahan bakar akibat konflik di Timur Tengah serta lonjakan investasi bisnis di bidang kecerdasan buatan menjadi pendorong utama kenaikan inflasi dasar.
"Yield obligasi jangka panjang naik tajam setelah konferensi pers karena pasar obligasi pada dasarnya mengatakan, 'Kalau Anda ingin kami percaya dengan retorika Anda, mulailah bertindak,'" kata Jeffrey Gundlach, pendiri DoubleLine Capital.
Warsh mengingatkan pelaku pasar agar tidak mengharapkan penanganan inflasi secara instan melalui perubahan kebijakan moneter cepat.
"Kami sedang bekerja, kami akan mewujudkannya, kami fokus untuk memastikan kami bisa melakukannya, tetapi anggapan bahwa kami bisa melakukannya dengan tongkat ajaib adalah sesuatu yang ingin saya singkirkan dari pikiran Anda semua," kata Warsh, Ketua The Fed.
Ketegangan geopolitik turut memperberat kondisi pasar usai Presiden AS Donald Trump menyatakan kesiapan militer untuk membalas serangan pangkalan di Timur Tengah, yang disusul insiden kebakaran kapal tanker di Mesir. Lonjakan harga minyak mentah West Texas Intermediate melebihi 6 persen ke posisi US$84,46 per barel.
"Kami akan menghajar mereka habis-habisan," kata Donald Trump, Presiden AS.
Dampak sentimen global terasa di pasar domestik Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,64 persen ke posisi 6.091,39, sedangkan rupiah berhasil membalikkan posisi dengan menguat tipis 0,06 persen ke level Rp18.045 per dolar AS di akhir perdagangan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow