Bagnaia Gagal Lolos Q2 MotoGP San Marino 2026
Pembalap Ducati Lenovo Team Francesco Bagnaia gagal mengamankan tiket ke babak kualifikasi kedua (Q2) MotoGP San Marino 2026 di Sirkuit Misano, Italia, Sabtu (12/9/2026). Bagnaia hanya menempati posisi keempat pada sesi Q1 dengan catatan waktu 1 menit 30,916 detik di belakang Raul Fernandez, Fermin Aldeguer, dan Fabio Quartararo.
Hasil di Sirkuit Misano menjadi kegagalan keempat bagi sang juara dunia dua kali itu dalam menembus Q2 secara otomatis sepanjang musim 2026. Sebelumnya, pembalap asal Italia tersebut juga mengalami catatan buruk akibat kendala teknis dan kondisi lintasan pada sesi kualifikasi di MotoGP Thailand, Catalunya, dan Aragon.
Masalah kendali motor Desmosedici GP26 menjadi pemicu utama penurunan performa Bagnaia sejak memasuki paruh kedua musim. Pada sesi latihan bebas Jumat, ia bahkan terlempar ke urutan ke-19 dan kerap hampir terjatuh saat melintas di tikungan.
"Kami telah berjuang untuk memahami karakter motor dalam tiga seri terakhir, terutama mengenai rem mesin dan pegangan belakang," kata Bagnaia seperti disiarkan laman Ducati Lenovo.
Ia menilai kendala pada sistem pengereman membuatnya kesulitan meniru setelan yang digunakan oleh para pembalap Ducati lainnya.
"Ini adalah situasi yang belum pernah muncul sebelumnya, tapi motor sekarang agak susah dikendalikan dan sulit merasakan perbedaan dalam pengaturan," ujar Bagnaia.
Meskipun menghadapi defisit performa yang tajam, Bagnaia bersama tim mekanik Ducati terus menganalisis data telemetry untuk menemukan solusi terbaik jelang sesi balapan utama pada hari Minggu.
"Sementara membandingkan data kami dengan pengendara Ducati lainnya, jelas bahwa ada perbedaan di bawah pengereman, pertengahan belokan serta di sudut jalan keluar, tapi untuk beberapa alasan kami tidak dapat meniru pengaturan yang sama. Kami masih bekerja tanpa henti untuk menemukan solusi besok dan Minggu," ungkap Bagnaia.
Tim mekanik Ducati berupaya keras mengidentifikasi penyebab utama ketidakstabilan motor pada bagian belakang demi memulihkan cengkeraman ban saat melintasi Sirkuit Misano.
"Tim sedang berupaya keras mencari tahu masalahnya, namun tampaknya mustahil untuk memahami penyebabnya," kata Bagnaia seperti dilaporkan Crash.net.
Data telemetry menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara besarnya tekanan rem yang diterapkan Bagnaia dengan tingkat akselerasi motor saat keluar dari belokan.
"Perbedaan antara saya dan semua pembalap Ducati lainnya terlihat sangat jelas pada data; saya melakukan pengereman jauh lebih keras dibandingkan yang lain, tetapi motor tidak berakselerasi," kata Bagnaia.
Pembalap bernomor start 63 itu mengaku harus mengubah gaya balapnya demi menghindari risiko kecelakaan yang lebih fatal selama sesi kualifikasi.
"Saya sangat memperhatikan akselerasi melalui penggunaan gas, namun justru saya yang akselerasinya paling lambat," ujar Bagnaia.
Perilaku unik dari Desmosedici GP26 membuat seluruh kru teknis kesulitan menentukan arah pengembangan setelan motor yang tepat.
“Cara kerja motor saya sangat aneh, dan tim benar-benar tidak mengerti alasannya. Kami berada dalam situasi yang sangat sulit,” tutur Bagnaia.
Risiko kehilangan cengkeraman ban belakang secara tiba-tiba memaksa Bagnaia tampil menahan diri sepanjang latihan bebas.
"Saya mengendarai motor dengan gaya yang sangat defensif karena begitu saya mencoba sedikit lebih agresif, saya langsung jatuh," kata Bagnaia.
Insiden hampir terjatuh berulang kali dialaminya meski dalam laju kecepatan yang tergolong rendah di lintasan.
“Bagi saya pribadi, hari ini saya hampir terjatuh tujuh kali saat sesi latihan, padahal kecepatannya sangat lambat. Bahkan saat melaju pelan pun saya hampir terjatuh; ini aneh, dan kami perlu mencari tahu penyebabnya,” ujar Bagnaia.
Dalam analisis perbandingan data, Bagnaia menyoroti keunggulan Alex Marquez yang mampu melaju lebih cepat dengan gaya pengereman yang efisien.
"Dialah yang membuat perbedaan besar dalam hal itu karena dia menggunakan tekanan yang lebih ringan, namun melakukan deselerasi yang sangat signifikan," kata Bagnaia.
Upaya Bagnaia menyamai titik pengereman pembalap lain justru menghasilkan respons motor yang tidak sesuai harapan.
"Saya menggunakan tekanan yang kira-kira dua kali lipatnya, tetapi motor tidak mau berhenti, jadi situasinya sangat sulit," jelas Bagnaia.
Guna keluar dari krisis performa ini, Bagnaia meminta tim teknis untuk mengevaluasi ulang seluruh parameter yang telah diuji sejak awal musim.
"Saat ini situasinya juga sulit bagi [tim]," kata Bagnaia.
Ia menduga ada variabel teknis tersembunyi yang belum terdeteksi oleh perangkat analisis data tim.
"Yang saya minta adalah 'cobalah berpikir di luar apa yang sudah kita uji', karena sejak awal musim masalahnya selalu sama," ujar Bagnaia.
Dampak penanganan kendala yang belum berbuah hasil ini membuat performanya di tiga balapan terakhir merosot dibanding seri-seri awal.
"Masalahnya adalah dalam tiga GP terakhir kondisinya jauh lebih buruk, jadi mungkin ada sesuatu yang terlewat dan hal itu tidak terlihat jelas," tutur Bagnaia.
Kekecewaan melanda pembalap asal Italia tersebut karena hasil buruk terjadi di Sirkuit Misano yang merupakan trek kandangnya.
“Jumat yang sulit? Andai saja hanya itu,” ujar Bagnaia dilansir dari GPOne.
Ia menambahkan bahwa masalah pengereman dan akselerasi telah membuntutinya secara konsisten dalam beberapa seri terakhir.
“Sangat jelas apa yang tidak saya lakukan dibandingkan dengan pembalap Ducati lainnya, namun sangat sulit untuk memahami alasannya,” kata Bagnaia.
Kru mekanik terus memeriksa seluruh data telemetri namun belum menemukan akar masalah ketidakstabilan motor.
“Kami sudah memeriksa semua data, dan dalam 3 Grand Prix terakhir, saya adalah yang paling sedikit melambat, tapi juga yang paling keras mengerem. Meskipun begitu, saya tidak bisa menghentikan motor. Saya juga yang cenderung lebih banyak menggunakan gas untuk mengelola akselerasi dengan lebih baik, tapi saya juga yang paling sedikit menginjak gas. Bahkan tim saya pun tidak bisa mengidentifikasi alasannya,” jelas Bagnaia.
Kondisi lintasan Misano membuat penanganan kendala teknis semakin krusial menjelang sesi balapan utama.
“Hari ini saya berkali-kali nyaris terjatuh, bahkan saat melaju pelan. Situasinya sangat sulit dan semakin rumit sejak Silverstone, kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan ini sangat aneh,” tutur Bagnaia.
Gaya membalap yang berhati-hati menjadi pilihan tunggal agar terhindar dari benturan langsung dengan aspal.
“Saya harus mengemudi secara defensif, kalau tidak, saya berisiko terjatuh. Terjatuh di setiap tikungan bukanlah cara yang tepat untuk mengatasi situasi ini,” kata Bagnaia.
Meskipun mengalami penurunan dramatis, Bagnaia optimistis perubahan komprehensif pada pengaturan motor dapat membawa perbaikan.
“Situasinya begitu kritis sehingga perbaikan mungkin saja terjadi. Saat harus mencari celah sekecil apa pun, itu lebih sulit; saat harus bertindak secara umum, itu lebih mudah. Masalahnya mirip dengan yang terjadi di awal tahun, tapi sepuluh kali lipat lebih parah.
Saya tidak bisa mengendarai motor; begitu mencoba melakukan sesuatu yang lebih, saya terjatuh. Hari ini, bagian belakang motor tergelincir saat memasuki tikungan, saat melintasi tikungan, dan saat membuka gas, motor tidak stabil. Ini sulit, terutama di lintasan seperti ini yang sangat saya kenal.
Saya tidak ingat pernah berada dalam situasi seperti ini. Ini juga sulit bagi tim; mungkin ada sesuatu yang terlewatkan dan tersembunyi dengan sangat baik,” ujar Bagnaia.
Analisis perbandingan waktu juga dilakukan dengan memantau pergerakan para pembalap di posisi terdepan.
“Aku sudah melakukannya, dengan waktu para pembalap di depan. Apa yang aku pahami? Aku mengendarai motor dengan sangat baik,” ucap Bagnaia.
Berbagai eksperimen penyetelan telah diterapkan pada motor Bagnaia, termasuk mengadopsi konfigurasi milik rekan satu pabrikannya.
“Saya sudah mencoba setup Marc dan Alex, serta pengaturan elektronik mereka, tapi hasilnya tetap sama. Itu bukan masalahnya. Sejak Silverstone, kedua motor ini berperilaku aneh dan kami tidak mengerti alasannya,” tegas Bagnaia.
Perubahan posisi berkendara di atas jok motor juga tidak memberikan dampak positif terhadap pengendalian cengkeraman ban.
“Banyak, tapi aku belum menemukan apa pun yang bisa membantuku,” kata Bagnaia.
Pembalap Ducati Lenovo tersebut menegaskan komitmennya untuk terus tampil maksimal dalam balapan utama MotoGP San Marino 2026 meskipun harus memulai dari posisi luar 10 besar.
“Motivasi bukan masalah karena setiap kali masuk ke lintasan, aku yakin bisa merasa nyaman di atas motor. Aku tahu persis sensasi yang kurasakan saat motor dalam kondisi prima. Yang sulit adalah menerima kenyataan berada di posisi ke-19 sambil berisiko terjatuh di mana saja di sirkuit kandang sendiri,” tutup Bagnaia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow