Swatch dan Audemars Piguet Luncurkan Jam Saku Royal Pop
Produsen jam tangan asal Swiss, Swatch dan Audemars Piguet resmi mengumumkan kolaborasi mereka melalui peluncuran koleksi jam saku "Royal Pop" pada Selasa, 12 Mei 2026. Arloji modular ini hadir dalam delapan varian warna berbeda dengan ditenagai oleh mesin mekanis internal buatan Swatch bernama Sistem51.
Koleksi Royal Pop mengadopsi elemen desain dari seri ikonis Audemars Piguet, Royal Oak, termasuk bezel berbentuk oktagon dengan delapan sekrup serta dial bermotif Petite Tapisserie. Cangkang jam ini terbuat dari material komposit bioskeramik milik Swatch dan dirancang menggunakan sistem modular dari lini Swatch POP tahun 1986, sehingga kepala jam dapat dilepas pasang dari dudukannya untuk dikaitkan pada tali gantungan atau pakaian.
Koleksi non-arloji tangan ini ditawarkan dalam dua gaya mekanis, yaitu tipe Lépine dengan kenop di posisi angka 12 seharga 400 dolar AS, serta tipe Savonnette dengan kenop di posisi angka 3 dan subdial detik kecil di posisi angka 6 seharga 420 dolar AS. Mesin Sistem51 versi putar manual yang digunakan dalam jam ini dirakit sepenuhnya oleh mesin, memiliki 15 paten aktif, cadangan daya hingga 90 jam, serta pegas keseimbangan Nivachron antimagnetik.
Langkah merilis jam saku alih-alih jam tangan ini dinilai sebagai upaya Audemars Piguet untuk menjaga basis pelanggan kelas atas mereka agar tidak mendevaluasi citra eksklusif produk Royal Oak yang berharga puluhan ribu dolar AS. Di sisi lain, bagi Swatch Group, kolaborasi ini diharapkan mampu mendongkrak penjualan setelah mencatat penurunan penjualan sebesar 6,75 persen dan penurunan laba operasional hingga 55,6 persen pada tahun 2025 akibat anjloknya permintaan di pasar China, Hong Kong, dan Macau.
Peluncuran ini juga diwarnai antrean panjang para pembeli dan calo di depan gerai Swatch Times Square, New York, sejak Minggu, 10 Mei 2026, demi mendapatkan produk yang diperkirakan akan dijual kembali dengan harga berkisar antara 1.500 hingga 3.200 dolar AS di pasar sekunder. Sementara itu, di dunia maya, pengumuman ini sempat didahului oleh banjirnya gambar rekayasa kecerdasan buatan (AI) berbentuk jam tangan Royal Oak plastik yang sempat mengecoh ekspektasi para penggemar di media sosial.
CEO Swatch Group, Nick Hayek, memprediksi bahwa kehebohan seputar produk kolaborasi ini akan merembet ke pasar jual kembali karena ketersediaan produk yang sangat terbatas.
"It's unavoidable—they know that the product will be short. It's very selective. It's not online. You can only buy it in a store," ujar Nick Hayek, CEO Swatch Group kepada GQ.
Para pengantre di Times Square memanfaatkan situasi kelangkaan ini dengan memperjualbelikan posisi antrean mereka kepada peminat lain.
"If you catch me now, it's 250. If I move up, it may not be 250." kata Sin, seorang pemuda berusia 21 tahun yang memegang dua tempat di barisan antrean.
Sin kemudian ditanya apakah dirinya berniat mencari lebih banyak tempat di dalam antrean tersebut oleh jurnalis GQ.
"Y'all offering me spots?" cetus Sin, yang mengaku akhirnya beralih profesi menjadi penjual slot antrean setelah mengetahui produk tersebut merupakan jam saku.
"Originally, I came here for the watch. I come to find out it was a pocket watch. Now I'm out here just selling spots." tambah Sin.
Pengantre lain tidak mempermasalahkan bentuk jam saku tersebut karena nama besar brand mewah yang melekat pada produk kolaborasi ini.
"I ain't going to lie. It's going crazy. The whole hood want it. If it say AP on it, they're going to flex regardless." kata Delorenzo, seorang pemuda berusia 26 hari yang berada di urutan antrean ke-13.
Delorenzo menilai produk ini tetap memiliki nilai gengsi yang tinggi dan bahkan berencana memberikan jam tersebut sebagai hadiah.
"I might give it to a girl, make her day," tutur Delorenzo sembari tersenyum simpul.
Rencana menjadikan jam saku ini sebagai aksesori fesyen wanita juga diamini oleh pengantre lain di lokasi yang sama.
"I think a lot of the girls are excited to put it on Birkins and stuff like that. Like Labubu, but more expensive." sahut Alex, seorang pemuda berusia 23 tahun.
Untuk bertahan selama berhari-hari di trotoar West 45th Street, Alex telah mempersiapkan berbagai kebutuhan logistik secara matang.
"two loaves of sandwiches, two outfit changes, and a gallon of water." ungkap Alex terkait barang bawaannya.
Suasana di antara para spekulan di Times Square juga diwarnai dengan aktivitas jual beli barang lain serta kerja sama komunitas untuk saling menjaga tempat.
"I sell Pokémon. I sell weed. I sell watches. I sell clothes." ucap Terrent, seorang pria berusia 30 tahun yang menawarkan dagangannya di sudut jalan.
Terrent menunjukkan sebuah kotak dengan logo bergaya gotik mirip merek Chrome Hearts bertuliskan "Top Quality NYC" yang berisi sabuk tiruan dan kantong ganja.
"It’s a new drop that they came out with," promosi Terrent mengenai barang yang dibawanya.
Pengantre lain bernama Krista memilih membawa perlengkapan santai tersendiri untuk menghabiskan waktu tunggu hingga hari Sabtu.
"I just feel like it was God's plan for me to be here." aku Krista, perempuan berusia 31 tahun yang merasa kehadiran dirinya di sana sudah menjadi bagian dari rencana spiritualnya.
Munculnya gelombang gambar AI sebelum peluncuran resmi dinilai mengubah cara audiens merespons sebuah produk jam tangan baru di era modern.
"The prelaunch hype has become a key part of it all, an enormously valuable part. Today's audience is even more clued-in than it was four years ago. It makes it very hard for the real watch to surpass expectations or deliver a genuine shock of the new, especially when the whole world has been generating its own images of what it might look like." jelas Chris Hall, pendiri Substack The Fourth Wheel kepada WIRED.
Respons dari staf internal media industri juga terbelah antara yang mengkritik bentuk jam saku tersebut dan yang memuji pendekatan berani kedua merek.
"The gummy-candy color scheme means these look like octagonal Pop Swatches, rather than a meaningful engagement with the Royal Oak lineage. APs are an acquired taste at the best of times and a Day-Glo pastiche line doesn’t exactly burnish the Royal Oak image." urai Richard Butler, Managing Editor Reviews and Standards di Digital Photography Review kepada Gear Patrol.
Bentuk menyerupai mainan juga menjadi perhatian bagi staf lain yang melihat potensi jam ini sebagai aksesori anak-anak.
"I see a Croc Jibbet pendant and I can’t unsee it. That said, as a parent, this could be fun to have for my kiddo." komentar Caitlyn Shaw, Director of Growth Strategy and Development di Gear Patrol.
Gaya klasik jam saku ini dinilai memiliki segmentasi pasar yang unik dan tidak biasa di abad ke-21.
"Grandpacore hits hard with Gen Z and the return of the pocket watch." sebut Richard Laws, Software Engineer di Digital Photography Review.
Meskipun demikian, ada pula yang mengapresiasi keberanian visual dari desain bernuansa cerah yang ditawarkan oleh proyek kolaborasi ini.
"I wanted to dislike this when I first saw it, but after staring at it for a bit, it dawned on me: it’s just a modern take on a pocket watch that’s meant to be fun. I have been loving more playful design lately. It’s something we’ve been seeing making a tiny comeback in the camera world, too, and this fits right into that idea. It’s neat seeing something typically very serious and formal with a lighthearted look." pungkas Abby Ferguson, Features Editor di Digital Photography Review.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow