Dokter Ingatkan Bahaya Kolesterol Tinggi Tanpa Gejala pada Fisik Bugar

Smallest Font
Largest Font
Table of Contents
[ Show ]

Praktisi kesehatan dan organisasi medis memperingatkan masyarakat mengenai bahaya kolesterol tinggi atau dislipidemia yang sering kali berkembang tanpa gejala khas dan memicu komplikasi fatal seperti serangan jantung serta stroke.

Kondisi medis ini dapat mengintai siapa saja tanpa memandang bentuk tubuh atau tingkat kebugaran fisik seseorang. Data Riset Kesehatan Dasar menorehkan prevalensi kolesterol tinggi di Indonesia mencapai 28,8 persen dari populasi dewasa, sedangkan estimasi nasional menunjukkan 3 dari 10 orang dewasa mengalaminya.

PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menyoroti fenomena penumpukan lemak visceral pada individu berberat badan normal. Kondisi tersebut dapat memicu resistensi insulin, peningkatan kadar kolesterol LDL, dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular hingga dua sampai tiga kali lipat, terutama pada populasi Asia.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah PERKI menjelaskan pentingnya melakukan pemeriksaan medis secara langsung untuk mengetahui kadar lipid di dalam darah.

"Satu-satunya cara mengetahui kadar kolesterol adalah melalui pemeriksaan darah. Karena itu, pemeriksaan profil lipid secara berkala sangat penting, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga penyakit jantung, diabetes, atau hipertensi," ujar Dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP.

Pedoman medis terbaru merekomendasikan penderita risiko kardiovaskular sangat tinggi untuk menekan kadar kolesterol LDL hingga di bawah 55 mg/dL atau turun minimal 50 persen dari angka awal.

Head of Brand and Marketing Daewoong menambahkan bahwa program edukasi digelar guna mengubah persepsi awam mengenai kondisi fisik ideal.

"Kami ingin meningkatkan kesadaran bahwa pemeriksaan kolesterol secara rutin dan penanganan yang tepat merupakan langkah penting untuk mencegah penyakit kardiovaskular sejak dini," katanya.

Selain orang bertubuh langsing, atlet dan pegiat olahraga juga tidak terbebas dari masalah gangguan profil lipid. Dalam diskusi podcast Seputar Jantung yang dipandu Dr. dr. Jajang Sinardja, SpJP(K), dipaparkan studi terhadap 1.050 atlet Olimpiade yang mencatat sekitar 32 persen di antaranya menderita dislipidemia.

Dokter spesialis jantung olahraga mengonfirmasi bahwa kebugaran fisik luar tidak menjamin kesehatan pembuluh darah.

"Kalau kita melihat seorang pelari atau seorang atlet, tampak secara badan bagus, tampak sehat, tampak fit. Tapi menariknya adalah tidak imun dari penyakit dislipidemia atau kita bilang kolesterol tinggi," ujar dr. Dwita Rian Desandri, SpJP(K).

Studi statistik tersebut membuktikan satu dari tiga atlet berpotensi memiliki kadar LDL melebihi batas normal.

"Dan didapatkan 32 persen itu menderita dislipidemia. Jadi satu dari tiga orang atlet itu berpotensi punya kolesterol tinggi," jelas dr. Dwita.

Dampak Komplikasi dan Penanganan Medis

Kadar kolesterol berlebih dapat membentuk plak aterosklerosis yang memicu penyumbatan, pembentukan bekuan darah, hingga risiko pecahnya pembuluh darah di otak. Seorang pasien lansia bernama D.TQ (71) dari Hanoi mengalami stroke berat hingga kelumpuhan akibat kadar kolesterol darah yang menyentuh angka 9,8 mmol/L tanpa gejala awal.

"Kadar kolesterol saya saat itu hampir dua kali lipat dari kadar normal, mencapai 9,8 mmol/L. Namun, saya belum pernah mengalami gejala yang tidak biasa sebelumnya, jadi saya tidak tahu bahwa saya memiliki kolesterol darah tinggi. Dokter menjelaskan bahwa kolesterol darah tinggi menyebabkan aterosklerosis, yang menyebabkan pembentukan bekuan darah, dan menyebabkan aneurisma dan pecahnya pembuluh darah di otak," ceritanya.

Spesialis medis menegaskan bahwa kolesterol pada dasarnya adalah zat lemak yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk hormon, vitamin D, dan membran sel. Bahaya utama muncul ketika kolesterol jahat (LDL) melampaui batas ideal 100 mg/dL.

Praktisi medis dr. Mufied meluruskan persepsi keliru masyarakat terkait penanganan dan pencegahan gangguan profil lipid.

"Kolesterol bukan musuh tubuh. Yang perlu diwaspadai adalah ketika kadar kolesterol jahat atau sering disebut LDL meningkat dan tidak terkontrol, karena dapat memicu penyempitan pembuluh darah hingga meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke," jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa faktor genetik, usia, kebiasaan merokok, serta konsumsi lemak jenuh dan lemak trans memegang peranan besar dalam peningkatan LDL.

"Orang dengan berat badan ideal pun tetap bisa mengalami kolesterol tinggi apabila pola hidupnya kurang sehat atau memiliki riwayat keluarga," ujarnya.

Banyak penderita baru menyadari kondisi ini setelah mengalami penyakit kritis karena sifatnya yang tanpa gejala.

"Karena itu, pemeriksaan kolesterol secara berkala sangat penting, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko," katanya.

Langkah pengendalian dapat dilakukan melalui olahraga teratur minimal 150 menit per minggu, diet tinggi serat larut, pengurangan lemak jenuh sebesar 5–6 persen, penggunaan sterol tanaman, hingga konsumsi obat statin sesuai resep dokter.

"Pengobatan bertujuan mengendalikan risiko jangka panjang. Karena itu, kepatuhan terhadap terapi dan perubahan gaya hidup harus berjalan beriringan," pungkasnya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed