Angkatan Bersenjata Yaman Tembak Jatuh Dua Drone Saudi di Tengah Konflik Taiz

Smallest Font
Largest Font

Pasukan Angkatan Bersenjata Yaman berhasil menembak jatuh dua drone milik Arab Saudi di wilayah Taiz dan Al-Jawf saat konflik bersenjata di Yaman terus berlanjut, Selasa (8/9/2026). Drone pertama jenis Wing Loong II ditembak jatuh di wilayah Maqbanah, Provinsi Taiz, sedangkan drone kedua tipe CH-4 jatuh di daerah Khab wa al-Sha'af, Al-Jawf, menurut pernyataan resmi Angkatan Bersenjata Yaman yang dilaporkan oleh media Al-Masirah dan IRNA. Konflik di Taiz juga diperparah oleh serangan udara jet tempur Saudi yang keliru menyerang posisi pasukan sekutu di provinsi tersebut, mengakibatkan sekitar 30 tentara tewas dan 40 lainnya luka-luka, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Timur Tengah dan sumber internasional pada 6 September 2026.

Serangan udara tersebut menargetkan kamp militer pemerintah setia kepada Presiden Abd Rabbuh Mansur Hadi, dan diduga terjadi karena kesalahan dalam data pengintaian radar di medan pegunungan yang sulit dilalui.

Ketegangan di Taiz semakin meningkat setelah jet tempur Saudi membombardir posisi milisi Al-Amaliqah yang berafiliasi dengan Riyadh pada 5 September, menewaskan dan melukai puluhan anggota milisi tersebut, menurut media ABI dan Al-Khabar Al-Yemeni. Milisi Al-Amaliqah sendiri merupakan kelompok yang dipersenjatai oleh Uni Emirat Arab dan berasal dari wilayah selatan Yaman. Serangan ini terjadi di tengah perpecahan internal di kalangan pendukung Riyadh yang saling menuduh melakukan pengkhianatan.

Dalam eskalasi serangan, kelompok pemberontak Houthi juga melancarkan serangan menggunakan drone dan rudal ke wilayah Arab Saudi, menargetkan fasilitas sipil dan militer termasuk Bandara Internasional Abha, pangkalan udara King Khalid, serta fasilitas perusahaan minyak Aramco di Abha dan Jizan. Koalisi pimpinan Saudi menyatakan bahwa serangan Houthi tersebut melukai 73 warga sipil dan berjanji akan mengambil tindakan untuk merespons ancaman tersebut.

Anggota Dewan Politik Ansarullah, Mohammad al-Farrah, menegaskan bahwa Arab Saudi tetap menjadi musuh utama Yaman dan bahwa konflik yang terjadi merupakan bagian dari perjuangan lebih luas untuk mengakhiri pendudukan dan pengepungan di Yaman. Ia menyatakan, "Arab Saudi akan tetap menjadi musuh pertama kami, dan negara ini, dengan mobilisasi pasukannya dan elemen-elemen yang berafiliasi dengannya di Yaman serta dukungan keuangan mereka, berupaya mendominasi Yaman. Riyadh menggunakan elemen bayaran untuk melindungi kepentingan, kapal, dan fasilitas minyaknya." Al-Farrah menambahkan bahwa tujuan rakyat Yaman adalah mengakhiri pendudukan, mencabut pengepungan, dan mengembalikan kekayaan negara, dan bahwa konflik di beberapa daerah merupakan bagian dari pertempuran yang lebih besar dengan Arab Saudi.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed