Dosen IPB Bantah Mitos Uban Tanda Tubuh Lawan Kanker
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr. Yenny Rachmawati, M.Biomed, membantah anggapan bahwa munculnya uban menandakan tubuh sedang melawan kanker. Penjelasan ini disampaikan untuk meluruskan mitos yang beredar di masyarakat.
Menurut dr. Yenny, uban bukan indikator sistem kekebalan tubuh aktif melawan sel kanker. Warna rambut tidak bisa dijadikan penanda untuk memprediksi risiko kanker seseorang.
"Uban bukan berarti tubuh secara aktif melawan kanker. Warna rambut tidak dapat digunakan sebagai penanda untuk memperkirakan risiko kanker seseorang," ujar dr. Yenny, dilansir dari Detik Health.
Mitos ini bermula dari studi eksperimental pada 2025 tentang kerusakan DNA sel punca melanosit, sel yang memproduksi pigmen melanin pada folikel rambut. Pada percobaan tikus, sel yang mengalami kerusakan DNA mengambil dua jalur berbeda.
Satu jalur menyebabkan penuaan sel, di mana sel kehilangan fungsi atau jumlahnya berkurang, sehingga rambut tumbuh tanpa pigmen atau berwarna putih dan abu-abu. Jalur lainnya, jika terpapar zat karsinogenik, sel justru bertahan dan berpotensi berkembang menjadi lesi melanositik yang mengarah pada kanker kulit melanoma.
dr. Yenny menekankan belum ada bukti epidemiologis pada manusia yang menunjukkan orang beruban cepat memiliki risiko melanoma atau kanker lainnya lebih rendah. Orang yang cepat beruban tidak otomatis kebal kanker, begitu pula sebaliknya.
Kecepatan pemutihan rambut dipengaruhi berbagai faktor. Faktor alami meliputi usia dan genetik keluarga.
Faktor lingkungan dan gaya hidup seperti paparan polusi, merokok, serta stres oksidatif juga berperan. Stres psikologis berat memicu aktivasi sistem saraf simpatis yang mempercepat berkurangnya sel punca melanosit.
Uban di usia dini bisa menjadi sinyal kekurangan vitamin B12, defisiensi zat besi, gangguan tiroid, atau penyakit autoimun.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow