Amerika Serikat dan Iran Sepakati Nota Kesepahaman Damai di Versailles
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara digital menandatangani nota kesepahaman 14 poin untuk mengakhiri konflik bersenjata dalam rangkaian pertemuan yang memuncak di Istana Versailles, Prancis, Rabu malam. Kesepakatan berbasis kinerja ini mewajibkan penghentian operasi militer di semua lini termasuk Lebanon, pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa biaya, penghapusan blokade laut AS dalam 30 hari, serta rencana dana rekonstruksi Iran senilai 300 miliar dolar AS dari mitra regional. Proses negosiasi berjalan penuh ketegangan hingga memicu pembatalan rencana pertemuan teknis lanjutan di Swiss pada Jumat setelah Iran menuntut jaminan penghentian serangan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon.
Kritik tajam muncul dari internal faksi Republik di Kongres AS yang menganggap kesepakatan ini terlalu banyak memberikan konsesi kepada Teheran dengan imbalan yang sangat minim bagi Washington.
"We didn’t meet out of desperation, Iran did. They are FINISHED!" tulis Donald Trump, Presiden Amerika Serikat melalui media sosial pada Jumat sebagaimana dilansir CNN. Trump juga menegaskan posisi keuangan AS terkait dana bantuan rekonstruksi pascaperang tersebut.
"We’ll play out the 60 days. They get no money, not ten cents!" kata Donald Trump. Ketakutan akan potensi bencana ekonomi global dan lonjakan harga minyak menjadi alasan utama sang presiden bersikeras merampungkan kesepakatan malam itu juga.
"I didn’t want to see economic catastrophe," ujar Donald Trump saat berada di Hôtel Royal, Évian-les-Bains. Di sisi lain, proses transisi pasca-penandatanganan dinilai membingungkan akibat pesan yang tumpang tindih dari Gedung Putih mengenai jadwal peluncuran teks resmi kesepakatan. "This was not easy, I can tell you," kata Donald Trump kepada para tamu malam malamnya di Versailles.
Pihak kepemimpinan negosiator AS menyatakan fokus utama saat ini bergeser pada implementasi riil di lapangan, bukan sekadar komitmen di atas kertas.
"The MOU, the gentleman’s agreements, the final deal — words don’t matter, ladies and gentlemen. We’re about verification," tutur JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat dilansir NBC News. Di tengah optimisme Washington, penolakan keras datang dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang mengkritik klausul penghentian permusuhan di Lebanon. "We have our deal done with Iran," ucap Donald Trump saat bertemu Emir Qatar di Prancis.
Trump memprediksi negosiasi komprehensif berikutnya akan berjalan jauh lebih lancar.
"It goes to a second stage, which I think will be actually easier," kata Donald Trump. Sementara itu, senator senior AS dari Louisiana menyuarakan ketidakpercayaan total terhadap kepatuhan jangka panjang Teheran terhadap pembatasan program nuklir.
"Reagan is rolling over in his grave," tulis Bill Cassidy, Senator AS melalui akun X. Cassidy secara terbuka menyebut nota kesepahaman ini sebagai kegagalan kebijakan luar negeri terbesar dalam beberapa dekade terakhir.
"Unless you were homeschooled by a day drinker, no one’s confident that Iran’s going to do anything," cetus John Kennedy, Senator AS lainnya. Namun dukungan mengalir dari faksi lain yang melihat pembukaan jalur perdagangan maritim global sebagai keuntungan besar. "it is my opinion that signing the MOU will be beneficial to the United States, in as much as the Strait of Hormuz will begin to open, and the hostilities with Iran will stop," tulis Lindsey Graham, Senator AS setelah berbicara dengan utusan Steve Witkoff.
Klausul maritim tersebut langsung direspons oleh militer AS melalui konfirmasi tidak adanya serangan baru terhadap kapal dagang.
"The traffic of commercial vessels will immediately start," tulis dokumen resmi Nota Kesepahaman (MoU) tersebut. Komando Pusat AS memastikan pasukan mereka tetap beroperasi penuh di kawasan teluk guna menjamin kebebasan navigasi internasional. "We’re not going to let commercial vessels get attacked," tegas seorang pejabat militer Amerika Serikat.
Fasilitas ekspor minyak mentah Iran juga bergantung pada penerbitan dispensasi sanksi keuangan oleh Departemen Keuangan AS.
"The United States of America undertakes that immediately upon the signing of this MOU, and until the termination of sanctions, U.S. Department of Treasury will issue waivers for the export of Iranian crude oil, petroleum products, and derivatives, and all associated services, including banking transactions, insurances, transportation, etc.," bunyi kelanjutan naskah kesepakatan tersebut. Dari Teheran, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa keberlanjutan proses ini sepenuhnya bersyarat dan menuntut kepatuhan mutlak dari pihak Washington.
"This condition has not yet been fulfilled due to the other side’s failure to comply," ungkap Esmaeil Baqaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran kepada kantor berita Tasnim pada Sabtu. Baqaei menyoroti kegagalan AS dalam memaksa rezim Zionis melakukan gencatan senjata di Lebanon sebagai pelanggaran nyata terhadap Pasal 1 kesepakatan.
"A violation of Article 1 calls the entire agreement into question," seru Esmaeil Baqaei. Pemerintah Iran menyatakan diplomasi intensif ini dicapai dengan tetap mengandalkan kekuatan pertahanan nasional mereka. "We have not signed a commitment that would become ineffective from the outset or lack implementation guarantees," jelas Esmaeil Baqaei.
Teheran memperingatkan konsekuensi serius jika implementasi kesepakatan ini terus dihambat oleh sekutu Amerika Serikat.
"commitment for commitment and action for action," tandas Esmaeil Baqaei menutup penjelasannya mengenai prinsip politik luar negeri Republik Islam Iran.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow