Trump Buka Peluang Diplomasi dengan Iran Jelang Pertemuan Netanyahu
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan adanya peluang besar bagi kesepakatan diplomatik baru dengan Iran pada Senin, 27 Juli 2026, tetapi mengancam akan segera melanjutkan serangan udara jika perundingan tersebut tidak membuahkan hasil. Sikap optimis namun disertai ancaman militer ini disampaikan Trump di tengah jadwal pertemuannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Washington untuk membahas konflik Timur Tengah yang terus berlanjut. Pemerintah AS menegaskan bahwa jeda serangan udara bertujuan memberikan ruang bagi upaya diplomasi, meskipun pengerahan aset militer tambahan ke kawasan tersebut tetap berjalan.
Dalam keterangannya di atas pesawat Air Force One, Trump mengklaim bahwa pihak Tehran telah meminta untuk menggelar pertemuan setelah menerima tekanan militer dalam dua pekan terakhir.
"Kami sedang berbicara saat ini," kata Trump. Ia mengklaim pihak Tehran telah menerima pukulan berat selama beberapa hari terakhir dan mengajukan permohonan negosiasi.
"Iran menerima pukulan berat selama 14 hari terakhir, dan mereka meminta kami dengan sangat baik, 'tolong hentikan, mari kita bertemu,'" kata Trump. Namun, klaim tersebut dibantah keras oleh pemerintah Iran yang menegaskan tidak ada perundingan langsung yang sedang berlangsung dengan pihak AS.
Iran justru menuding AS sedang kesulitan mencari jalan keluar dari peperangan dan menyebut usulan kesepakatan yang diajukan Washington berisi tuntutan ekstrim. Wakil Menteri Luar Negeri Iran bidang Hukum dan Internasional Kazem Gharibabadi mengonfirmasi bahwa delegasi Iran menolak mentah-mentah proposal AS dalam negosiasi di Islamabad. "Pihak AS mengajukan proposal yang mencerminkan tuntutan ekstrem. Delegasi Iran secara tegas menolak proposal ini," kata Gharibabadi.
Ia menambahkan bahwa AS sempat mengancam akan menghentikan pembicaraan jika usulan tersebut ditolak.
"Pihak AS menyatakan bahwa jika proposal ini ditolak, negosiasi akan dianggap gagal dan mereka akan pergi," kata Gharibabadi. Penolakan tersebut membuat perundingan berhenti tanpa ada upaya dari Iran untuk menahannya. "Sama sekali tidak ada desakan atau permohonan dari delegasi Iran untuk melanjutkan negosiasi, dan pendekatan ini merupakan contoh dari 'diplomasi bermartabat' Republik Islam Iran," kata Gharibabadi.
Mengenai situasi di Selat Hormuz, Iran menyatakan negosiasi yang berlanjut melalui perantara Oman hanya membahas mekanisme lalu lintas maritim, sementara penutupan jalur tetap menjadi kebijakan utama mereka.
"Pihak lain mendesak agar rute selatan, yang dibuka untuk lalu lintas kapal, tetap dibuka sampai negosiasi Iran-Oman mencapai kesimpulan dan baru kemudian ditutup, tetapi delegasi Iran tidak menerima usulan ini," kata Gharibabadi. Pemerintah Iran menegaskan posisi prinsipilnya tidak dapat diubah oleh usulan kompromi maritim.
"Kami secara tegas menyatakan bahwa apa pun hasil negosiasi, kebijakan prinsipil Republik Islam Iran telah jelas sejak awal perang, dan usulan semacam itu tidak akan diterima," kata Gharibabadi. Di sisi lain, Trump menyatakan dirinya memiliki banyak waktu dan kesabaran untuk mencapai kesepakatan mengenai konflik maritim dan program nuklir tersebut.
"Saya punya banyak kesabaran," kata Trump. Ia menegaskan ketenangannya dalam menghadapi proses negosiasi yang sedang berjalan. "Saya punya banyak waktu. Banyak waktu," kata Trump.
Presiden AS tersebut juga menambahkan bahwa opsi militer tetap siap dijalankan jika jalur diplomatik menemui jalan buntu.
"Saya pikir ada kesempatan baik bahwa sesuatu bisa terjadi. Dan jika itu terjadi, bagus, jika tidak, kita kembali melakukan apa yang kita lakukan dua hari lalu," kata Trump. Mengenai kekhawatiran atas penipisan persediaan amunisi persenjataan AS di kawasan tersebut, Trump membantah kabar tersebut dan menegaskan kesiapan logistik militer negaranya.
"Tidak. Kami punya cukup banyak. Kami punya banyak amunisi.
Berbagai jenis," kata Trump.
Ia juga menyinggung kebijakan pimpinan sebelumnya terkait bantuan militer.
"Anda tahu, Biden memberikan banyak hal ke Ukraina. Jadi kami membangunnya kembali. Tapi kami punya banyak.
Kami punya banyak stok tingkat menengah," kata Trump. Menanggapi kemungkinan keterlibatan Arab Saudi dalam Abraham Accords sebagai syarat kerja sama nuklir sipil, Trump mengaku belum membahas hal itu secara langsung.
"Kami belum membicarakan hal itu," kata Trump. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan kunjungan resmi ke Washington dengan agenda utama membahas eskalasi dengan Iran serta menghadiri pemakaman mendiang Senator Lindsey Graham.
Dalam pesan videonya sebelum berangkat, Netanyahu menegaskan bahwa prioritas utamanya adalah menjaga keamanan negaranya di tengah situasi kawasan yang kompleks. "Tentu saja, tujuan kami adalah menjaga keamanan kami dan juga memperluas lingkaran perdamaian di sekitar kami. Saya memulai misi ini dengan satu tujuan jelas — untuk memastikan keamanan, kekuatan, dan masa depan Negara Israel yang kita cintai," kata Netanyahu. Netanyahu mencatat bahwa ini merupakan pertemuan resminya yang kesembilan dengan Trump sejak menjabat kembali sebagai presiden.
"Saya sedang dalam perjalanan ke Washington untuk bertemu dengan sahabat kita, Presiden Donald Trump," kata Netanyahu.
Ia menilai intensitas pertemuan tersebut sebagai hal yang istimewa dibanding pemimpin dunia lainnya. "Ini adalah pertemuan kedelapan saya dengannya sejak ia terpilih sebagai presiden untuk masa jabatan keduanya — lebih banyak daripada pemimpin internasional lainnya," kata Netanyahu. Ia menambahkan bahwa posisi tersebut membawa tanggung jawab besar bagi Israel.
"Ini adalah hak istimewa yang besar, tetapi ini juga merupakan tanggung jawab yang besar," kata Netanyahu.
Netanyahu menekankan perlunya strategi yang matang dalam menghadapi krisis keamanan wilayah. "Dari pengalaman saya sebagai perdana menteri, di masa-masa rumit ini, seseorang harus bertindak dengan tekad besar dan kearifan besar. Kami akan membahas semua isu dalam agenda, dengan Iran berada di garda depan," kata Netanyahu.
Selain agenda politik, keberangkatannya ke AS juga ditujukan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Senator Lindsey Graham. "Dan saya juga berangkat untuk tujuan tambahan: untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sahabat kami, sahabat sejati saya dan Negara Israel — Lindsey Graham, salah satu sahabat terbesar Negara Israel sepanjang masa," kata Netanyahu.
Ia meyakini langkah tersebut mewakili aspirasi publik Israel secara keseluruhan. "Dan saya yakin dalam hal ini, saya juga mewakili Anda sekalian, warga negara Israel," kata Netanyahu. Netanyahu sebelumnya menegaskan bahwa perang dengan Iran hanya boleh berakhir apabila Tehran menghentikan program nuklirnya atau pemerintahan negara tersebut melemah secara signifikan.
Di sisi lain, para pakar PBB menyerukan kepada pemerintah Iran untuk membatalkan hukuman mati terhadap 10 pemuda yang ditangkap saat aksi protes antarpemerintah pada Januari lalu.
"Menghukum mati 12 orang dalam satu persidangan, di ruang sidang tertutup dan tanpa kejelasan mengenai tanggung jawab individu masing-masing terdakwa melanggar standar peradilan yang adil," kata para pakar PBB. Para pakar tersebut mengritik kurangnya transparansi dalam proses hukum yang dijalankan oleh Pengadilan Revolusi Iran. "Tuduhan terhadap mereka tetap tidak jelas, karena persidangan Pengadilan Revolusi bersifat tertutup dan putusan tidak dipublikasikan," kata para pakar PBB.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow