Iran Memproduksi Kembali Rudal Balistik dan Pertahanan Udara Baru
Iran dilaporkan kembali merakit rudal balistik berbahan bakar cair maupun padat dari fasilitas bawah tanah di tengah konflik yang masih berlangsung dengan Amerika Serikat dan Israel pada September 2026. Teheran juga memanfaatkan pengalaman pertempuran langsung untuk mengembangkan sistem pertahanan udara baru dan rudal jelajah supersonik.
Aktivitas manufaktur rudal tersebut terdeteksi di beberapa lokasi tersembunyi, termasuk kompleks rudal Khojir di tenggara Teheran, dengan memanfaatkan persediaan komponen yang disimpan sebelum perang. Selain perakitan kembali, Iran sedang membangun fasilitas perakitan bawah tanah baru demi menghindari potensi serangan udara balasan.
Langkah ini menunjukkan bahwa klaim sebelumnya dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) terkait kehancuran total industri militer Iran tidak sepenuhnya akurat. Pentagon sempat mengklaim pada Maret bahwa serangan mereka menghancurkan 90 persen basis industri drone, rudal, dan angkatan laut Teheran, sementara Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada April menyebut program rudal Iran telah hancur secara fungsional.
Mantan analis CIA dan peneliti tamu di King's College London, Jim Lamson, memberikan penilaian terkait kapasitas produksi persenjataan Teheran tersebut.
"Jumlah rudal yang dapat diproduksi Iran bergantung pada ukuran persediaan komponen dan jumlah fasilitas bawah tanah yang masih dapat digunakan," kata Lamson.
Di samping memproduksi persenjataan balistik, Kementerian Pertahanan Iran menganalisis temuan medan perang untuk menciptakan teknologi militer teranyar. Salah satunya adalah sistem pertahanan udara Arash-e Kamangir yang dirancang lebih mobile untuk mendeteksi target siluman dan menghindari pemetaan lawan.
Iran juga mengembangkan rudal jelajah supersonik berbasis ramjet melalui proyek berkode C430L yang mampu mempertahankan kecepatan tinggi dan terbang rendah demi menyulitkan pencegatan kapal perang musuh. Laporan Financial Times sempat mengklaim adanya bantuan insinyur rudal Rusia dalam proyek propulsi supersonik tersebut, meski Teheran menekankan pengembangan teknologi militernya dilakukan secara mandiri.
Mengenai durasi konflik, Presiden AS Donald Trump memproyeksikan pertempuran dapat berakhir lebih cepat seiring dinamika politik domestik.
"Saya pikir perang akan berakhir segera setelah pemilu karena mereka tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Mereka sangat putus asa untuk mencoba memengaruhi pemilu," kata Trump.
Meskipun Trump mengindikasikan perang bisa berakhir di sekitar pemilihan paruh waktu November, laporan internal pemerintah AS menunjukkan Washington tetap bersiap mengantisipasi potensi konflik berkepanjangan hingga 2029. Sementara itu, pejabat senior Iran menegaskan kepada Bloomberg bahwa Teheran telah memulihkan kemampuan rudalnya dan siap menghadapi perang jangka panjang tanpa rencana mundur akibat blokade laut maupun serangan tanker.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow