Dokter PERKI Imbau Masyarakat Waspadai Penyakit Jantung dan Stroke

Smallest Font
Largest Font

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah PERKI memperingatkan masyarakat mengenai bahaya kadar kolesterol tinggi yang tidak terdeteksi dalam darah karena berisiko memicu stroke serta serangan jantung. Kondisi ini sering kali muncul tanpa gejala awal hingga memicu komplikasi fatal pada penderitanya.

Data kesehatan menunjukkan sekitar tiga dari sepuluh orang dewasa di Indonesia memiliki kadar kolesterol tinggi. Kurangnya gejala awal membuat pemeriksaan rutin menjadi krusial guna mengantisipasi penyempitan pembuluh darah.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah PERKI, dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, menjelaskan bahwa bentuk tubuh yang langsing tidak menjamin seseorang terbebas dari ancaman kolesterol tinggi akibat keberadaan lemak visceral.

"Tubuh langsing tidak selalu identik dengan kadar kolesterol yang sehat. Pemeriksaan darah adalah satu-satunya cara mengetahui kadar kolesterol," ujar dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah PERKI.

Ia menambahkan pedoman medis terbaru menyarankan penurunan kadar LDL hingga di bawah 55 mg/dL bagi pasien yang memiliki risiko kardiovaskular tinggi demi menekan potensi serangan jantung dan stroke.

Sementara itu, dokter spesialis kedokteran olahraga dr. Dwita Rian Desandri, SpJP(K), menegaskan bahwa atlet maupun orang yang aktif berolahraga tetap memiliki risiko mengalami dislipidemia.

"Satu dari tiga atlet Olimpiade mengalami dislipidemia," kata dr. Dwita Rian Desandri, SpJP(K), merujuk pada hasil studi yang melibatkan 1.050 atlet.

Penampilan fisik yang bugar tidak menjadi jaminan profil lipid seseorang berada dalam kondisi normal, sehingga pemeriksaan kesehatan berkala tetap dibutuhkan.

Di sisi lain, dr. Mufied menyampaikan bahwa tubuh tetap membutuhkan kolesterol, namun kadar LDL tinggi yang tidak terkontrol akan memicu penyempitan pembuluh darah.

"Orang dengan berat badan ideal tetap bisa mengalami kolesterol tinggi jika pola hidupnya kurang sehat atau memiliki riwayat keluarga," ujar dr. Mufied.

Ia juga meluruskan anggapan bahwa seluruh makanan berkolesterol harus dihindari, sebab hal terpenting adalah membatasi asupan lemak jenuh serta lemak trans.

Untuk mengendalikan kadar kolesterol, dr. Mufied menyarankan penerapan pola hidup sehat seperti mengonsumsi buah dan sayur, berolahraga secara teratur, menjaga berat badan ideal, serta berhenti merokok.

Berdasarkan publikasi NETIZ, terdapat tujuh langkah medis untuk menurunkan kolesterol, meliputi pengaturan pola makan rendah lemak jenuh, penambahan serat larut, olahraga minimal 150 menit per minggu, pengelolaan berat badan, penghentian kebiasaan merokok, konsumsi sterol tanaman, hingga terapi obat. Pemeriksaan berkala dianjurkan setiap 4 sampai 6 bulan sekali.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed