Banjir Bandang Gletser Himalaya Ancam Jutaan Jiwa di Hilir Pegunungan
Ancaman bencana makin tak terprediksi bagi jutaan pemukim di kawasan hilir akibat gelombang banjir dahsyat di perbatasan Nepal-China pekan ini, seperti dilansir dari Detik iNET.
Kenaikan suhu global secara pasti mengubah kondisi pegunungan. Proses ini mencairkan gletser sekaligus merusak kestabilan lereng hingga memicu rentetan bencana kompleks.
Analis di ICIMOD, Prashant Baral, memberikan konfirmasi mengenai skala ancaman tersebut. "Namun yang terjadi Rabu lalu skalanya jauh melebih ekspektasi," ujar Prashant Baral.
Berdasarkan analisis citra satelit, patahan gletser raksasa selebar 600 meter di Gunung Langtang Lirung menjadi pemicu utama. Runtuhan itu meluncur sedalam 2.100 meter membawa material es, air, sedimen, serta batu besar.
Aliran deras tersebut menerjang ngarai sempit dan merusak rumah, jembatan, jalan, hingga pembangkit listrik. Peristiwa ini merenggut ratusan korban jiwa dan menyebabkan ratusan orang hilang.
Pakar geologi dari University of Calgary Kanada, Dan Shugar, turut memberikan analisis terkait fenomena ini. "Terlepas apakah peristiwa spesifik ini terkait langsung perubahan iklim atau tidak, hal seperti inilah yang sudah kami perkirakan. Ini wujud nyata perubahan iklim," kata Dan Shugar.
Laju pencairan gletser di kawasan Hindu Kush Himalaya berlipat ganda sejak tahun 2000. Kondisi ini membuat struktur permafrost—campuran tanah, batu, dan es yang melepaskan pegunungan—melunak dan kehilangan daya rekat.
Ahli geografi fisik dari Keele University Inggris, Richard Waller, menerangkan peran penting elemen pembentuk pegunungan tersebut. "Anggaplah gunung-gunung tinggi sebagai batuan dasar yang retak-retak, namun direkatkan celah-celah terisi es," tutur Richard Waller.
Ancaman lain muncul dari meluapnya danau gletser. Pada Juli tahun lalu, limpasan danau gletser menewaskan sedikitnya 11 orang di Nepal akibat tumpahan air yang menerjang lereng curam.
Selain pencairan es, intensitas hujan ekstrem di pegunungan kini lebih sering turun dalam bentuk air hujan ketimbang salju, sehingga mempercepat erosi dan potensi longsor.
Ahli geologi dari Nepal Centre for Disaster Management, Bishal Upreti, menyampaikan keprihatinannya. "Ada banyak gletser menggantung di atas kepala kita dan bisa pecah kapan saja. Jika terjadi, rasanya seperti ada tsunami dari langit," kata Bishal Upreti.
Risiko bencana ini melingkupi kawasan pegunungan es dunia, mulai dari Alpen hingga Andes. Di Amerika Serikat, luapan danau Suicide Basin akibat pencairan Gletser Mendenhall rutin menerjang Kota Juneau, sementara desa Blatten di Swiss sempat tertimbun jutaan ton es dan batu tahun lalu.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow