Ukraina dan Rusia Saling Serang Drone serta Rudal Skala Besar

Smallest Font
Largest Font

Pasukan Ukraina meluncurkan 620 drone ke Moskow pada Senin (17/8/2026) malam, sementara serangan roket Rusia di Kharkiv menewaskan 10 warga sipil di tengah eskalasi pertempuran jarak jauh kedua negara. Gempuran drone Ukraina menyasar wilayah Moskow hingga merusak fasilitas logistik e-commerce Wildberries dan melukai tiga orang, termasuk seorang anak berusia 10 tahun. Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin menyatakan pertahanan udara Rusia berhasil menghancurkan lebih dari 180 drone di atas wilayah ibu kota.

Pada saat bersamaan, roket Rusia menghantam persimpangan jalan sibuk di Desa Pechenigy, Wilayah Kharkiv, yang mengakibatkan 10 orang tewas dan 17 orang lainnya luka-luka.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengecam keras serangan roket Rusia yang menyasar pusat aktivitas masyarakat sipil di Kharkiv. "sebuah lokasi dengan kantor pos dan pertokoan, dikelilingi oleh bangunan tempat tinggal," kata Volodymyr Zelensky, Presiden Ukraina.

Zelensky menegaskan pihak militer Ukraina siap membalas tindakan tersebut serta meminta sekutu Barat memperketat tekanan terhadap Moskow. "Kami pasti akan merespons serangan Rusia ini. Dan sama pentingnya bahwa mitra-mitra kami juga melengkapi... tanggapan kami dengan tindakan mereka sendiri untuk memberikan tekanan pada Rusia dan mendukung Ukraina," ujar Volodymyr Zelensky, Presiden Ukraina.

Pemerintah daerah Moskow melaporkan upaya penanganan intensif terhadap gelombang serangan udara yang datang sepanjang malam. "Malam ini dan pagi ini, pasukan pertahanan udara berhasil memukul mundur serangan drone skala besar di wilayah Moskow," kata Andrey Vorobyov, Gubernur Wilayah Moskow. Dampak kerusakan fisik di area industri timur Moskow turut dikonfirmasi oleh pengelola fasilitas logistik setempat.

"Kompleks logistik perusahaan di wilayah Moskow mengalami kerusakan ringan akibat serangan tersebut. Puing-puing menghantam dinding bangunan," kata perwakilan Wildberries, perusahaan e-commerce Rusia.

Mantan Menteri Pertahanan Ukraina Mykhailo Fedorov mengungkapkan Kyiv sedang mempersiapkan serangan balasan berbasis rudal balistik jarak jauh dalam waktu dekat. "Dalam tiga hingga enam bulan ke depan, sebuah rudal balistik Ukraina akan menghantam Rusia," kata Mykhailo Fedorov, Mantan Menteri Pertahanan Ukraina. Fedorov menilai pertempuran masa depan akan sepenuhnya didominasi oleh konfrontasi antar robot dan drone otonom.

"masa depan yang tidak terhindarkan," kata Mykhailo Fedorov, Mantan Menteri Pertahanan Ukraina.

Ia menyebut negara-negara mitra Barat kini mulai menyadari perubahan drastis dalam doktrin peperangan modern. "masa depan adalah milik drone dan perang adalah perang drone," kata Mykhailo Fedorov, Mantan Menteri Pertahanan Ukraina.

Fedorov juga menyampaikan apresiasi atas kepemimpinan pendiri SpaceX dalam mendukung infrastruktur komunikasi pertahanan Ukraina. "tokoh teknologi dan pengusaha paling penting di seluruh dunia," kata Mykhailo Fedorov, Mantan Menteri Pertahanan Ukraina.

Langkah SpaceX memutus akses Starlink bagi pasukan Rusia dinilai berhasil menyelamatkan banyak nyawa warga sipil. "Langkah itu menyelamatkan sistem pertahanan udara, penerbangan dan secara keseluruhan nyawa ribuan warga sipil kami," ujar Mykhailo Fedorov, Mantan Menteri Pertahanan Ukraina. Di tingkat tapak, warga sipil mengandalkan saluran Telegram seperti Aeris Rimor yang dikelola relawan berusia 19 tahun berinisial Esko untuk memantau ancaman udara.

"Oh, ada rudal menuju Kyiv," kata Esko, Administrator Saluran Telegram Aeris Rimor.

Esko langsung membagikan peringatan darurat ke 150 ribu pengikutnya saat pergerakan objek mencurigakan terdeteksi di peta militer. "TARGET KYIV!" kata Esko, Administrator Saluran Telegram Aeris Rimor. Ia menjelaskan bahwa tugas memantau radar membutuhkan kewaspadaan penuh karena rudal balistik dapat mencapai sasaran dalam hitungan menit.

"Benar-benar harus terus berjaga dan menatap layar sepanjang waktu karena Anda bisa dengan mudah melewatkannya," kata Esko, Administrator Saluran Telegram Aeris Rimor.

Meskipun rutin membagikan informasi, Esko menyerahkan keputusan perlindungan sepenuhnya kepada masing-masing warga. "Anda hanya bisa mengatakan: sesuatu mungkin terjadi... tetapi putuskan sendiri," kata Esko, Administrator Saluran Telegram Aeris Rimor.

Ia mengaku masa penantian sebelum serangan tiba sering kali memicu ketegangan psikologis bagi pengelola saluran. "Anda terus menunggu, menunggu, menunggu, kemudian mulai mengunggah peringatan karena ketegangan meningkat. Namun, tidak terjadi apa-apa.

Anda mengunggah lagi, dan tidak terjadi apa-apa... Lalu mereka menyerang," kata Esko, Administrator Saluran Telegram Aeris Rimor.

Informasi peringatan dini tersebut dimanfaatkan warga seperti Kateryna Reshetnyk untuk berlindung di stasiun kereta bawah tanah Kyiv bersama keluarganya. "Tetapi tidak ada yang tahu pasti apa yang akan atau tidak akan terjadi. Anda hanya mengandalkan intuisi dan naluri untuk bertahan hidup," kata Kateryna Reshetnyk, Warga Kyiv. Juru Bicara Angkatan Udara Ukraina Yuri Ignat mengonfirmasi bahwa pihak militer membiarkan operasional saluran pemantauan sipil tersebut.

"Kami tidak bisa melarang mereka. Mereka ada, mereka memberikan informasi kepada masyarakat, dan bagi sebagian orang hal itu memang memudahkan," kata Yuri Ignat, Juru Bicara Angkatan Udara Ukraina.

Saat ini wilayah Kharkiv dan Kyiv tetap berada dalam status siaga tinggi menghadapi potensi gelombang serangan balasan lanjutan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed