Asteroid 2026 JH2 Melintas Dekat Bumi pada Selasa Subuh
Sebuah batuan antariksa berukuran masif yang diberi kode Asteroid 2026 JH2 dilaporkan melintas dekat dengan Bumi pada Selasa (19/5/2026) pagi pukul 05.00 WIB di atas wilayah langit Afrika bagian selatan. Perlintasan objek dekat bumi atau near earth object (NEO) ini dipastikan berada pada jarak yang aman dan sama sekali tidak memicu potensi tumbukan berbahaya dengan planet kita.
Data awal sempat memperkirakan ukuran asteroid ini mencapai panjang 35 meter, namun pembaruan data pelacakan menunjukkan diameternya berada di kisaran 20 meter yang setara dengan meteor dalam Peristiwa Chelyabinsk di Rusia pada 2013. Asteroid kelas Apollo ini pertama kali ditemukan pada 10 Mei 2026 melalui sistem pelacakan Catalina Sky Survey di Observatorium Mount Lemmon, Arizona, Amerika Serikat, serta dikonfirmasi oleh Observatorium Farpoint.
Karakteristik pergerakan batuan antariksa ini dikonfirmasi langsung oleh badan antariksa dunia. Laporan tertulis Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang dilansir dari Media Indonesia menegaskan status keamanan lintasan tersebut.
"Jarak tersebut tergolong aman dan tidak memiliki potensi tumbukan dengan bumi dalam waktu dekat," tulis laporan lembaga antariksa tersebut.
Para astronom dunia hingga saat ini telah mengumpulkan 124 data pengamatan terpisah untuk mengunci jalur edar asteroid yang mengitari Matahari dengan periode orbital 3,7 tahun tersebut. Meskipun melintas dekat, tingkat kecerahan visual objek ini sangat rendah karena berukuran kecil, dengan estimasi magnitudo visual antara +11,5 hingga +17.
Astronom amatir dari Lembaga Ekuivalensi Ekliptika, Marufin Sudibyo menjelaskan bahwa karakteristik orbit asteroid ini memiliki sudut kemiringan kecil sebesar 6 derajat namun dengan tingkat kelonjongan mencapai 0,5.
"Asteroid 2026 JH2 beredar mengelilingi Matahari dalam periode 3,7 tahun dengan kemiringan orbit hanya 6 derajat tapi dengan kelonjongan orbit cukup besar (yakni 0,5) sehingga obitnya secara alamiah tak stabil," kata Marufin kepada Kompas.com, Selasa (19/5/2026).
Mengenai jarak perlintasan, terdapat beberapa catatan dari para pengamat. Marufin memaparkan bahwa posisi terdekat objek tersebut masih berada dalam batas yang sangat aman dari jangkauan atmosfer planet.
"Jarak melintasnya itu sekitar 2,4 kali lebih jauh dibanding jarak Bumi ke Bulan. Jadi, asteroid 2026 JH2 ini murni hanya lewat dan sama sekali tidak menembus atmosfer Bumi kita," ujar Marufin.
Tingkat redupnya fisik asteroid yang mencapai 16 kali lebih gelap daripada planet kerdil Pluto membuat fenomena ini tidak dapat disaksikan langsung oleh masyarakat awam tanpa alat bantu khusus.
"Tingkat terangnya sangat kecil, berada pada magnitudo visual +17. Sebagai perbandingan, kecerahan objek ini 16 kali lebih redup daripada planet kerdil Pluto," kata Marufin.
Masyarakat dipastikan tidak bisa melihat perlintasan ini menggunakan mata telanjang ataupun teleskop portabel biasa.
"Hanya fasilitas observatorium besar sekelas Observatorium Bosscha saja," pungkas Marufin.
Di sisi lain, laporan IFLScience pada 12 Mei menyebutkan bahwa pada kondisi langit cerah tanpa polusi cahaya, pergerakan asteroid ini masih dapat diamati menggunakan teleskop amatir berukuran menengah karena mencapai kecerahan magnitudo 11,5 saat mendekati orbit. Virtual Telescope Project bahkan menyediakan siaran langsung proses pengamatan ini sejak Senin (18/5/2026) malam pukul 19.45 UTC atau Selasa dini hari waktu Asia untuk memfasilitasi para penggemar astronomi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow