Warga AS Tolak Pembangunan Data Center AI Akibat Dampak Lingkungan
Penolakan terhadap proyek pembangunan pusat data kecerdasan buatan meluas di Amerika Serikat akibat kekhawatiran penurunan nilai properti, krisis air, serta lonjakan tagihan listrik masyarakat, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Rabu (9/9/2026). Hasil survei Fox News, Gallup, dan Washington Post mencatat sekitar 70 persen warga menolak pengoperasian fasilitas berenergi tinggi tersebut di sekitar pemukiman mereka. Washington Post melaporkan terdapat 375 rancangan aturan yang diajukan untuk membatasi pembangunan, sementara investor teknologi Kevin Xu mencatat sekitar 360 moratorium telah diberlakukan. Di tengah perdebatan tersebut, Presiden AS Donald Trump secara terbuka memberikan dukungan penuh terhadap ekspansi infrastruktur data center demi menjaga daya saing ekonomi dan persaingan teknologi negara.
"Satu-satunya alasan masyarakat di seluruh AS tidak menginginkan data center adalah jika mereka ingin tetap terbelakang dan miskin," kata Trump.
Donald Trump menilai bahwa keuntungan investasi dari sektor data dapat mendorong kemakmuran kawasan sekitar. "Jika mereka ingin sukses dan kaya, dengan pajak yang jauh lebih rendah serta lapangan pekerjaan di mana-mana, biarkan data berkuasa," lanjut Trump.
Meski penolakan publik terus meningkat di berbagai wilayah, Trump tetap mendorong pengembangan fasilitas ini secara mendasar. "Mereka sangat penting bagi perekonomian," kata Trump.
Mantan presiden tersebut juga mengkritik kebijakan pembatasan yang direncanakan oleh pemerintah daerah Texas. "Texas mengatakan tidak pada data center adalah sebuah kesalahan, dalam arti industri ini bisa menjadi lebih besar daripada minyak," lanjut Trump. Sebaliknya, perselisihan ini memicu perbedaan sikap di tingkat politik daerah, termasuk dari kandidat gubernur Illinois dari Partai Republik, Darren Bailey.
"Presiden Trump dan saya tidak sependapat mengenai masalah ini," kata Bailey.
Darren Bailey menekankan bahwa pembangunan fasilitas berskala besar memicu kecemasan mendalam di tengah masyarakat lokal. "Saat saya berkeliling Illinois, saya mendengar kekhawatiran yang sama: data center berukuran besar mengancam lahan pertanian, membebani jaringan listrik, dan meningkatkan biaya," ujar Bailey. Ia mengandalkan prioritas perlindungan terhadap hak warga dan kawasan hunian dari ekspansi industri secara masif.
"Posisi saya jelas: keluarga dan komunitas Illinois harus menjadi yang utama," sambung Bailey.
McKinsey memproyeksikan investasi infrastruktur pusat data di AS akan mencapai US$ 7 triliun atau sekitar Rp 115 ribu triliun hingga tahun 2030, di mana Wakil Presiden JD Vance mengusulkan penambahan kapasitas pembangkit listrik nasional untuk mengimbangi lonjakan beban energi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow