Surutnya Waduk Gajah Mungkur Munculkan Makam Eyang Raden Santri
Surutnya debit air Waduk Gajah Mungkur (WGM) di Kelurahan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, kembali memunculkan deretan batu nisan makam kuno. Dikutip dari Detik Travel, fenomena ini menyingkap kembali kompleks pemakaman lama yang berada di dasar waduk.
Batu-batu nisan berbahan batu kapur dengan ukuran bervariasi antara setengah hingga dua meter nampak tersebar sekitar 500 meter dari Kantor Kelurahan Wuryantoro. Sebagian batu nisan masih terlihat utuh, sementara sebagian lainnya mulai terkikis oleh air.
Camat Wuryantoro, Soemardjono Fadjari, menjelaskan bahwa kemunculan area pemakaman tua tersebut merupakan peristiwa tahunan yang wajar terjadi saat musim kemarau.
"Setiap kemarau biasanya makam-makam itu mulai terlihat. Tapi baru sebagian, karena airnya masih cukup tinggi," kata Soemardjono, saat dihubungi awak media, Rabu (9/9/2026).
Ia menambahkan bahwa penurunan debit air pada tahun ini mengalami keterlambatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Biasanya Agustus sudah mulai kelihatan. Tahun ini surutnya agak lambat, sehingga belum semuanya muncul," pungkasnya.
Menurut tokoh masyarakat setempat, Suparso (77), pemakaman yang berada di wilayah bekas Dukuh Sentono, Desa Ngungkingsari tersebut merupakan area pemakaman umum warga. Namun, tempat tersebut dipimpin oleh sosok sesepuh bernama Eyang Raden Santri.
"Dulunya itu makam kampung, tapi terkenalnya, sesepuhnya, namanya Eyang Raden Santri. Lalu makam itu juga makam keluarganya, anak cucu, dan juga jadi makam umum," kata Suparso kepada awak media, Rabu (9/9).
Suparso mengisahkan bahwa Eyang Raden Santri dulunya merupakan seorang petani biasa. Suatu hari saat sedang mencangkul saluran air, ia menegur seorang pria misterius yang melintas di area tersebut.
"Eyang Raden Santri kemudian menegur, karena kalau rusak bagaimana. Pria itu mengatakan, untuk melihat kembali, apakah tempat bekas ia melintas itu membuat rusak (saluran air), atau tidak," ucapnya.
Karena saluran airnya tidak rusak sama sekali, Eyang Raden Santri merasa penasaran lalu mengejar sosok misterius tersebut hingga ke tepi Bengawan Solo.
"Kalau kamu mau ikut aku, kamu tak buatkan getek (rakit) ini. Rakit ini kalau jalan, kalau belum berhenti sendiri, kamu tidak boleh mentas (meninggalkan rakit)," ucap mantan dalang itu.
Eyang Raden Santri menuruti petunjuk itu hingga rakitnya berhenti di Kampung Keblokan, Desa Sendang Ijo, Kecamatan Selogiri. Di lokasi itulah ia dipulihkan fisiknya dan mendapat ajaran agama.
"Di sana (Keblokan) Eyang Raden Santri di-Islamkan, diajari baca surat-surat Al-Qur'an. Setelah itu, dia disuruh pulang dan menyiarkan agama Islam. Lalu dia punya nama Eyang Raden Santri itu," terangnya.
"Pria yang diikuti Eyang Raden Santri itu, kita prediksi adalah Wali Songo. Entah Sunan Kalijogo, entah Sunan Giri," imbuhnya.
Sekembalinya ke kampung halaman, Eyang Raden Santri menyebarkan ajaran Islam hingga dihormati masyarakat. Saat wafat, ia dimakamkan di kawasan yang kemudian tergenang proyek pembangunan WGM.
"Saya dulu pernah nyadran (ziarah), makamnya cukup besar. Sebelum orang-orang ke masjid, di situ juga untuk topobroto. Yang berziarah orang dari mana-mana," ucapnya.
Pembangunan Waduk Gajah Mungkur pada rentang tahun 1974 hingga 1981 telah menenggelamkan 51 desa di 7 kecamatan. Sebelum penggenangan, warga Dukuh Sentono direlokasi ke Jambi, sementara kerangka jenazah dari makam tua tersebut telah dipindahkan ke pemakaman baru di dekat Kantor Kelurahan Wuryantoro.
"Nisannya (yang lama) dibuang, disana (makam yang baru) dibuat nisan yang baru yang lebih bagus. Termasuk Eyang Raden Santri yang kerangkanya juga dipindah. Kalau makan yang itu (di WGM) sudah suwung (kosong), sudah dipindah semua," pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow