Trump Desak Iran Menyerah Saat Pembicaraan Damai Mengalami Kebuntuan

Smallest Font
Largest Font

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak Iran mengibarkan bendera putih untuk mengakhiri perang di tengah kebuntuan upaya negosiasi damai. Seruan tersebut disampaikan Trump ketika kesepakatan sementara antara Washington dan Teheran dipastikan gagal. "Mereka seharusnya mengibarkan bendera putih tanda menyerah," kata Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam wawancara via telepon dengan Fox News.

Kesepakatan sementara soal penghentian operasi militer yang ditandatangani Washington dan Teheran pada Juni lalu telah dinyatakan berakhir oleh Trump sejak 7 Juli. Kementerian Luar Negeri Iran kemudian menangguhkan kesepakatan tersebut hingga kedua negara kembali saling menyerang.

Berdasarkan nota kesepahaman yang ditandatangani Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, kedua pihak berkomitmen merundingkan kesepakatan final terkait program nuklir dalam batas waktu 60 hari. Masa berlaku nota kesepahaman tersebut resmi berakhir pada Senin (17/8/2026).

Di sisi lain, konflik kendali atas Selat Hormuz yang dilalui 20 persen pasokan minyak dan gas global telah memicu kenaikan harga bahan bakar dunia. Trump menegaskan sikap kerasnya mengenai kepemilikan senjata nuklir oleh Iran. "Tujuan utamanya adalah -- dan akan selalu demikian -- bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dalam bentuk atau cara apa pun," ujar Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui Truth Social.

Trump juga melayangkan ancaman terhadap Oman yang sedang melakukan pembicaraan terpisah dengan Iran untuk memulihkan pelayaran komersial di Selat Hormuz. "Jika Oman menghalangi, kita akan membombardir mereka habis-habisan," kata Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menepis desakan Trump dan mengklaim pihak oposisi yang semula menuntut penyerahan diri tanpa syarat justru memohon untuk bernegosiasi. "Mereka yang menuntut penyerahan diri tanpa syarat, tak lama setelah perang dimulai, justru memohon untuk melakukan negosiasi," kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Araghchi menegaskan Iran terus bertempur hingga lawan menerima syarat-syarat gencatan senjata dan negosiasi dari pihak Teheran.

"Kami bertempur dengan kekuatan, dan kami melakukan negosiasi dengan kekuatan," ujar Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Menurut Araghchi, ketahanan Iran melawan kekuatan militer AS dan sekutunya membuat banyak menteri luar negeri negara lain memberikan pengakuan diplomatik. "Anda telah memenangkan baik perang maupun diplomasi," ucap Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengutip pernyataan sejumlah menteri luar negeri negara lain. Araghchi juga mengklarifikasi status komunikasi melalui mediator seperti Qatar dan Pakistan serta membantah adanya perpanjangan gencatan senjata berdasarkan memorandum Islamabad.

"Apa yang tercantum dalam memorandum Islamabad adalah mengakhiri perang, bukan gencatan senjata," kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kepada kantor berita ISNA.

Ia menyebut pelanggaran oleh AS menyebabkan pertempuran berlanjut sehingga tidak ada perpanjangan durasi 60 hari. "Amerika Serikat telah melanggar memorandum tersebut, dan pertempuran kembali berlanjut. Oleh karena itu, tidak ada gencatan senjata 60 hari yang perlu diperpanjang," kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Araghchi menekankan pertukaran pesan melalui pihak ketiga bukan merupakan bentuk negosiasi yang sedang berlangsung. "Baik Qatar maupun Pakistan terus bertukar pesan dan menjalin komunikasi dengan kami, tetapi hal itu tidak berarti adanya negosiasi," ujar Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Teheran menegaskan belum ada keputusan resmi yang dibuat untuk memulai kembali dialog dengan pemerintah AS. "Belum ada keputusan yang diambil untuk melanjutkan kembali pembicaraan dengan Amerika Serikat," kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Mengenai pembicaraan dengan Oman, Araghchi menjelaskan negosiasi tersebut bersifat teknis guna menentukan rute pelayaran baru di Selat Hormuz dan terpisah dari diskusi dengan AS.

"Saat ini kami sedang merancang rute sementara yang nantinya akan menjadi rute permanen," kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Pembukaan kembali jalur perairan strategis tersebut tetap bergantung pada pemenuhan persyaratan tertentu oleh pihak Washington. "Setelah rute ditetapkan, keputusan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz akan bergantung pada terpenuhinya syarat-syarat lain yang harus dipenuhi oleh Amerika Serikat," kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed