Yamaha Gaet David Muñoz dan Michele Pirro Ungkap Karakter Motor Ducati
Peta kekuatan teknis paddock MotoGP terus bergerak menjelang musim 2026 setelah Monster Energy Yamaha dilaporkan menyiapkan David Muñoz sebagai kepala mekanik Jorge Martin, bersamaan dengan pengungkapan ikhwal kesulitan masa lalu Valentino Rossi bersama Ducati oleh penguji Michele Pirro.
Langkah Yamaha menunjuk Muñoz yang merupakan mantan Crew Chief Valentino Rossi bertujuan mengawal penyesuaian gaya balap agresif Martin pada YZR-M1 V4 850cc. Pengalaman Muñoz membawa Francesco Bagnaia menjuarai Moto2 2018 serta penguasaannya terhadap telemetri YZR-M1 dinilai bakal mempercepat proses adaptasi sang pembalap Spanyol.
Di sisi lain, penguji teknis Ducati Michele Pirro membongkar alasan utama di balik kegagalan Rossi meraih kemenangan selama membela pabrikan Borgo Panigale pada periode 2011 hingga 2012. Pirro menyebut motor Desmosedici era tersebut sangat liar dan hanya dirancang sesuai dengan gaya balap Casey Stoner.
Penguji Ducati tersebut menceritakan kondisi awal yang ia hadapi saat mulai bergabung dengan tim manufaktur Italia itu.
"Ketika saya tiba di Ducati, semua orang berkata, 'motor ini hanya bisa dikendarai Stoner'. Itu adalah keyakinan yang tertanam kuat di dalam tim. Motor itu benar-benar liar.
Saat akan memasuki tikungan, bahkan kita tidak akan pernah tahu apakah bisa berhasil melewatinya. Usai menjalani tes selama 2 hari, tangan saya benar-benar kelelahan. Motor itu sangat menguras tenaga, baik secara fisik maupun mental," kata Michele Pirro, Penguji Ducati.
Masalah fisik dan kendali yang dialami saat pengujian tersebut mendorong tim teknis untuk memindahkan arah pengembangan balap ke format yang lebih stabil.
"Saya mengatakan kepada para insinyur bahwa mustahil untuk melahap 80 atau 90 lap dalam tes dengan motor yang begitu sulit dikendalikan. Kami membutuhkan motor yang lebih mudah dikendarai, motor yang memungkinkan pembalap untuk melaju cepat tanpa harus selalu berkendara hingga batas kemampuan," ujar Michele Pirro, Penguji Ducati.
Pirro menambahkan bahwa karakter unik Stoner yang minim ketergantungan pada perangkat elektronik tidak dapat ditiru oleh pembalap lain, termasuk Jorge Lorenzo maupun Andrea Dovizioso.
"Saya mencoba mapping milik Stoner dan langsung berhenti beberapa saat kemudian. Saya berpikir, 'apa-apaan ini?'. Dia tidak suka menggunakan banyak bantuan elektronik.
Dia nyaris tidak memakai sistem anti-wheelie dan mengendalikan motor hanya dengan gas dan rem belakang. Semua itu dilakukannya secara alami," tutur Michele Pirro, Penguji Ducati.
Penguji asal Italia itu juga mengonfirmasi cara Stoner mengeksekusi manuver sulit di lintasan balap yang terbukti dari pembacaan data instrumen.
"Dia akan menjelaskan bagaimana caranya melewati tikungan tertentu, dan kemudian kami akan memeriksanya di data telemetri. Kita pasti berpikir itu mustahil untuk dilakukan, tetapi faktanya dia memang melakukannya," ucap Michele Pirro, Penguji Ducati.
Saat Stoner kembali memegang peran pengetesan, Pirro sempat mengira dirinya akan bergeser kembali menjadi pembalap reguler sebelum menyadari tujuan kedatangan sang juara dunia.
"Saya pikir, dia akan mengambil peran sebagai tes rider sehingga saya bisa kembali balapan. Tetapi ternyata dia datang hanya untuk menunjukkan bakatnya yang luar biasa. Dia tidak tertarik untuk mengembangkan motor.
Motor yang dia setel hanya bisa dikendarai olehnya. Lorenzo mencobanya dan langsung kembali masuk pit. Saya juga melakukan satu lap dan langsung berpikir, 'motor apa ini?'," jelas Michele Pirro, Penguji Ducati.
Ia menuturkan bahwa evolusi teknologi MotoGP saat ini telah menggeser gaya membalap alami yang dahulu menjadi keunggulan mutlak Stoner.
"Dia memiliki feel yang luar biasa. Seandainya teknologi elektronik tidak berevolusi seperti saat ini, dia akan terus membuat perbedaan besar. Saya yakin bahwa perkembangan MotoGP membuat karakter pembalap seperti Stoner tidak lagi diuntungkan.
Winglet, elektronik, berbagai sistem kontrol, semua itu mengarah ke arah yang berbeda dari filosofi balap Stoner. Dia berasal dari era dan cara berpikir yang berbeda dalam mengendarai motor," papar Michele Pirro, Penguji Ducati.
Sifat dominan Stoner di lintasan favoritnya membuat Pirro menempatkan rider Australia tersebut sebagai sosok yang sulit tertandingi.
"Dia adalah 'master' sejati Phillip Island. Bakatnya benar-benar luar biasa," ungkap Michele Pirro, Penguji Ducati.
Pirro mengingat ucapan Stoner yang sempat menyampaikan keinginannya untuk berlaga secara langsung melawan Marc Marquez di sirkuit tersebut.
"Saya rasa, saya masih punya beberapa rahasia di Phillip Island," tegas Casey Stoner, Mantan Pembalap Ducati.
Meskipun persaingan modern diperketat oleh kemajuan teknologi sasis dan elektronik, Pirro menilai kapasitas Stoner tetap berada di tingkat tertinggi.
"Dulu, dia bisa mengalahkan rivalnya dengan selisih 0,5 detik. Sekarang mungkin hanya mampu unggul 0,1 atau 0,2 detik saja. Tapi bakatnya benar-benar luar biasa," pungkas Michele Pirro, Penguji Ducati.
Memasuki musim 2026, Ducati menambah Nicolo Bulega untuk mendampingi Michele Pirro dalam menjalankan program pengujian dan pengembangan regulasi mesin 850cc.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow