Bagnaia Terjatuh Lagi di GP Aragon dan Pertanyakan Traksi Ban

Smallest Font
Largest Font

Pembalap tim Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia, gagal menyelesaikan balapan Grand Prix Aragon pada lap keenam akibat kehilangan cengkeraman ban belakang motor Ducati GP26 saat bersaing di posisi ketujuh.

Hasil minus ini memperpanjang catatan buruk pembalap asal Italia tersebut setelah sebelumnya juga gagal meraih poin pada balapan Sprint dan seri Grand Prix Inggris di Silverstone.

Masalah teknis berupa penurunan performa ban belakang Medium secara drastis terjadi hanya dalam lima putaran, yang memaksa sang juara dunia dua kali itu menurunkan peta tenaga mesin demi menjaga kestabilan.

"Saya benar-benar kesulitan mendapatkan grip dari ban belakang. Setelah beberapa lap, kondisinya memburuk dan motor mulai terasa sulit dikendalikan," kata Bagnaia dilansir dari laporan jpnn.com.

Upaya untuk meredam pemakaian ban melalui pengaturan ulang peta tenaga mesin ternyata belum membuahkan hasil hingga berujung kecelakaan pada putaran berikutnya.

"Saya harus mengurangi tenaga mesin karena ban belakang sudah kehilangan performanya dengan sangat cepat. Saya tidak sedang memaksakan motor, tetapi grip tetap hilang," ujar Bagnaia.

Persoalan ketiadaan cengkeraman roda belakang ini memicu reaksi berantai yang merusak keseimbangan keseluruhan pada bagian depan kendaraan saat melaju di trek lurus.

"Saya kehilangan kendali pada roda belakang, lalu kehilangan kendali pada roda depan," kata Bagnaia dilansir dari crash.net.

Penurunan performa ban yang ekstrem dalam rentang waktu singkat mengejutkan tim teknis mengingat balapan baru berjalan beberapa putaran awal.

"Bagi saya, masalah kurangnya grip pada roda belakang ini sangat parah; kenyataannya, saya sama sekali tidak mendapatkan grip - benar-benar nol," kata Bagnaia.

Keputusan menurunkan performa mesin diambil setelah ban belakang tergerus habis tanpa adanya manuver agresif di atas lintasan.

"Gripnya benar-benar nol. Saya beralih ke mapping mesin dengan tenaga lebih rendah setelah lima lap karena ban belakang sudah benar-benar habis dalam waktu singkat itu, padahal saya tidak memacu motor secara agresif ataupun melakukan manuver ekstrem," kata Bagnaia.

Pergerakan liar dari bagian belakang motor berlanjut pada ketidakstabilan bagian depan saat memasuki tikungan.

"Jadi, saya sangat kesulitan. Motor mulai terasa tidak stabil dan melayang sejak lap kelima. Saya kehilangan kendali roda belakang, dan saat grip belakang kembali muncul, justru roda depan yang kehilangan grip," kata Bagnaia.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan pencapaian konsisten yang sempat dicatatkan sang pembalap pada pertengahan musim balap.

"Menurut saya, kondisinya tidak terlalu buruk hingga balapan di Sachsenring," kata Bagnaia.

Konsistensi raihan podium pada seri terdahulu memberikan harapan sebelum kendala utama kembali muncul setelah balapan di Silverstone.

"Segalanya berjalan lebih konsisten," kata Bagnaia.

Rasa optimisme sempat menyelimuti tim kendati menyadari adanya celah kekurangan pada pengaturan awal motor.

"Memang saya sempat kesulitan, tetapi hasilnya lebih menjanjikan," kata Bagnaia.

Perubahan drastis pada respons ban belakang di sirkuit-sirkuit selanjutnya menjadi kekhawatiran terbesar menghadapi sisa musim.

"Namun, sejak Silverstone, ada sesuatu yang terjadi karena cengkeraman ban benar-benar hilang total, dan saya tidak tahu [apa yang akan terjadi] saat kami tiba di sirkuit dengan tingkat cengkeraman yang lebih rendah," kata Bagnaia.

Krisis cengkeraman ban ini menimbulkan kecemasan mendalam untuk balapan mendatangi trek aspal bergrip rendah.

"Saya bahkan tidak bisa membayangkannya," kata Bagnaia.

Percobaan modifikasi pada distribusi bobot motor saat sesi latihan terbukti tidak membawa perbaikan nyata pada hasil Sprint maupun balapan utama.

"Sebelumnya masalah ini masih bisa kami atasi dan hasilnya mulai membaik. Namun setelah Silverstone, saya merasa grip kembali hilang dan saya sendiri tidak tahu seperti apa situasinya," kata Bagnaia.

Kegagalan beruntun di dua seri terakhir menciptakan tekanan mental tersendiri bagi sang pembalap di dalam garasi tim Borgo Panigale.

"Saya telah memberikan segalanya untuk Ducati, dan sangat sulit menerima situasi yang sudah sampai pada titik ini. Saya sangat kecewa dan tidak melihat adanya jalan keluar," kata Bagnaia dilansir dari tmcblog.com.

Kekecewaan meluap akibat kegagalan beruntun yang menempatkannya pada posisi terendah sepanjang karier profesionalnya.

"Semua ini mempermalukan dan bikin malu. Saya pikir ini adalah salah satu momen terburuk dalam karir saya, karena saya tidak melihat jalan keluar dan situasinya bahkan makin memburuk dalam dua seri terakhir," kata Bagnaia.

Insiden di MotorLand Aragon terjadi akibat kesalahan teknis perpindahan transmisi gigi yang memicu hilangnya kendali pada kecepatan tinggi.

"Saya masih beruntung tidak mengalami highside yang bisa membuat saya cedera berat. Namun dua balapan berturut-turut jatuh di lap-lap awal saat kecepatan saya sebenarnya satu detik lebih lambat… itu sungguh sulit diterima," kata Bagnaia.

Evaluasi menyeluruh kini diarahkan pada seri kandang di Sirkuit Misano untuk memulihkan daya saing di papan atas.

"Seri berikutnya di Misano akan sangat penting. Akan ada banyak penggemar dan saya berharap kami bisa membaik. Namun dalam situasi seperti ini, San Marino pun bisa jadi sangat rumit. Target realistis saat ini adalah menemukan solusi agar bisa bertarung di posisi 5 besar," kata Bagnaia.

Peningkatan kecil sempat dirasakan pada sesi kualifikasi Sabtu sebelum masalah traksi kembali kambuh pada balapan Sprint sore harinya.

"pagi ini kami berhasil membuat kemajuan kecil, saya merasa sedikit lebih baik," kata Bagnaia dilansir dari gpone.com.

Catatan waktu lap pada sesi pagi menunjukkan potensi kecepatan yang cukup menjanjikan untuk bersaing di grup tengah.

"Mulai putaran kedua, saya berhasil cukup cepat, meski tidak secepat Marc. Saya bisa mempertahankan waktu antara 1’46” akhir dan 1’47” awal; itu adalah tempo di mana saya merasa nyaman dan yakin bisa mempertahankannya di Sprint. Di sesi kualifikasi, saya kehilangan sepersepuluh detik di antara tikungan ketiga dan keempat, tapi secara keseluruhan berjalan baik," kata Bagnaia.

Penurunan performa mendadak pada sesi Sprint memaksa tim mencari penyebab hilangnya kecepatan maksimum di lintasan.

"Saya tidak merasakan sensasi yang sama dan, sayangnya, saya tertinggal. Sangat disayangkan karena saya cukup yakin bisa tampil lebih baik, bisa masuk 7 besar, dan bersaing di grup Aldeguer. Kita harus memahami apa yang terjadi; mungkin arah yang kita ambil pada sore hari itu tidak tepat. Saya tidak mendapatkan traksi, kehilangan akselerasi, dan juga kecepatan maksimum; saya tidak bisa mendekati pembalap di depan untuk mencoba menyerang mereka," kata Bagnaia.

Kenaikan suhu lintasan memperparah kendala cengkeraman ban belakang dan stabilitas saat masuk ke tikungan.

"Pagi ini kami cukup meningkatkan pengereman dan masuk tikungan, tapi saya masih kurang percaya diri dalam mengendalikan motor dan tidak memiliki cengkeraman di ban belakang. Itulah yang terus kurang dari saya dan ketika suhu meningkat, saya semakin merasakan masalah-masalah ini. Mungkin itulah alasan kesulitan yang saya alami sore ini. Justru karena itu, kami akan berusaha mengambil langkah maju lagi untuk besok," kata Bagnaia.

Perbandingan data telemetri dengan Alex Marquez yang menggunakan spesifikasi motor serupa menunjukkan perbedaan karakter berkendara yang mencolok.

"Tidak, kami tidak bisa memahami dari mana mereka berhasil mendapatkan peningkatan itu. Sulit juga membandingkan data karena ada banyak perbedaan, terutama saat kami mengendalikan gas. Rasanya seperti melihat dua motor yang berbeda", kata Bagnaia.

Kondisi ini memaksa juara bertahan tersebut beradaptasi demi mengamankan poin di tengah keterbatasan performa motor.

"Saat ini saya menerima posisi saya dan melakukan yang terbaik. Saya sangat tahu bahwa, saat saya merasa nyaman dengan motor saya, potensi saya adalah untuk menang atau finis di tiga besar. Sekarang, siapa pun yang ada di depan saya, saya akan berusaha mengalahkannya. Bagaimanapun, hari ini saya sudah berusaha semaksimal mungkin dan yang terpenting adalah menyelesaikan balapan daripada terjatuh," kata Bagnaia.

Persiapan balapan terus berlanjut dengan analisis data telemetri mendalam guna menemukan pengaturan chassis yang tepat.

"Tentu saja malam ini kami akan menganalisis data dan berusaha menemukan solusi. Besok pagi saya akan mencoba sesuatu, meskipun kondisi lintasan dalam sesi pemanasan pasti akan lebih baik. Balapan akan sulit dan memiliki kepercayaan diri yang lebih besar tentu akan membantu," kata Bagnaia.

Meskipun menghadapi rintangan teknis, komitmen untuk meningkatkan kecepatan tetap menjadi fokus utama di setiap sesi.

"Balapan Sprint semakin penting, sama pentingnya dengan mengambil langkah maju untuk mendapatkan kecepatan lebih," kata Bagnaia.

Kendala ausnya permukaan ban samping kanan turut mempengaruhi pencapaian waktu putaran terbaik pada sesi akhir.

"Saya sedikit kesulitan dengan graining di sisi kanan dan tidak memiliki cengkeraman di sisi kiri, tapi saya mencatatkan waktu terbaik di lap terakhir. Saya tidak terlalu cepat, tapi performa saya terus membaik. Tanpa masalah hari ini, besok saya mungkin bisa masuk 7 besar, meskipun itu tidak akan mudah," kata Bagnaia.

Kondisi fisik pembalap didukung dengan bantuan medis untuk mengurangi rasa sakit akibat benturan pada balapan sebelumnya.

"Hari ini saya minum obat pereda nyeri, tapi saya masih harus menjalani rehabilitasi," kata Bagnaia.

Frustrasi terus meningkat karena solusi atas kendala utama kendaraan belum ditemukan oleh tim teknisi pabrikan.

"I'm there giving everything I can, always, in every situation, every session. I arrive at the garage trying to be as clear as possible, because in any case we are all looking for a solution that doesn't come," kata Bagnaia dilansir dari motorsport.com.

Jarak kecepatan satu detik dari posisi terdepan dirasakan sangat memukul motivasi bertanding sang juara bertahan.

"So when you then have a weekend like this, a weekend like Silverstone, you end up on the ground pushing, but your pushing means lapping a second slower than the fastest, it mortifies you and above all it is humiliating at this moment," kata Bagnaia.

Situasi ini dinilai sebagai titik terendah dalam karier balap profesionalnya akibat ketiadaan tren perbaikan performa.

"It is perhaps one of the lowest moments of my sporting career, because I see no way out at the moment and the situation is the same as in the first race. In fact, in the last two races it has almost worsened, and therefore it is tough," kata Bagnaia.

Kehilangan daya cengkeram ban secara total menjadi faktor utama yang merusak kestabilan saat melintasi tikungan Aragon.

"For me, the lack of grip from the rear is too much," kata Bagnaia.

Kondisi tanpa cengkeraman sama sekali memaksa pembalap mengubah pengaturan mesin sejak lap-lap awal.

"Because the reality is that I have zero grip. Completely zero grip," kata Bagnaia.

Pengurangan opsi tenaga mesin harus dilakukan dini akibat ausnya kompon ban belakang secara mendadak.

"I put the [engine] map with less power after five laps because the rear was completely finished in five laps. Without pushing, without doing anything," kata Bagnaia.

Sensasi buruk pada bagian belakang motor dengan cepat menjalar dan mengunci pergerakan roda depan.

"So I was struggling a lot. I lost the rear, and when the rear came back, I lost the front," kata Bagnaia.

Kekhawatiran makin meningkat menghadapi seri balapan mendatang di sirkuit dengan tingkat traksi aspal yang lebih rendah.

"From Silverstone, something happened because I don't have grip," kata Bagnaia.

Ketiadaan traksi membuat prediksi performa di sirkuit lain menjadi tidak menentu bagi jajaran teknisi.

"Completely zero. I don't know when we will arrive in other circuits where the level of grip is lower. So I can't imagine it," kata Bagnaia.

Data lama menunjukkan ketidakmampuan menggunakan gaya balap alami yang biasanya menjadi keunggulan utama.

"I gave everything I could to Ducati, in all situations. It's difficult now to accept that the situation can be like this despite the effort I put into it," kata Bagnaia.

Gaya berkendara yang dipaksakan di luar kebiasaan justru meningkatkan risiko kecelakaan saat mencoba memacu kecepatan.

"I look at the data, even old data, and the things I see others doing now don't come to me anymore. So I'm in a situation where with today's bike I can't ride in a natural way, and when I try to do something more, I crash," kata Bagnaia.

Rasa percaya diri sempat dipulihkan pada musim sebelumnya melalui pengujian penting di Misano dan balapan di Jepang.

"But this is something I was falling into last year, and then fortunately came the test in Misano and the race in Japan. And there I removed every single doubt and I saw that I just need to feel good and I'm still in the game to fight with the top three," kata Bagnaia.

Harapan besar digantungkan untuk mampu mengulang performa dominan seperti yang ditunjukkan pada balapan di Sirkuit Motegi.

"I don't know, but I hope so," kata Bagnaia.

Pemeriksaan telemetri mendalam dilakukan demi mencari penjelasan hilangnya daya cengkeram secara mendadak.

"Lost the rear, lost the front," kata Bagnaia.

Masalah traksi ban belakang dirasakan sangat membatasi potensi manuver saat akselerasi keluar tikungan.

"For me, the lack of grip from the rear is too much, because the reality is I have zero grip - completely," kata Bagnaia.

Penurunan fungsi ban secara total dalam lima putaran pertama memaksa penyesuaian gaya berkendara secara drastis.

"Completely zero grip. I put the map with less power after five laps because the rear was completely finished in five laps, without pushing, without doing anything," kata Bagnaia.

Gejala floating pada motor mulai terasa kuat sebelum terjadinya insiden kehilangan kendali roda depan.

"So, I was struggling a lot. I was starting to have a lot of floating already in lap five. And I lost the rear, and then when the rear came back I lost the front," kata Bagnaia.

Stabilitas performa pada awal musim di Sachsenring memberikan perbandingan kontras terhadap krisis yang dialami saat ini.

"I think the feeling wasn’t that bad up to Sachsenring," kata Bagnaia.

Hasil balapan pada periode awal musim masih menunjukkan harapan perbaikan yang relatif konsisten.

"Everything was working in a more consistent way," kata Bagnaia.

Tingkat optimisme tim mulai memudar seiring munculnya kendala teknis yang persisten di lintasan.

"I was struggling, this is true, but the results were more optimistic," kata Bagnaia.

Hilangnya cengkeraman ban secara total sejak seri Silverstone memicu ketidakpastian menghadapi balapan di sirkuit lain.

"Since Silverstone, something happened because I have zero grip completely, and I don’t know [what will happen] when we will arrive in circuits where the level of grip is lower," kata Bagnaia.

Detail kronologi jatuhnya kendaraan pada lap ketujuh di Aragon berbeda dari insiden yang dialami di Silverstone.

“I’m okay,” kata Bagnaia.

Perpindahan posisi beban mesin yang mendadak mengakibatkan penguncian instan pada ban bagian depan.

“but unfortunately I lost the rear while cornering, and then the front locked up. It was a different kind of crash than the one at Silverstone—I still don’t have an explanation for that incident. Unfortunately, today I shifted gears too early, and the moment the load came on, the front end locked up. It still turned out okay, because if I’d gone all out, I could have gotten hurt,” kata Bagnaia.

Pilihan untuk berpindah ke peta tenaga rendah memperlambat laju kendaraan namun tidak mencegah timbulnya kecelakaan.

“It’s hard to say, because we were only on the seventh lap, so I’d already switched to the low-power map. I don’t know how long I could have kept up that pace. Unfortunately, we have very little grip. For the past two races, I’ve been crashing very early in the first few laps, and I’ve been spinning out a lot—in fact, we deserve better,” kata Bagnaia.

Komunikasi intensif terus dilakukan bersama jajaran teknisi garasi untuk memecahkan kelemahan teknis pada GP26.

“I give it everything I’ve got in every situation, and whenever I come back to the garage, I try to be as clear as possible with the team to find a solution—which, unfortunately, hasn’t materialized yet. The fact is, you push hard, only to end up on the ground, even though you’re a second slower. All of this is humiliating and mortifying; I think it’s one of the lowest points of my career, since I don’t see a way out and the situation has actually gotten worse in the last two races,” kata Bagnaia.

Pengorbanan dan kontribusi data selama bertahun-tahun belum membuahkan solusi atas masalah penanganan motor saat ini.

“I’ve given Ducati everything I could, and it’s hard to accept that this is how things have turned out, despite my commitment and all the data I review every day. With today’s bike, I can’t ride naturally, and then I crash,” kata Bagnaia.

Kecepatan tinggi yang dicapai saat mengendarai Panigale menjadi penanda bahwa kemampuan berkendara dasar tidak memudar.

“With the Panigale, I fly and I’m incredibly fast—that’s comforting, because I know I can still ride a bike and be competitive,” kata Bagnaia.

Pengujian Misano musim lalu terbukti ampuh menghapus keraguan diri atas kapasitas bersaing di deretan terdepan.

“That’s something I was struggling with last year. At the tests in Misano and Japan, though, I cleared up any doubts I had—in fact, I saw that if I feel comfortable, I’m in the running for the podium,” kata Bagnaia.

Harapan diusung agar tren positif balapan di Sirkuit Motegi Jepang dapat terulang kembali di masa mendatang.

“I don’t know… I hope so! The next race, at Misano, will be incredibly important; there will be a huge crowd, and I hope we can improve. Of course, given the current situation, Misano could be very challenging. I hope to find a solution so I can fight for a top-five finish, which should be within reach,” kata Bagnaia.

Kerja keras terus dikerahkan seluruh staf balap kendati kemajuan signifikan belum berhasil diwujudkan di lapangan.

“We’re putting in a lot of effort, but we haven’t gotten anywhere yet,” kata Bagnaia.

Krisis cengkeraman ban belakang menjadi hambatan paling dominan yang merusak keseluruhan alur balapan di Aragon.

“I had zero grip. As I said before, I even switched to the map with less power after 5 laps, since the rear was already shot and there was nothing I could do. In the end, I lost the rear and then the front, ending up on the ground,” kata Bagnaia.

Sensasi berkendara yang sempat membaik pada sesi latihan pagi sirna setelah dilakukan penambahan bobot bagian belakang.

“Up until the Sachsenring, my confidence wasn’t that bad: it’s true I was struggling, but I was optimistic. Now, since Silverstone, I haven’t had any grip, and I don’t know what will happen on other tracks where grip is lower. Yesterday morning I had slightly better feelings—in fact, I put more weight on the rear—but in the end, the Sprint was much harder, so much so that we had to go back. Then this morning was a disaster,” kata Bagnaia.

Tanggapan awal dilontarkan mengenai desain lintasan balap Adelaide yang dinilai memiliki karakter berbeda dibanding Phillip Island.

"It’s hard to tell from a video. It looks fun, but I don’t know how close we’ll be to the run-off areas. The layout isn’t like Phillip Island’s: definitely more boring, but it looks better than Balaton," kata Bagnaia.

Data pembalap tim satelit Gresini, Alex Marquez, sempat dijadikan acuan referensi untuk memahami potensi performa motor.

“If we can understand what, mostly, Alex Marquez is doing, we can be competitive,” kata Bagnaia.

Dukungan performa dari motor Alex Marquez dinilai menjadi pembeda utama di antara jajaran pembalap penunggang Ducati.

“Because we already saw the data, and the one that is having the most support from the bike is Alex,” kata Bagnaia.

Performa impresif pembalap tim satelit tersebut kembali mendapat pujian saat tampil dominan pada balapan di Silverstone.

“Luckily in the satellite team we have Alex Marquez who is doing a fantastic job, super strong, super fast, and is the one that making the difference compared to other Ducatis,” kata Bagnaia.

Kondisi kehilangan traksi ban belakang dirasakan langsung saat mulai membuka tuas gas di tikungan.

“When I enter the corners, I lose the rear without doing anything,” kata Bagnaia.

Spinning terus terjadi pada ban belakang hingga posisi sepeda motor kembali berdiri tegak lurus.

“As soon as I touch the gas… I lose it. Until the bike is completely straight, I still spin and have a lot of movement,” kata Bagnaia.

Perbedaan telemetry yang lebar saat pembukaan gas membuat perbandingan data antarpembalap makin sulit dilakukan.

"We can't understand where they managed to find that improvement. It's even difficult to compare the data because there are so many differences, especially when we open the throttle," kata Bagnaia.

Sensasi kendali kendaraan yang sangat berbeda dirasakan meski menggunakan basis spesifikasi pabrikan yang sejenis.

"It's like seeing two different bikes," kata Bagnaia.

Peningkatan suhu udara lintasan memperjelas kesulitan pembalap dalam mengendalikan arah belok kendaraan.

“I still don't have a great feeling with turning the bike and getting grip at the back, and the hotter it gets, the more I feel this. We'll try to make a small step tomorrow,” kata Bagnaia.

Pernyataan keteguhan hati disampaikan untuk terus memberikan performa maksimal pada sisa kontrak bersama tim saat ini.

"I'm here to go fast. I'm interested in where I'll be next year, but I'm also interested in the present. And I'm here to do my best, and I'll give it my all," kata Bagnaia.

Karakter bawaan dari Ducati GP26 diakui tidak sepenuhnya cocok dengan gaya balap natural yang dimilikinya.

“Unfortunately, in the last two years, there have been too few opportunities to do really well, and we know very well that this bike's DNA doesn't really suit me,” kata Bagnaia.

Sikap pantang menyerah dipastikan tetap menjadi pegangan utama dalam menghadapi setiap akhir pekan balapan.

“But I'll never give up; in the end, I'll always be able to do my best every weekend,” kata Bagnaia.

Fluktuasi hasil balapan diperkirakan masih akan terjadi seperti pada seri Brno, Le Mans, maupun Mugello sebelumnya.

“There will be times like in Brno, Le Mans, or Mugello where I'll be further ahead, and times where, like in the last two races, we're unfortunately struggling more,” kata Bagnaia.

Komitmen profesional ditegaskan kembali untuk terus berjuang keras tanpa pernah menyerah pada keadaan teknis.

“But if there's one thing I'm sure of, it's that giving up is just not something I'll do,” kata Bagnaia.

Sementara itu, Marc Marquez berhasil menyapu bersih poin penuh pada akhir pekan Aragon yang melesatkannya ke urutan kedua klasemen sementara, sedangkan Fabio Di Giannantonio yang menggunakan spesifikasi GP26 serupa mengalami kecelakaan pada lap pertama balapan Sprint.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed