Aryna Sabalenka Temui Psikiater Usai Tersingkir dari Prancis Terbuka

Smallest Font
Largest Font

Petenis tunggal putri nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, mengungkapkan bahwa dirinya menemui psikiater untuk memulihkan kondisi emosionalnya setelah mengalami kekalahan mengejutkan dalam babak perempat final turnamen Prancis Terbuka 2026 di Paris.

Pengakuan tersebut disampaikan Sabalenka dalam sesi konferensi pers menjelang turnamen WTA 500 di Berlin, Jerman, pada Senin, 15 Juni 2026, yang menjadi penampilan publik pertamanya sejak tersingkir dari Roland Garros setelah kalah dari petenis Rusia, Diana Shnaider.

Sabalenka sempat unggul 6-3 dan 4-1, bahkan berada dalam posisi dua poin menuju kemenangan pada kedudukan 5-4 di set kedua, sebelum akhirnya takluk setelah Shnaider merebut 12 dari 13 game terakhir untuk menutup laga dengan skor 3-6, 7-5, 6-0 dalam kondisi angin kencang mencapai 26 mil per jam.

Dilansir dari puntodebreak.com, Sabalenka menyatakan bahwa dirinya membutuhkan waktu khusus untuk memproses hasil minor tersebut agar tidak terjebak dalam memori kekalahan yang menyakitkan di Paris.

"I’m just trying to dig deep in my brain—which is probably not a good idea." kata Aryna Sabalenka, Petenis Peringkat 1 Dunia, seperti dilaporkan oleh benrothenberg.com.

Petenis asal Belarusia tersebut menambahkan bahwa kekalahan dari Shnaider memberikan dampak emosional yang jauh lebih besar dari yang dia perkirakan sebelumnya, sehingga dia memutuskan mencari bantuan profesional.

"I definitely needed time to recover after Roland Garros." ujar Aryna Sabalenka, Petenis Peringkat 1 Dunia.

Dia menjelaskan bahwa bayangan tentang pertandingan tersebut terus mengganggu pikirannya selama beberapa hari karena merasa telah melewatkan peluang besar.

"I was thinking a lot about that match." ucap Aryna Sabalenka, Petenis Peringkat 1 Dunia.

Meskipun terpukul, Sabalenka memilih bersikap jujur mengenai proses pemulihan mentalnya dan menganggap kunjungan ke spesialis sebagai hal yang wajar bagi atlet profesional.

"It was a very tough defeat." kata Aryna Sabalenka, Petenis Peringkat 1 Dunia.

Langkah penanganan psikologis ini diambil agar emosi yang menumpuk pasca-turnamen tidak mengganggu penampilannya pada musim lapangan rumput yang mulai berjalan.

"I went to see a psychiatrist." tutur Aryna Sabalenka, Petenis Peringkat 1 Dunia.

Dia menegaskan bahwa sesi konsultasi tersebut memberikan perspektif baru yang membantunya melepaskan beban pikiran.

"I was looking for a way to move past what happened." ujar Aryna Sabalenka, Petenis Peringkat 1 Dunia.

Bagi Sabalenka, berbicara dengan profesional medis merupakan keputusan tepat untuk mengurai tekanan mental di level tertinggi olahraga.

"It helped me a lot." kata Aryna Sabalenka, Petenis Peringkat 1 Dunia.

Dia juga mengingatkan pentingnya keterbukaan bagi setiap orang untuk mencari bantuan luar ketika situasi emosional menjadi terlalu berat.

"Sometimes you need to talk to someone." ucap Aryna Sabalenka, Petenis Peringkat 1 Dunia.

Melalui pengalaman pahit di Roland Garros ini, sang petenis mengaku berhasil menemukan pemahaman yang lebih baik mengenai manajemen emosi dirinya sendiri.

"I learned a lot about myself." tutur Aryna Sabalenka, Petenis Peringkat 1 Dunia.

Dia meyakini bahwa menghadapi masa-masa sulit secara tepat akan membentuk ketahanan mental yang lebih kuat di masa depan.

"These situations make you stronger." kata Aryna Sabalenka, Petenis Peringkat 1 Dunia.

Kini fokus utamanya telah beralih sepenuhnya ke turnamen Wimbledon yang akan dimulai pada Senin, 29 Juni 2026, di London.

"I can't keep thinking about it." ujar Aryna Sabalenka, Petenis Peringkat 1 Dunia.

Kemampuan untuk melupakan hasil buruk dengan cepat dinilai menjadi kunci utama keberhasilannya mempertahankan posisi puncak peringkat WTA.

"I have to move forward." kata Aryna Sabalenka, Petenis Peringkat 1 Dunia.

Dia menyimpulkan bahwa menerima kenyataan pahit adalah langkah awal terbaik untuk kembali mengumpulkan fokus.

"Sometimes you simply need to accept what happened." ucap Aryna Sabalenka, Petenis Peringkat 1 Dunia.

Kekalahan dramatis tersebut memicu berbagai analisis dari tokoh tenis dunia, termasuk mantan petenis nomor satu dunia, Kim Clijsters, yang menilai performa Sabalenka di Paris sebagai bentuk sabotase diri akibat obsesi terhadap kesempurnaan di atas lapangan tanah liat.

"She completely self-sabotaged it. It just shows it doesn’t matter how well you’ve been playing or what you’ve won in the past; no matter who you play, they have a chance because we all, at times, feel like we’re not playing great." kata Kim Clijsters, Mantan Juara Grand Slam Empat Kali, dalam podcast 'Love All' yang dikutip profootballnetwork.com.

Clijsters menilai rasa frustrasi Sabalenka muncul karena sang petenis terus memaksakan kesempurnaan di saat kondisi lapangan dan cuaca tidak mendukung karakteristik permainannya.

"But then you see her self-sabotaged and make herself doubt because things aren’t going perfectly. That’s what I think the clay can do to you. It can make you feel so out of place and frustrated. And she’s never been shy about showing her frustrations and her excitement, but she completely destroyed herself," tambah Kim Clijsters, Mantan Juara Grand Slam Empat Kali.

Kritik tajam juga datang dari Rennae Stubbs, mantan pelatih Serena Williams, yang menyoroti bahasa tubuh negatif Sabalenka di lapangan meskipun sedang memimpin perolehan angka.

"Why at a set and 4-1 would you show any negativity at all? I don't understand it. It was all her fault," cetus Rennae Stubbs, Mantan Pelatih Tenis, dalam 'The Rennae Stubbs Tennis podcast' yang dilansir sports.yahoo.com.

Stubbs menjelaskan bahwa reputasi Sabalenka di ruang ganti pemain memang dikenal sebagai petenis yang mudah kehilangan kendali permainan dalam beberapa game berturut-turut jika emosinya mulai terganggu.

"You know a player like Sabalenka, if she starts to go off a little bit, she can go way off, right? There are certain players that once they start going off the rails, you know they can come back with some great stuff, but you know that there is a possibility she is going to give you two or three games. That, as a coach, I can tell you, is the locker room reputation of Sabalenka". papar Rennae Stubbs, Mantan Pelatih Tenis.

Di sisi lain, mantan juara Grand Slam tujuh kali, Venus Williams, memberikan pandangan yang lebih simpatik terhadap luapan emosi Sabalenka yang sempat menyatakan ingin berhenti dari tenis sesaat setelah laga usai.

Menurut laporan jacksonvillefreepress.com, Williams menilai pernyataan tersebut hanyalah reaksi spontan dari seorang atlet yang sedang terluka, bukan sebuah keputusan pensiun yang sungguhan, serta menyarankan agar pihak penyelenggara memberikan waktu lebih bagi pemain untuk menenangkan diri sebelum menghadapi media.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed