Banjir Bandang Nepal-Tibet Rusak PLTA dan Telan Ribuan Korban Jiwa
Banjir bandang dahsyat dan aliran debris akibat keruntuhan massa es serta batuan gletser di kawasan Langtang, perbatasan Nepal-Tiongkok, menewaskan sedikitnya 1.344 orang di Nepal dan 31 orang di wilayah Tibet hingga awal September 2026.
Bencana yang bermula sejak 26 Agustus 2026 tersebut memicu banjir lumpur sepanjang hampir 100 kilometer di koridor Sungai Bhote Koshi hingga Trishuli. Selain merenggut nyawa, otoritas setempat mencatat 4.887 orang di Nepal dan 531 orang di Tibet masih dinyatakan hilang. Material longsoran gletser juga menghantam fasilitas infrastruktur, termasuk merusak tujuh proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan kapasitas total 431,1 MW.
Getaran awal dari runtuhnya gletser di ketinggian sekitar 17.060 kaki tersebut sempat dikira gempa bumi tektonik karena menghasilkan sinyal seismik setara 5,2 magnitudo. Namun, United States Geological Survey (USGS) mengonfirmasi bahwa Getaran itu murni dipicu oleh longsoran es, batu, dan lumpur raksasa yang masuk ke anak sungai Lhende Khola. Peningkatan suhu akibat perubahan iklim dan curah hujan tinggi dinilai menjadi pemicu utama ketidakstabilan lereng gletser tersebut.
Di tengah kehancuran infrastruktur PLTA, tim SAR gabungan berhasil menyelamatkan dua pekerja yang terjebak selama sembilan hari di terowongan PLTA Upper Trishuli 34 pada Jumat, 4 September 2026. Kedua korban selamat diidentifikasi sebagai mandor mekanik Sanjay Sah dan pengawas mekanik Kabir Maharjan.
Proses evakuasi yang rumit memerlukan bantuan tim ahli melalui grup WhatsApp serta penggunaan bahan peledak untuk menembus material longsoran yang menimbun pintu terowongan.
Seorang pejabat militer setempat memberikan keterangan terkait kondisi fisik salah satu penyintas saat diperiksa di tenda darurat.
"Namanya Sanjay Sah dan dia bekerja di ruang kendali mekanik. Parameter vitalnya tampak normal," kata seorang pejabat militer setempat.
Petugas medis menyatakan Sah tidak mengalami cedera kritis, sedangkan Maharjan mengalami kelumpuhan sementara pada tangan dan kakinya sebelum keduanya diterbangkan ke rumah sakit di Kathmandu.
Pakar pembangunan terowongan dari International Tunnelling and Underground Space Association, Arnold Dix, yang memandu operasi perintasan terowongan menjelaskan besarnya tingkat kesulitan tim di lapangan.
"Ibarat lapisan demi lapisan keajaiban," kata Dix.
Ia menyoroti hambatan awal berupa hilangnya titik lokasi stasiun akibat tertimbun material longsor.
"Saya belum pernah mengetahui operasi penyelamatan yang mengharuskan kami mencari pintu masuk terowongan yang sebelumnya berada di lereng bukit, tetapi kini berada di bawah tanah. Anda bisa membayangkan besarnya longsoran itu, yang sepenuhnya menimbun pintu masuk," kata Dix.
Lebih lanjut, Dix menerangkan bahaya dari penggunaan bahan peledak yang terpaksa dilakukan untuk menghancurkan batu-batu raksasa di dalam terowongan.
"Kami harus menggunakan bahan peledak yang biasanya tidak pernah kami lakukan karena risiko meledakkan orang-orang [yang terjebak di dalam terowongan] dan juga membahayakan diri kami sendiri," kata Dix.
Di sisi lain, di tengah bergulirnya masa tanggap darurat, marak beredar unggahan foto manipulasi kecerdasan buatan (AI) di media sosial Facebook dan Instagram yang mengklaim menampilkan kondisi sebelum dan sesudah banjir di Nepal. Penelusuran fakta Tirto, AFP Fact Check, dan verifikasi alat OpenAI menemukan bahwa gambar perumahan warna-warni yang hancur tersebut merupakan hasil rekayasa AI dengan tingkat probabilitas 98,6 persen dan tidak sesuai dengan citra satelit asli wilayah Timure. Operasi pencarian korban hilang di sepanjang aliran sungai serta rehabilitasi fasilitas publik masih terus berlanjut.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow