Dua Apartemen Mewah Dekat Kedutaan Israel Dijual Terkait Sanksi Inggris
Dua apartemen penthouse mewah yang diduga milik Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei, pimpinan Iran, sedang dijual di London. Penjualan ini terjadi setelah bankir Iran Ali Ansari yang terkait dengan Khamenei dikenai sanksi oleh pemerintah Inggris.
Salah satu apartemen dibeli pada 2016 dengan harga US$ 25,6 juta (sekitar Rp 449 miliar) dan kini dijual lebih murah sekitar US$ 16,2 juta (Rp 284 miliar). Apartemen kedua dibeli pada 2014 dengan harga US$ 22,6 juta (Rp 396 miliar), namun harga jual saat ini tidak diketahui karena tidak tercatat secara publik, dilansir dari Detikcom dan Sunday Times.
Kedua apartemen tersebut berada sekitar 50 meter dari Kedutaan Besar Israel di Inggris, tepatnya di lantai enam dan tujuh sebuah gedung di Palace Green, Kensington. Penghuni dapat melihat pemandangan bagian belakang gedung kedutaan.
Penjualan apartemen dilakukan karena Ali Ansari, yang disebut sebagai kaki tangan Khamenei, gagal membayar utang dan dikenai sanksi oleh Inggris pada Oktober 2025. Ansari juga menghadapi tuduhan di Amerika Serikat terkait dukungannya terhadap Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
"Dia adalah bankir dan pengusaha Iran yang korup yang memfasilitasi dan memberikan dukungan kepada aktivitas permusuhan," ujar otoritas Inggris tentang Ansari.
Ansari membantah hubungan finansial atau pribadi dengan Khamenei maupun IRGC dan menolak sanksi yang dikenakan terhadapnya.
Menurut investigasi Bloomberg yang dikutip media Inggris, beberapa aset milik Mojtaba Khamenei dikelola melalui Ansari dan sejumlah perusahaan cangkang.
Lokasi apartemen yang sangat dekat dengan Kedutaan Besar Israel menarik perhatian intelijen Inggris yang melakukan penyelidikan terkait dugaan operasi mata-mata Iran di sana, sebagaimana diberitakan Times of Israel.
Pakar terorisme Roger Macmillan menyebut apartemen tersebut bisa digunakan untuk memantau aktivitas di kedutaan, merekam percakapan di luar ruangan, serta memantau getaran jendela untuk mengekstrak suara dari dalam.
"Jarak yang dekat juga memungkinkan peretasan jaringan nirkabel kedutaan untuk memantau lalu lintas internet," kata Roger Macmillan kepada Daily Mail pada Maret 2026.
Di bulan yang sama, Mojtaba Khamenei resmi menjadi pemimpin baru Iran. Pengadilan Inggris menghadirkan dua pria yang diduga mata-mata Iran untuk mengawasi Kedutaan Besar Israel dan lembaga Yahudi di London, meskipun status mereka sebagai mata-mata belum dipastikan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow