Thomas Tuchel Kritik Regulasi Jeda Minum di Piala Dunia 2026
Kebijakan jeda minum atau hydration breaks dalam gelaran Piala Dunia 2026 menuai kritik tajam dari pelatih kepala Timnas Inggris, Thomas Tuchel, karena dianggap merusak ritme pertandingan. Protes tersebut disampaikan menjelang laga kedua Grup L melawan Ghana di Stadion Boston pada Selasa, 23 Juni 2026 waktu setempat.
Aturan yang diterapkan oleh FIFA ini sejatinya bertujuan untuk mengantisipasi cuaca panas ekstrem demi mencegah kelelahan serta dehidrasi pemain. Kendati demikian, regulasi tersebut tetap diberlakukan secara kaku di seluruh pertandingan, termasuk pada laga yang berlangsung dalam kondisi sejuk ataupun di dalam stadion ber-AC.
Sistem ini sebelumnya juga sempat memicu respons negatif dari para suporter Inggris yang mencemooh jeda tersebut pada babak pertama laga pembuka kontra Kroasia di Dallas. Berbicara mengenai dampak regulasi ini terhadap jalannya permainan, juru taktik berusia 52 tahun tersebut menilai ada pergeseran besar dalam identitas sepak bola.
"Sebagai pelatih, saya suka memiliki pengaruh dan menyatukan tim, tetapi secara keseluruhan, saya lebih menyukai sepak bola ketika dimainkan dalam satu babak penuh," ujar Tuchel dikutip dari Independent.
Mantan pelatih Bayern Munchen tersebut menambahkan bahwa interupsi berkala ini membuat pertandingan seolah terbagi menjadi empat babak, sehingga memangkas intensitas performa tim di lapangan.
"Itu membangun momentum, itu bagian dari permainan. Sulit untuk membangun momentum dan sulit untuk mempertahankan momentum. Ini adalah pertarungan di lapangan antara para pemain, yang berlangsung dalam jangka waktu lebih lama." kata Tuchel.
Tuchel juga memandang bahwa keindahan sepak bola menjadi berkurang akibat banyaknya penghentian laga secara paksa.
"Itu hanya menambah karakteristik permainan yang indah. [Jeda] mengurangi keindahannya. Tetapi dari segi keadilan, tentu saja, masuk akal jika semua orang mendapatkannya," jelasnya.
Penegasan mengenai hilangnya esensi permainan ini kembali diutarakannya saat diwawancarai oleh media lain, di mana ia membandingkan pengalamannya terdahulu dengan sistem yang diterapkan saat ini.
"Saya pikir hal itu mengganggu dan mengubah identitas pertandingan sepak bola jauh lebih besar dari yang saya kira," kata Tuchel dikutip dari BBC Sport, Selasa (23/6/2026).
Tuchel mengingatkan bahwa masa istirahat serupa di masa lalu hanya diaplikasikan pada situasi tertentu yang sangat membutuhkan.
"Saya pernah melakukan istirahat minum sebelumnya ketika cuaca sangat panas dan dibutuhkan, tetapi durasinya lebih singkat." tutur Tuchel.
Penerapan global tanpa pengecualian kondisi cuaca menjadi poin utama yang disoroti oleh pria asal Jerman tersebut.
"Awalnya durasinya lebih singkat dan hanya dilakukan di beberapa pertandingan. Demi keadilan, sekarang hal itu dilakukan di setiap pertandingan untuk setiap tim." ucap Tuchel.
Ia mengakhiri argumennya dengan menyoroti bagaimana struktur pertandingan kini menjadi sangat terfragmentasi.
"Hal itu memecah jalannya pertandingan hampir menjadi empat kuarter. Dan saya pikir itu mengubah karakteristik pertandingan lebih dari yang saya duga," lanjutnya.
Kritik dari Tuchel ini muncul setelah dirinya mendampingi skuad Tiga Singa meraih kemenangan 4-2 atas Kroasia pada pertandingan pertama. Di sisi lain, FIFA tercatat sempat membuat pengecualian dengan membatalkan sesi istirahat minum babak kedua pada laga Prancis melawan Irak di Philadelphia setelah pertandingan sempat tertunda dua jam akibat cuaca buruk.
What's Your Reaction?
-
1
Like -
0
Dislike -
1
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow