Team Spirit Raih Gelar Juara The International 2026 Usai Tekuk TEAM VISION

Smallest Font
Largest Font

Tim esports asal Rusia, Team Spirit, mengukuhkan diri sebagai juara turnamen Dota 2 The International 2026 setelah menumbangkan TEAM VISION dengan skor 3-2 pada laga grand final di Shanghai, China, Minggu (23/8/2026). Kemenangan ini membawa mereka memboyong trofi Aegis of Champions ketiga sepanjang sejarah klub.

Hasil tersebut membuat Team Spirit menjadi organisasi pertama yang memenangkan The International sebanyak tiga kali, setelah sebelumnya meraih gelar pada edisi 2021 dan 2023. Capaian ini melampaui rekor dua gelar milik tim OG yang diraih pada 2018 dan 2019.

Perjalanan Team Spirit menuju tangga juara diwarnai perjuangan keras usai terlempar ke lower bracket akibat kekalahan dari TEAM VISION di babak playoff. Di lower bracket, Team Spirit menyapu bersih kemenangan atas Team Liquid, BoomBoys, dan Team Yandex sebelum akhirnya membalaskan dendam di partai puncak.

Dua penggawa Team Spirit, Ilya "Yatoro" Mulyarchuk dan Magomed "Collapse" Khalilov, resmi mengantongi gelar juara The International ketiga mereka setelah terlibat dalam seluruh skuad pemenang. Sementara itu, Denis "Larl" Sigitov meraih gelar keduanya, sedangkan Alexey "not me" Kosmynin dan Alexander "rue" Filin merayakan gelar perdana mereka. Yaroslav "Miposhka" Naidenov yang sebelumnya memenangkan TI 2021 dan 2023 bertindak sebagai jajaran pelatih.

Pada babak sebelumnya, persaingan ketat juga mewarnai lower bracket ketika BoomBoys mengeliminasi Iron Wing dengan skor 2-1 pada Jumat (21/8/2026). Hasil tersebut memaksa Iron Wing finis di peringkat 7-8 dengan hadiah 129.230 dolar AS, sekaligus menghentikan langkah pemain asal Indonesia, Whitemon, dalam meraih gelar juara perdananya.

Di sisi lain, juara bertahan The International 2025, Team Falcons, harus pulang lebih awal usai kalah dari Team Liquid. Usai kekalahan tersebut, pemain veteran asal Denmark, Andreas Frank "Cr1t-" Nielsen, memberikan sinyal mengenai masa depannya di panggung kompetitif.

"Jelas, delapan tim yang lolos ke Playoffs bisa mengalahkan satu sama lain. Kami menjalani dua seri yang ketat, tetapi kami tidak bisa menunjukkan permainan terbaik sehingga akhirnya tersingkir," ujar Andreas Frank "Cr1t-" Nielsen, pemain Team Falcons.

Pemain yang telah memperkuat Team Falcons selama tiga tahun tersebut turut mengenang masa-masa kejayaannya saat merengkuh trofi Aegis of Champions pada 2025.

"Tiga tahun adalah waktu yang panjang. Banyak kenangan. Kami mendapatkan hasil yang berbeda-beda, tetapi kami berhasil menang tahun lalu.

Kami berharap bisa mempertahankan gelar, tetapi tahun ini sulit bagi kami. Semua orang sudah memberikan yang terbaik," kata Andreas Frank "Cr1t-" Nielsen, pemain Team Falcons.

Mengakhiri perjalanan karirnya yang telah berlangsung selama 14 tahun sejak 2012, Cr1t- mengisyaratkan bahwa kompetisi di Shanghai ini menjadi penutup langkahnya di turnamen terbesar Dota 2 tersebut.

"Terakhir kali saya berada di China adalah pada 2019. Ini spesial. Bagi saya, mungkin ini The International terakhir saya.

Saya senang turnamen ini digelar di sini. Saya akan merindukannya. Saya sudah bermain di banyak TI.

Ini sebuah kehormatan bagi saya," tutur Andreas Frank "Cr1t-" Nielsen, pemain Team Falcons.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed