Abu Vulkanik Erupsi Anak Krakatau Ganggu Transportasi dan Pariwisata

Smallest Font
Largest Font

Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau menyebabkan gangguan signifikan pada transportasi dan pariwisata di wilayah Lampung dan Banten, terutama sejak letusan pada Jumat malam, 4 September 2026, dilansir dari Detik Travel.

Sejak erupsi, lebih dari 170.000 penumpang terdampar akibat penutupan sejumlah bandara. Abu vulkanik yang tersebar menghambat pergerakan ekonomi dan wisata. Kapal laut yang menjadi transportasi utama wisatawan domestik juga terdampak karena jarak pandang berkurang akibat abu tersebut.

Dr. Danang Sri Hadmoko, pakar vulkanologi dan mitigasi bencana dari Universitas Gadjah Mada, menyatakan, "Abu vulkanik menjadi yang paling diwaspadai saat ini. Ketinggiannya yang cukup signifikan mengganggu transportasi udara, laut hingga darat."

Menurutnya, abu vulkanik yang mengandung bahan silika dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan dan mata, sehingga ia menyarankan untuk mengurangi aktivitas luar ruangan. "Kalau kita lihat di mikroskop, kandung abu vulkanik sangat tajam dan halus, memiliki potensi iritasi untuk saluran pernapasan dan iritasi mata. Sebaiknya, kurangi aktivitas outdoor," ujar Dr. Danang.

Ia juga menjelaskan risiko abu vulkanik yang masuk ke mesin pesawat dapat menyebabkan kerusakan fatal. "Jika abu vulkanik masuk ke mesin pesawat bisa fatal, pesawat bisa mati," tambahnya.

Selain abu, Dr. Danang mengingatkan potensi bahaya sulfur dioksida dari Gunung Anak Krakatau dan mengingatkan agar transportasi darat berhati-hati jika hujan turun karena jalan bisa menjadi licin.

Dr. Danang menilai pergerakan pariwisata dapat tetap berjalan dengan mitigasi yang cepat, seperti penambahan kereta api sebagai alternatif transportasi ketika bandara terdampak. "Saya lihat sekarang KAI langsung ada penambahan kereta karena bandara terdampak. Beberapa kolega mengatakan bahwa rencana mitigasi di Jakarta sudah disiapkan," katanya.

Ia menyarankan penyediaan masker di hotel sebagai layanan tambahan untuk melindungi wisatawan. "Belajar dari Covid-19, masyarakat kita sudah bisa recall bagaimana penggunaan masker yang baik memberikan keamanan," ujarnya.

Namun, Dr. Danang mengimbau agar kegiatan wisata luar ruangan di Lampung dan Banten ditunda demi keamanan dan kesehatan masyarakat. "Ditunda dulu, demi keselamatan dan kesehatan karena ini adalah prioritas utama. Pelaku wisata yang ada di daerah juga harus bisa mengakomodasikan keperluan wisatawan yang ada di sana," katanya.

Dr. Danang menutup dengan harapan agar pemerintah daerah terus memperbarui informasi terkait penyebaran abu vulkanik dan melakukan edukasi publik agar tidak terjadi lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut dan iritasi mata. "Tiap daerah BPBD daerah dan dinas terkait yang memiliki informasi terkait bencana ini. Sebaiknya dilakukan edukasi publik perihal dampak kesehatan, jangan sampai nanti rumah sakit dan faskes mengalami masa genting karena banyak masyarakat yang terkena penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan iritasi mata akibat darii abu vulkanik," pungkasnya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed