Uni Eropa Gelar Konferensi Darurat Atasi Krisis Migran Ceuta dan Ketegangan Italia-Spanyol

Smallest Font
Largest Font

Krisis migrasi di Ceuta berkembang menjadi masalah politik besar di Eropa. Menteri dalam negeri Uni Eropa dijadwalkan menggelar konferensi video darurat pada Selasa, 4 Agustus 2026, guna membahas lonjakan migran dari Maroko dan ketegangan antara Spanyol dan Italia.

Konferensi resmi yang dijadwalkan Dewan Uni Eropa ini akan dipimpin oleh Irlandia, negara yang memegang presidensi bergilir Dewan Uni Eropa. Pertemuan tersebut akan meninjau perkembangan terbaru setelah mekanisme tanggap krisis Uni Eropa pada Sabtu, 1 Agustus 2026, yang menegaskan perlunya tanggapan politik bersama.

Walaupun arus migran ke Ceuta mulai mereda, ketegangan antarnegara Eropa justru meningkat. Italia kembali memberlakukan pemeriksaan bagi warga non-Uni Eropa yang tiba dari Spanyol melalui bandara dan pelabuhan selama satu bulan. Langkah ini tidak menutup perbatasan secara total dan tidak menyasar warga Spanyol maupun Uni Eropa.

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyatakan, "Ini merupakan tindakan luar biasa yang diambil untuk menjaga keamanan nasional dan mencegah kemungkinan dampak terhadap negara kami," ujar Meloni melalui akun X, seperti dilaporkan Reuters pada Jumat, 31 Juli 2026.

Meloni menambahkan bahwa pemeriksaan akan dipertahankan hanya selama diperlukan dan dilaksanakan dengan mempertimbangkan agar arus wisata musim panas tidak terganggu. Ia juga menjelaskan bahwa Italia berkoordinasi dengan Prancis untuk memperkuat pengawasan di perbatasan kedua negara.

Keputusan Italia memicu kemarahan dari Spanyol. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap prinsip perjalanan bebas di kawasan Schengen dan menolak solidaritas antarnegara Uni Eropa dalam krisis migrasi.

Sánchez mengingatkan, "Spanyol pernah menerima sebagian migran yang masuk ke Eropa melalui Belarusia pada 2021 serta membantu negara lain saat gelombang migran besar tiba di Lampedusa, Italia, pada 2023," katanya.

Ia menegaskan bahwa saat Spanyol menghadapi krisisnya sendiri, justru mendapat tekanan dan pembatasan dari dalam kawasan Schengen.

"Dalam konteks internasional saat ini, Uni Eropa tidak mampu menanggung reaksi yang egoistis, memecah belah, dan melanggar hukum semacam ini," tulis Sánchez dalam surat kepada Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Dewan Eropa António Costa, dikutip Reuters pada Sabtu, 1 Agustus 2026.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed