Davide Tardozzi Kritik Performa Francesco Bagnaia di MotoGP Aragon

Smallest Font
Largest Font

Manajer Tim Ducati Lenovo, Davide Tardozzi, melontarkan kritik keras terhadap pendekatan psikologis Francesco Bagnaia setelah sang pembalap kembali gagal mengemas poin pada balapan utama MotoGP Aragon akibat kecelakaan di lap keenam.

Hasil minus di Sirkuit MotorLand Aragon tersebut memperpanjang tren negatif sang juara dunia dua kali setelah sebelumnya menelan hasil buruk pada sesi Sprint dan balapan seri GP Inggris di Silverstone.

Tardozzi menilai kendala utama yang dihadapi Bagnaia saat ini berakar dari masalah mentalitas dalam menyikapi tekanan balapan.

"Menurut saya ini masalah psikologis. Pendekatannya kadang membatasi performanya sendiri. Kami tidak meragukan kecepatannya, tapi sekarang dia perlu mengatasi garis tipis antara percaya diri dan menutup mata terhadap tantangan yang ada," kata Manajer Tim Ducati, Davide Tardozzi, dilansir dari Motosan.

Tim pabrikan asal Italia itu sebenarnya hanya menargetkan hasil lima besar untuk Bagnaia, namun perubahan skema pada sesi pemanasan tetap tidak membuahkan hasil di atas lintasan.

"Kami berharap Bagnaia setidaknya bisa finis di lima besar di sini, tapi itu tidak terjadi. Kami sudah mencoba sesuatu di sesi warm-up yang ternyata tidak berhasil. Dia kurang percaya diri, dia tidak tampil ngotot, dan kami belum bisa menemukan cara untuk mengatasi masalah ini," ceplos Manajer Tim Ducati, Davide Tardozzi.

Di sisi lain, Tardozzi memberikan pujian tinggi atas kecerdikan strategi Marc Marquez yang sukses mengamankan kemenangan ganda di seri Aragon.

"Kita menyaksikan seorang juara yang sudah merencanakan dengan sempurna bagaimana caranya memenangkan balapan. Sungguh luar biasa bagaimana dia mengelola race ini," kata Manajer Tim Ducati, Davide Tardozzi.

Tardozzi menambahkan bahwa keputusan Marquez menahan jarak di belakang lawan menjadi kunci keberhasilan menjaga usia ban sebelum melancarkan serangan akhir.

"Dia sengaja tertinggal tujuh persepuluh detik di belakang Bezzecchi untuk menghindari suhu ban depan yang terlalu panas, lalu pada momen yang tepat, dia menyerang dan langsung melesat menjauh. Ini adalah strategi balapan kelas juara," tambah Manajer Tim Ducati, Davide Tardozzi.

Sebaliknya, Bagnaia mengungkapkan bahwa kegagalan mengendalikan motor Ducati GP26 murni dipicu oleh penurunan drastis cengkeraman ban belakang Medium sejak putaran-putaran awal.

"Saya benar-benar kesulitan mendapatkan grip dari ban belakang. Setelah beberapa lap, kondisinya memburuk dan motor mulai terasa sulit dikendalikan," kata Pembalap Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia, dilansir dari laporan jpnn.com.

Penurunan performa ban yang tergerus cepat membuat Bagnaia terpaksa mengubah peta pemetaan tenaga mesin untuk menjaga kestabilan kendaraannya.

"Saya harus mengurangi tenaga mesin karena ban belakang sudah kehilangan performanya dengan sangat cepat. Saya tidak sedang memaksakan motor, tetapi grip tetap hilang," ujar Pembalap Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia.

Masalah traksi roda belakang tersebut berdampak langsung pada keseimbangan bagian depan motor saat melaju dalam kecepatan tinggi.

"Saya kehilangan kendali pada roda belakang, lalu kehilangan kendali pada roda depan," kata Pembalap Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia, dilansir dari crash.net.

Kehilangan cengkeraman yang terjadi secara instan itu dinilai Bagnaia sangat tidak wajar mengingat balapan baru saja berjalan.

"Bagi saya, masalah kurangnya grip pada roda belakang ini sangat parah; kenyataannya, saya sama sekali tidak mendapatkan grip - benar-benar nol," kata Pembalap Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia.

Ia menegaskan bahwa langkah menurunkan pemetaan tenaga mesin diambil saat ban belakangnya sudah aus total meski tanpa manuver yang agresif.

"Gripnya benar-benar nol. Saya beralih ke mapping mesin dengan tenaga lebih rendah setelah lima lap karena ban belakang sudah benar-benar habis dalam waktu singkat itu, padahal saya tidak memacu motor secara agresif ataupun melakukan manuver ekstrem," kata Pembalap Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia.

Ketidakstabilan tersebut memicu pergerakan liar pada motor hingga Bagnaia kehilangan kendali penuh di tikungan.

"Jadi, saya sangat kesulitan. Motor mulai terasa tidak stabil dan melayang sejak lap kelima. Saya kehilangan kendali roda belakang, dan saat grip belakang kembali muncul, justru roda depan yang kehilangan grip," kata Pembalap Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia.

Kondisi sulit ini amat kontras dengan pencapaian konsisten yang sempat ia rasakan pada seri-seri balapan sebelumnya.

"Menurut saya, kondisinya tidak terlalu buruk hingga balapan di Sachsenring," kata Pembalap Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia.

Rangkaian podium pada seri pertengahan musim sempat memberikan rasa optimis bagi Bagnaia dan timnya.

"Segalanya berjalan lebih konsisten," kata Pembalap Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia.

Kendati sempat menemui kendala teknis pada awal musim, hasil balapan kala itu dinilai masih cukup kompetitif.

"Memang saya sempat kesulitan, tetapi hasilnya lebih menjanjikan," kata Pembalap Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia.

Namun, perubahan respons ban setelah balapan di Silverstone kini menjadi sumber kecemasan utama Bagnaia menyongsong seri-seri berikutnya.

"Namun, sejak Silverstone, ada sesuatu yang terjadi karena cengkeraman ban benar-benar hilang total, dan saya tidak tahu [apa yang akan terjadi] saat kami tiba di sirkuit dengan tingkat cengkeraman yang lebih rendah," kata Pembalap Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia.

Ia mengaku tidak mampu membayangkan potensi kendala yang akan timbul saat tampil di trek bergrip rendah.

"Saya bahkan tidak bisa membayangkannya," kata Pembalap Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia.

Usaha tim teknis memodifikasi distribusi bobot motor pada sesi latihan juga terbukti belum memberikan jalan keluar yang efektif.

"Sebelumnya masalah ini masih bisa kami atasi dan hasilnya mulai membaik. Namun setelah Silverstone, saya merasa grip kembali hilang dan saya sendiri tidak tahu seperti apa situasinya," kata Pembalap Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia.

Dua kecelakaan beruntun di awal lap membuat pembalap asal Italia ini merasa terpukul atas situasi sulit yang melanda garasi Borgo Panigale.

"Saya telah memberikan segalanya untuk Ducati, dan sangat sulit menerima situasi yang sudah sampai pada titik ini. Saya sangat kecewa dan tidak melihat adanya jalan keluar," kata Pembalap Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia, dilansir dari tmcblog.com.

Bagnaia bahkan menyebut periode ini sebagai salah satu titik terendah sepanjang kariernya di dunia balap profesional.

"Semua ini mempermalukan dan bikin malu. Saya pikir ini adalah salah satu momen terburuk dalam karir saya, karena saya tidak melihat jalan keluar dan situasinya bahkan makin memburuk dalam dua seri terakhir," kata Pembalap Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia.

Insiden di Aragon dipicu kesalahan teknis perpindahan transmisi gigi yang menyebabkannya terjatuh saat laju motor lebih lambat.

"Saya masih beruntung tidak mengalami highside yang bisa membuat saya cedera berat. Namun dua balapan berturut-turut jatuh di lap-lap awal saat kecepatan saya sebenarnya satu detik lebih lambat… itu sungguh sulit diterima," kata Pembalap Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia.

Fokus perbaikan kini dialihkan ke seri kandang di Sirkuit Misano untuk mengembalikan daya saing di papan atas.

"Seri berikutnya di Misano akan sangat penting. Akan ada banyak penggemar dan saya berharap kami bisa membaik. Namun dalam situasi seperti ini, San Marino pun bisa jadi sangat rumit. Target realistis saat ini adalah menemukan solusi agar bisa bertarung di posisi 5 besar," kata Pembalap Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia.

Sebelumnya, Bagnaia sempat merasakan peningkatan performa pada sesi kualifikasi Sabtu pagi sebelum kendala traksi kembali muncul saat balapan Sprint.

"pagi ini kami berhasil membuat kemajuan kecil, saya merasa sedikit lebih baik," kata Pembalap Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia, dilansir dari gpone.com.

Catatan waktu yang diperoleh pada sesi pagi itu sempat memberi harapan untuk bersaing di grup tengah.

"Mulai putaran kedua, saya berhasil cukup cepat, meski tidak secepat Marc. Saya bisa mempertahankan waktu antara 1’46” akhir dan 1’47” awal; itu adalah tempo di mana saya merasa nyaman dan yakin bisa mempertahankannya di Sprint. Di sesi kualifikasi, saya kehilangan sepersabtu detik di antara tikungan ketiga dan keempat, tapi secara keseluruhan berjalan baik," kata Pembalap Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia.

Penurunan drastis pada sesi Sprint sore hari memaksa kru mekanik mencari penyebab hilangnya akselerasi dan kecepatan puncak.

"Saya tidak merasakan sensasi yang sama dan, sayangnya, saya tertinggal. Sangat disayangkan karena saya cukup yakin bisa tampil lebih baik, bisa masuk 7 besar, dan bersaing di grup Aldeguer. Kita harus memahami apa yang terjadi; mungkin arah yang kita ambil pada sore hari itu tidak tepat. Saya tidak mendapatkan traksi, kehilangan akselerasi, dan juga kecepatan maksimum; saya tidak bisa mendekati pembalap di depan untuk mencoba menyerang mereka," kata Pembalap Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia.

Peningkatan suhu lintasan pada sore hari disinyalir memperparah masalah cengkeraman ban belakang dan stabilitas pengereman motor.

"Pagi ini kami cukup meningkatkan pengereman dan masuk tikungan, tapi saya masih kurang percaya diri dalam mengendalikan motor dan tidak memiliki cengkeraman di ban belakang. Itulah yang terus kurang dari saya dan ketika suhu meningkat, saya semakin merasakan masalah-masalah ini. Mungkin itulah," kata Pembalap Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed